Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#21


__ADS_3

Johani membalikkan tubuhnya. dahinya mengerut. Tak berapa lama kemudian ia tersenyum. Ia ingat air botol kemasan yang telah di doakan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Setidak-tidaknya ia merasa masih punya sesuatu sebagai senjata jika Adinullah hendak berbuat kasar lagi kepadanya.


Johani mulai bergegas mencarinya. Seingatnya, tadi malam ia meletakkannya di bawah kolong tempat tidur, tepat di samping kepalanya terbaring. Ia harus segera mencari dan menemukannya.


Suasana di dalam pondok yang gelap, membuatnya harus merabanya. Mata Johani bergerak kesana kemari. Sejauh tangannya meraba, tak ada satupun benda yang disentuhnya. Karna penasaran, Johani keluar dan berlari ke arah dapur yang hanya disekat pagar dari kamar tidurnya. Ia langsung menyambar korek api dekat tungku. Ketika ia hendak kembali ke dalam kamar tidur, ia dikagetkan oleh suara air yang mulai mendidih. Ia jadi bingung harus mengerjakan yang mana. Ia menoleh ke sana kemari. Ia berharap Adinullah masih asik dengan pembicaraannya dengan pak Satri. Dengan begitu ia masih punya waktu untuk mencari botol air itu.


Johani memutuskan untuk mengangkat kendi pemasak air lalu menyeduhkannya ke dalam dua gelas di depannya. Setelah selesai, ia kembali masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan pencariannya.


Suasana mulai terang di bawah kolong ketika Johani menyalakan pematik api. Tak ada apapun di bawah sana. Hanya debu tebal bercampur sarang laba-laba yang telah menghitam, membuat telapak tangan dan sebagian lengan Johani kotor.


"Johani!"

__ADS_1


Aduh!


Johani memegang kepalanya saat kepalanya terantuk sisi tempat tidur. Panggilan Adinullah yang tak disangka-sangkanya mengagetkannya. Dia terus mengusap-usap kepalanya agar rasa sakit di kepalanya lekas menghilang.


Johani segera bangkit dan berlari ke arah dapur. Ia segera mengambil sendok dan mulai mengaduk-aduk bergantian kopi dalam dua gelas itu. Sejenak ia mencoba menenangkan dirinya dengan memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Doa yang diajarkan Tuan Guru Alamsyah Hasbi mulai dibacanya juga.


Dengan tangan sedikit bergetar, Johani melangkah menuju tempat dimana Adinullah dan pak Satri duduk. Johani menundukkan pandangannya ke arah kedua gelas dalam wadah di tangannya ketika melihat, baik Adinullah dan pak Satri menatap ke arahnya. Dari sekilas yang ia lihat, ia yakin keduanya baru saja membicarakannya.


Johani membalikkan tubuhnya pelan dan melangkah pelan menuju pondok. Hingga sampai di dalam pondok, Adinullah tidak berbicara apapun. Sesampainya di dalam pondok, ia langsung mengintip di balik celah-celah pagar. Pandangan Adinullah tertuju ke arah pondok, bahkan seperti tepat ke arahnya mengintip. Johani segera menarik kepalanya dari pagar. Ia menghela nafas panjang. Jantungnya kembali berdegup. Setelah untuk beberapa lama berdiri terdiam, Ia memutuskan kembali masuk ke dalam kamar tidur dan duduk di atas tempat tidur.


"Baik, Pak Satri. Tugas Pak Satri saat ini adalah menceritakan apa yang telah dilihat Pak Satri hari ini. orang yang Pak Satri kenal saja. Seperti keluarga terdekat Pak Satri. Karna itu adalah tanggung jawab Pak Satri. Sebagaimana yang dikatakan dalam Al-qur'an; jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka," kata Adinullah menyitir ayat Al-qur'an di akhir pembicaraannya. Pak Satri menganggukkan kepalanya. Setelah menyeruput kopinya hingga habis, ia berpamitan pulang kepada Adinullah.

__ADS_1


"Aduh, kambing saya mana ya, Syeikh?" tanya pak Satri begitu sadar kambing yang digembalanya tidak ada di sekitar pondok Adinullah. Adinullah terdiam sejenak. Seperti sedang menerawang. Ia kemudian tersenyum.


"Pak Satri pulang saja. Kambing Pak Satri sudah kenyang semua dan sudah masuk ke dalam kandangnya," kata Adinullah. Pak Satri mengernyitkan dahinya heran.


"Kok bisa begitu, Syeikh?" tanya pak Satri.


"Jika kamu mempercayai kesaktian yang aku miliki, kamu tidak akan menanyakan pertanyaan sia-sia seperti itu. Pulanglah dan ajak istri dan keluarga dekatmu untuk bergabung ke dalam golonganku," kata Adinullah.


Pak Satri menganggukkan kepalanya. Ia pun segera berbalik dan meninggalkan tempat itu.


Adinullah tersenyum puas. Ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon bidara. Matanya menerawang jauh menembus lebatnya hutan. Apa yang di alaminya bersama Zabarjad kini hadir mengganggu pikiran. Kecantikan dan lekuk tubuh Zabarjad yang menggiurkan, membuatnya kembali terangsang. Sebentar lagi ia bisa bertemu dengan Zabarjad dan tentunya bergumul kembali di atas ranjang dengan kekuatan penuh. Pak Satri adalah tiketnya menuju ke sana. Dia yakin, tak butuh waktu lama untuk menjadi benar-benar digdaya dengan pengaruhnya di kawasan itu.

__ADS_1


Adinullah bangkit. Tubuhnya tiba-tiba seperti ada yang menariknya untuk segera menuju ke bukit bako tinggi. Jas lusuh yang tergeletak di atas tanah kemudian diambilnya. Setelah memasangnya, ia segera melangkah keluar dari halaman pondoknya.


__ADS_2