
Johani bergegas menggendong Faiz setelah mengambilnya dari tetangga sebelah. Ia merasa harus menyembunyikan Faiz di tempat yang aman. Suara hatinya mengatakan, Adinullah akan mengambil Faiz darinya. Kali ini ia membawanya menuju rumah pak Mas'ud. Sebelum benar-benar sampai di rumah pak Mas'ud, pak Mas'ud yang baru saja mengendarai mobilnya keluar dari halaman rumahnya, memanggilnya. Johani bergegas. Sesekali ia menoleh ke arah belakang.
"Loh, ada apa bu Johani," tanya pak Mas'ud ketika melihat Johani seperti sedang dikejar seseorang. Nafasnya terdengar ngos-ngosan.
"Pak, saya titip Faiz ya. Tolong antarkan dia ke pesantren. Biar dia di sana dulu. Saya takut kalau dia di sini," kata Johani dengan wajah pucat ketakutan. Nada bicaranya bergetar.
"Memangnya ada apa, Bu,"tanya pak Mas'ud.
"Panjang ceritanya, pak Mas'ud. Tapi ini terkait bapaknya Faiz. Tolong kasih tahu Tuan Guru, bapaknya Faiz sudah sangat aneh. Suruh Tuan Guru kesini. Jangan sampai terlambat, pak Mas'ud," kata Johani. Tanpa berkata-kata lagi, Johani segera melangkah cepat menuju pintu samping mobil pak Mas'ud. Setelah membuka pintu, ia langsung mendudukkan Faiz di depan.
"Kamu nanti malam tidur sama kak Kamal ya? Besok, ibu akan menjenguk kamu," kata Johani sambil mencium berkali-kali pipi Faiz. Faiz yang memang sudah terbiasa tidur di rumah tetangga, menganggukkan kepalanya. Setelah memastikan Faiz baik-baik saja dititipkan di pesantren, ia menutup pintu mobil dan kembali menemui pak Mas'ud. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan logam dari ikatan sarungnya.
"Pak, ini uang buat belanja Faiz sementara dia di pondok. Titipkan sama bu Nyai," kata Johani sambil menggenggamkan uang di tangannya ke tangan pak Mas'ud.
"Bu Johani gak ikut?" tanya pak Mas'ud. Johani menoleh kesana kemari. Mengingat bagaimana keanehan yang diperbuat Adinullah pagi tadi, ia merasa saat ini jin yang merasuki Adinullah sedang mengawasinya.
"Saya menyusul nanti, pak Mas'ud. Ayo, Pak Mas'ud. Pak Mas'ud cepat berangkat," kata Johani memaksa pak Mas'ud segera menjalankan mobilnya. Melihat wajah Johani yang ketakutan seperti itu, pak Mas'ud ikut merasa takut. Bulu kuduknya tiba-tiba tegak berdiri. Berkali-kali ia terlihat bergidik. Ia segera menyalakan kembali mesin mobilnya. Mobil yang dikendarai pak Mas'ud perlahan mulai bergerak menyusuri jalan kecil menuju jalan setengah beraspal di depan sana.
Johani hanya bisa menatap sampai mobil itu hilang dari pandangannya. Johani mendesah panjang. Entah, apakah keputusannya tetap tinggal dan tidak ikut anaknya, adalah keputusan yang tepat atau tidak. Entah kenapa, ketika ia dihadapkan kepada kedua pilihan, antara meninggalkan gubuknya atau tetap diam, dia tiba-tiba memilih untuk tetap tinggal apapun resikonya. Yang penting saat ini Faiz berada di tempat yang aman. Dia berharap, Tuan Guru Alamsyah Hasbi segera menyambanginya.
__ADS_1
Johani mendesah panjang dan membalikkan tubuhnya. Setelah berpikir panjang dan menguatkan hatinya, Ia memutuskan kembali ke gubuknya.
Gerimis masih saja turun sejak beberapa jam yang lalu. Perkiraan hari ini hujan akan turun dengan lebatnya, ternyata tidak terjadi. Langit masih terlihat gelap. Suasana siang itu terlihat seperti suasana menjelang maghrib.
Johani mendesah lega. Ketika ia mengintip ke arah gubuknya di antara rimbunnya tanaman jarak, ia tak menemukan tanda-tanda bahwa Adinullah ada di sana. Jika memang Adinullah tidak ada di dalam, kemungkinannya dia saat ini belum pulang dari ladang.
Johani menghela nafas panjang. Ia memejamkan matanya dan mulai merafalkan amalan yang diberikan oleh Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Sembari membacanya, ia berusaha menghilangkan ketakutan dalam hatinya. Setelah merasa sedikit tenang, ia keluar dari rerimbunan tanaman jarak dan melangkah pelan menuju gubuknya.
* * * * *
Pak Mas'ud menghentikan mobilnya di depan gerbang kediaman Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah tiga jam lamanya melewati perjalanan di tengah lebatnya hujan. Dia terpaksa menunda perjalanannya ke kota karna harus mengantar Faiz terlebih ke pesantren Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Mengingat bagaimana ekspresi ketakutan dari wajah Johani, ia merasa perlu juga untuk bertemu terlebih dahulu dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Sebentar saja, biar kepalamu gak kena hujan. Biar gak sakit salesma," kata pak Mas'ud. Ia lalu membuka pintu mobil dan mengangkat Faiz keluar dari mobil. Setelah itu, ia segera berlarian masuk ke dalam halaman kediaman Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
Suasana di kediaman Tuan Guru Alamsyah Hasbi nampak sepi. Ia mendudukkan Faiz di gazebo depan halaman rumah. Seperti tak ada siapapun di dalam rumah. Di ruang tamu, yang memakai kaca transparan pun,tak terlihat santiwati seperti biasanya.
Pak Mas'ud menoleh ke arah Faiz yang nampak asik mempermainkan topi milik pak Mas'ud di lantai gazebo. Pak Mas'ud mendesah. Ia merasa kasihan melihat anak sekecil itu harus terpisah dari kedua orang tuanya. Nasib baik anak itu sudah terbiasa dititipkan di rumah tetangga. Mudah-mudahan saja, anak itu kerasan tinggal di pesantren. Harap pak Mas'ud.
"Siapa di sana?"
__ADS_1
Pak Mas'ud menoleh. Ia bangkit . Ia tersenyum sembari mengangkat kedua tangannya memberi hormat, ketika melihat Tuan Guru Alamsyah Hasbi berdiri di balkon rumah. Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang hanya memakai kaos oblong putih tanpa kopiah, mencoba melihat dengan seksama orang yang ada di bawahnya.
"Pak Mas'ud!" Panggil Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Enggeh. Assalamualaikum, Tuan Guru," kata pak Mas'ud memberi salam.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi terlihat berbalik. Sepertinya Tuan Guru Alamsyah Hasbi akan turun untuk menemaninya. Ia segera mendekat ke Faiz yang masih asik dengan mainan topinya.
"Faiz, Tuan Guru mau turun. Kamu duduknya bersila ya," kata pak Mas'ud sambil memperbaiki posisi duduk Faiz. Tak berapa lama kemudian, Tuan Guru Alamsyah Hasbi terlihat di teras bawah rumahnya.
"Okta, Nora, ayo, buat kopi dulu," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi setengah berteriak ke arah asrama putri yang ada di samping kediamannya. Dia kemudian turun dan berjingkrak-jingkrak menghindari genangan air menuju gazebo.
Begitu Tuan Guru Alamsyah Hasbi sampai di gazebo, pak Mas'ud langsung menyambut tangannya dan menciumnya bolak-bolak. Hujan masih turun dengan lebatnya.
"Kapan kesini, Pak Mas'ud. Kok gak bunyikan klakson dulu," tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi sembari naik ke atas gazebo. Pak Mas'ud tersenyum.
"Sudah, Tuan Guru. Tapi mungkin karna hujan terlalu lebat, klaksonnya gak kedengaran,"
"Ayo duduk,' kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi menyuruh pak Mas'ud duduk. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya dan mencari tempat duduk di depan Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
__ADS_1