Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#14


__ADS_3

Malam datang begitu saja tanpa ada penanda, apalagi saat musim hujan seperti ini. Hanya sedikit perbedaan suasana yang gelap karna mendung dan derasnya hujan dengan suasana saat ini. Ditambah lagi dengan hutan yang mengepung dengan pepohonan besar menjulang tinggi. Tak ada suara Adzan. Hanya jam digital yang ada di dalam ponsel sebagai petunjuk. Itupun kalau ponsel sudah dicargher penuh di desa sebelah yang jaraknya sekitar 5 kilo. Johani biasa menitipkan hp nya di pak Mas'ud yang biasa bolak-balik mengantar hasil ladang ke desa. Biayanya sepuluh ribu sampai daya baterai penuh.


Johani mengambil tikar pandan lusuh yang tergeletak di bawah tempat tidur kemudian menggelarnya. Sebenarnya masih ada ruang tempatnya berbaring disamping Adinullah. Dua malam terakhir dia masih tidur bersama di atas tempat tidur itu. Tapi kali ini ia ragu. Perasaannya masih tidak enak melihat tatapan Adinullah yang kosong menatap ke arah langit-langit pondok yang dipenuhi sarang laba-laba.


Setelah membaca doa tidur, perlahan ia membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap tempat tidur. Kedua bibirnya terlihat masih komat-kamit membaca wirid. Hingga tak beberapa lama kemudian, kantuknya membawanya perlahan dalam tidur nyenyaknya.


Suara deras hujan makin terdengar keras di luar sana. Suara angin yang keras menghempas pepohonan begitu menakutkan. Seperti hendak mengangkat pondok-pondok kecil peladang yang terpisah jauh satu sama lainnya.


"Aaaadinullaaah..."


Adinullah melonjak bangun. Matanya bergerak dengan cepat kesana kemari mencoba menangkap suara menderu memanggil namanya.


Adinullah tersenyum. Suara panggilan kedua kalinya yang ditangkap telinganya langsung dikenalnya. Sarung yang menutupi sebagian tubuhnya di singkirkannya. Ia merengsek turun dari tempat tidurnya.


"Zabarjad, Istriku. Dimana kamu," panggil Adinullah. Tangannya bergerak kesana kemari seperti orang yang sedang meraba sesuatu.

__ADS_1


Sebuah cahaya merah tiba-tiba turun dari sela-sela atap pondok daun rumbai kering. Adinullah terdiam memperhatikan cahaya yang kini berada tepat di depan wajahnya.


"Ikuti cahaya itu, Adinullah. Ucapkanlah, Tidak ada Tuhan, tidak ada Tuhan, di sepanjang perjalananmu. Seekor gagak akan kamu jumpai beberapa langkah lagi. Jangan menoleh ke belakangmu. Dan jangan sekali-kali terbersit ingatanmu tentang apa saja terkait agamamu yang dulu, jika kamu mau kita bertemu di singgasanamu. Malam ini adalah malam pertama kita. Aku menunggumu, suamiku," kata suara yang muncul dengan mendesah dan sangat jelas terdengar di telinga Adinullah. Adinullah tersenyum lebar. Wajahnya terlihat girang. Ia berjingkrak-jingkrak kegirangan mengikuti cahaya merah yang mulai bergerak keluar pondok. Sambil melafalkan kalimat yang diajarkan suara itu, Adinullah terus berjalan mengikuti kemana arah cahaya merah itu bergerak.


Johani begitu pulas dalam tidurnya. Ia seperti terkena aji-aji pelelap tidur sehingga tak menyadari Adinullah telah pergi jauh meninggalkan pondok.


* * * * *


Adinullah menghentikan langkahnya ketika cahaya merah yang ia ikuti tiba-tiba hilang begitu saja di depannya. Suasana gelap dan hujan yang semakin deras membuatnya kebingungan. Tapi anehnya, pakaian yang dikenakannya, pun juga tubuhnya sama sekali tidak basah.


Gaaak!


Adinullah mendongakkan kepalanya ketika ada sesuatu yang menyentuh kepalanya. Adinullah terperangah ketika melihat seekor gagak hitam dengan ukuran sebesar sapi berdiri gagah di dekatnya. Paruhnya tajam sepanjang lengan tangan laki-laki dewasa. Kedua bola mata gagak itu berkilauan dalam gelapnya malam.


Gagak itu menurunkan tubuhnya lebih rendah ke tanah Dia lalu mengepakkan salah satu sayapnya yang berada di dekat Adinullah dan menjulurkannya ke kaki Adinullah. Posisi gagak itu kini dalam keadaan siap dinaiki Adinullah. Adinullah segera mengerti. Ia lebih mendekat dan perlahan menaiki punggung gagak itu.

__ADS_1


Gagak itu kembali berdiri tegak ketika Adinullah sudah berada di atas punggungnya. Gagak itu kemudian mengepakkan kedua sayapnya. Suara kepakannya seperti suara roter helikopter yang mulai berputar semakin cepat. Adinullah merasakan posisinya kini semakin tinggi, bahkan lebih tinggi dari pepohonan yang menjulang tinggi. Ia mempererat pegangan tangannya di leher gagak. Gagak itu melesat dengan cepat menuju ke arah puncak bukit bako tinggi. Kepakkan kedua sayap menciptakan suara yang menakutkan, serta pusaran angin di puncak pepohonan. Bako tinggi yang sering dilihatnya tak seberapa tinggi kini pucuknya seperti bersembunyi di balik awan.


Burung gagak itu perlahan turun dan kepakan sayapnya semakin melambat. Di dahan sebuah pohon besar yang batangnya tak terlihat sebab kabut tebal, ia bertengger. Kepalanya menoleh kesana kemari. Perlahan awan dan kabut yang menelingkupi ruang di bawah sana tersibak. Adinullah kini menyaksikan cahaya benderang seperti kota di bawah sana. Salah satu bangunan besar nan megah terlihat berdiri kokoh di puncak bukit. Sesekali bangunan itu akan hilang dari pandangan mata ketika kabut tebal menghalangi. Di kiri kanan bangunan, berdiri dua menara yang menjulang tinggi melewati tinggi bangunan. Adinullah mengira gagak itu akan membawanya ke bangunan besar itu, tapi gagak itu masih bertengger di dahan pohon. Angin yang bertiup kencang memaksa Adinullah mencengkram kuat bulu di leher gagak.


"Gaak!


Gagak itu kembali berteriak nyaring memecah hening di tempat itu. Adinullah mendesah sembari memperhatikan suasana di bawah sana. Tak satupun terlihat sosok makhluk di bawah sana. Benar-benar sepi.


Gagak itu kembali menggerakkan kedua sayapnya. Adinullah bersiap-siap dengan segala kemungkinan, termasuk gagak itu akan menukik ke bawah. Melihat gelagatnya, memang akan menjurus kesana. Benar saja. Baru saja Adinullah hendak memperbaiki posisi duduknya, gagak itu mengangkat tubuhnya dan tanpa terduga meluncur cepat ke bawah.


Gagak itu menurunkan tubuhnya sesampainya dibawah. Setelah itu ia mengepakkan sayapnya dan terbang meninggalkan Adinullah sendirian.


Adinullah ternganga takjub ketika perlahan ia melihat ke arah bawahnya. Tempat kakinya memijak kini adalah lantai yang terbuat dari kaca bening sehingga ia seperti berada di atas langit, menyaksikan bagaimana lebatnya pohon-pohon di bawahnya. Adinullah menengok kesana kemari. Keningnya mengerut keras. Nun jauh di sana, ia seperti melihat cahaya obor di antara gelapnya malam. Itu pondoknya.


"Adinullah, suamiku." Terdengar panggilan lembut dari arah samping. Adinullah menoleh. Lututnya terasa lemah. Persendiannya bergetar ketika melihat perempuan berambut panjang dengan pakaian ala putri kerajaan jaman dahulu tersenyum ke arahnya. Bagian dadanya yang terbuka, memperlihat sepasang buah dada yang menyembul indah dengan kulit putih mulus , yang membuat air liur laki-laki yang melihatnya akan meleleh. Penampilannya begitu sempurna. Sangat berbeda dengan yang ia jumpai pada pertemuan pertamanya. Anting yang menjuntai indah di kedua telinganya dan mata kalung berlian yang melingakar di leher jenjangnya, serta Mahkota kecil di kepalanya berkilauan tertimpa cahaya terang di sekitarnya. Rambut panjangnya terurai bak sutra malam. Wangi tubuhnya semerbak melati. Tak ada kecantikan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya selain malam ini. Wanita itu benar-benar Ratunya para ratu. Adinullah tidak bisa berkata-kata. Ia diam membisu dengan mulut menganga takjub melihat pesona perempuan berambut panjang. Dia masih tak percaya bahwa perempuan di depannya itu adalah istrinya.

__ADS_1


" Zabarjad." Batin Adinullah.


Zabarjad melangkah mendekat. Tubuh Adinullah bergetar hebat. Kakinya seperti terbenam ke dalam. Zabarjad memegang tangan Adinullah dan menciumnya. Satu kecupan lembut di kening Adinullah membuat Adinullah rebah di tanah.


__ADS_2