Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#22


__ADS_3

Kabut terlihat mulai memenuhi permukaan pepohonan di sekitar bukit bako tinggi. Warnanya yang putih tebal dan terlihat berkelok-kelok, seperti selendang sutra raksasa dari kejauhan. Hawa dingin mulai terasa. Angin yang berhembus semilir dengan awan hitam yang menyelubungi langit, membuat orang-orang enggan keluar rumah. Hari sudah menjelang siang. Adinullah sudah tidak terlihat lagi di halaman rumah. Johani masih mondar-mandir di halaman pondok. Antara akan pergi ke ladang atau tetap berdiam di rumah, masih jadi pertimbangannya. Sabit, penutup kepala dan beberapa bibit cabe sudah ia siapkan untuk dibawa ke ladang. Tapi ia masih ragu untuk melangkah. Bukan karna mendung hitam yang mulai menguasai langit dan kemungkinan besar hujan akan turun dengan lebatnya. Tapi ia takut Adinullah sudah terlebih dahulu berada di ladang. Dengan sikap dan perubahan yang terjadi pada Adinullah pagi tadi, ia tidak begitu yakin akan bertegur sapa seperti biasanya dengan Adinullah di ladang.


Johani melangkah menuju bangku panjang di bawah pohon bidara. Ia benar-benar bingung. Apalagi jika mengingat akan kembali menghabiskan malam dengan penuh ketegangan bersama Adinullah. Ia merasa sudah tidak nyaman lagi di pondok itu. Keputusan terakhirnya mungkin ia harus pergi. Tapi ia malu dengan Tuan Guru Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dia malu menceritakan apa yang dilihatnya. Dari pembicaraan Adinullah tadi pagi dengan pak Satri, ia menyimpulkan bahwa Adinullah telah keluar dari ajaran agama dan telah sesat menyesatkan. Pak Satri adalah korban pertama. Ia yakin, akan ada banyak orang-orang seperti pak Satri yang akan terpengaruh keajaiban yang diperlihatkan Adinullah. Mengingat karakter penduduk di kawasan hutan itu yang mudah terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat mistis. Jika saja Adinullah memperlihatkan hal sama yang ia perlihatkan pada pak Satri, maka tidak mustahil, hari ini Adinullah akan mendapatkan banyak pengikut.


Johani mendesah panjang penuh keresahan. Ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Dia sama sekali tak punya daya untuk mencegah Adinullah.


Johani mendongakkan kepalanya. Tatapan nanarnya dilemparkan jauh ke arah langit yang gelap. Awal musim penghujan di tahun ini adalah awal yang menakutkan baginya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat ia dan Adinullah memulainya dengan perasaan senang. Tak ada lagi canda tawa mengawali pagi di bawah pohon bidara sambil menyeruput kopi panas. Sembari membicarakan apa yang harus ditanam di pematang ladang, tawa riang anak semata wayang mereka yang bergulingan di atas rumput, menambah keceriaan pagi mereka. Suaminya yang dulu seperti telah pergi jauh. Meninggalkannya sendiri di tengah kesunyian hutan.


Air mata Johani mengalir deras di pipinya. Ia sesenggukan sambil memanjatkan doa untuk Adinullah.


"Ya, Allah, selamatkan dan lindungi suamiku. Kembalikan dia ke jalan yang benar. Kembalikan suami hamba yang dulu, Ya Allah." Doa Johani penuh harap. Kegelisahan bercampur kesedihan terpancar jelas di raut wajahnya.


Johani mengusap air matanya. Ia menghela nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. Berharap hatinya tetap tabah menghadapi cobaan dalam rumah tangganya. Perlahan ia menyandarkan tubuhnya di batang pohon bidara.


Mengingat kembali apa yang dikatakan Adinullah tadi pagi, membuatnya kembali berpikir keras. Pilihan yang ditawarkan Adinullah terlalu berat untuk ia terima. Ia jelas lebih condong mengikuti Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tapi dengan ikrar itu, maka talak Adinullah telah jatuh. Dia sudah bukan lagi istri Adinullah. Dia tidak mungkin mengikuti perintah Adinullah yang jelas-jelas melanggar syariat.


Johani mendesah panjang. Dia tiba-tiba ingat anaknya yang ia titipkan di rumah tetangga. Uang belanja sebesar lima ribu rupiah yang ia titipkan mungkin sudah habis. Ia harus segera menjemputnya. Jika memang keadaan Adinullah tidak juga berubah, ia akan membawanya pulang ke desa. Dia tak mau anaknya melihat ayahnya dengan keadaan seperti itu. Pilihan terakhirnya, ia akan menitipkannya di pondok pesantren milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi.

__ADS_1


Johani mengangkat tubuhnya pelan dan berdiri. Setelah merenung sejenak, ia melangkah menuju pondok. Setelah memasukkan pakaiannya ke dalam buntilan sarung, ia segera keluar dan meninggalkan tempat itu.


* * * * *


Adinullah bersedekap dengan dada dibusungkan menatap ke arah puncak bukit bako tinggi ketika sampai di ladang. Setelah itu ia menatap ke sekelilingnya. Dia merasa harus mencari tempat lain yang jauh dari ladang milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dia harus membuka hutan untuk tempatnya menyebarkan ajarannya kepada pengikut-pengikutnya. Mulai hari ini, tidak ada lagi hubungan apapun dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi.


Adinullah mendesah panjang. Tatapan matanya tertumbuk ke arah samping bukit bako tinggi. Di belakang punggung bukit bako tinggi adalah salah satu tempat yang tersembunyi dan tepat untuk padepokannya. Tapi ia butuh banyak orang untuk menebang pohon dan semak-semak sebagai jalan masuk ke tempat itu. Dia tentu tidak bisa mengandalkan pak Satri seorang. Tak ada cara lain, ia harus menggunakan mukjizat yang ia miliki untuk mencari pengikut yang banyak.


Adinullah menganggukkan kepalanya. Ia tersenyum. Beberapa kilo dari ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi, ada tiga orang peladang yang menempati kawasan dekat hutan. Ia harus mendatangi mereka. Dia yakin, dengan keajaiban yang akan ia perlihatkan, ketiganya dapat dengan mudah ia pengaruhi.


* * * * *


Perlahan Adinullah membuka matanya. Ditatapnya satu persatu kelima anjing di sekelilingnya. Satu persatu setiap anjing yang di tatap Adinullah seketika berhenti menyalak dan berbaring di tempatnya masing-masing. Adinullah tersenyum. Satu persatu anjing itu di usapnya. Setelah itu, dengan langkah percaya diri ia memasuki halaman gubuk.


Tiga orang laki-laki penghuni gubuk terlihat keluar. Melihat cara berjalan Adinullah yang mendekat ke arah mereka, ketiganya terlihat tidak senang. Mereka masih berdiri di depan gubuk masing-masing sambil menunggu Adinullah lebih dekat.


"Ceguk, Ceguk!" Teriak seseorang dari ketiga laki-laki seperti sedang memanggil.

__ADS_1


Adinullah tersenyum. Ia menoleh sebentar ke belakang sebelum berhenti di tengah-tengah mereka.


"Kalian memanggil anjing-anjing kalian?" tanya Adinullah sembari menatap satu persatu ketiga laki-laki di depannya. Ketiganya menatap penuh selidik ke arah Adinullah.


"Sekarang, anjing-anjing itu tidak akan mematuhi kalian lagi. Anjing-anjing itu sekarang sepenuhnya tunduk kepadaku. Begitu pun dengan kalian,"kata Adinullah seraya tersenyum penuh percaya diri.


Salah satu dari laki-laki itu mendekat ke arah laki-laki yang berdiri di tengah.


"Bukankah dia itu adalah salah satu murid Tuan Guru Alamsyah Hasbi?" Bisiknya namun tatapannya tetap tak berpaling menatap Adinullah. Laki-laki yang dibisiki mengerutkan dahinya keras. Matanya memincing mencoba mengenali lebih lama wajah Adinullah.


"Sepertinya ya. Aku rasa ia memang murid Tuan Guru Alamsyah Hasbi," katanya beberapa lama kemudian. Dia lalu maju dan lebih dekat kepada Adinullah.


"Kami tahu kamu adalah murid dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Kami memang tidak begitu suka kepadanya, tapi kami tidak pernah berani memasuki kediamannya, apalagi tanpa ijin. Pekerjaan kami memang mencuri dan merampok, tapi kami tahu aturan. Kami tidak pernah merampok saudara-saudara kami yang ada di sini," kata laki-laki itu.


Laki-laki yang berdirinya agak berjauhan dari kedua temannya , ikut mendekat.


"Kalau kamu diutus Tuan Guru untuk mencegah kami, titip salam buat dia. Ini adalah urusan kami," kata laki-laki itu.

__ADS_1


Adinullah tersenyum.


__ADS_2