
Suara kokok ayam hutan terdengar nyaring membelah hening hutan. Pak Satri memperhatikan jam di ponselnya. Sudah sepertiga malam. Sejak awal malam tadi, mereka berjibaku menyingkirkan semak-semak dan tanaman merambat di depan mereka. Mereka semua terlihat lelah. Dengan tangan dan seluruh tubuh penuh luka karna duri dari tanaman merambat dan pokok-pokok pohon kecil yang menutupi lantai hutan, mereka merasa sudah tidak mampu melanjutkan pekerjaan mereka. Mereka telah jauh masuk ke dalam hutan tanpa tahu apakah akan berakhir tepat di tempat Adinullah berada. Satu persatu mereka terlihat beristirahat melepas lelah. Ada yang bersandar di pohon, di atas dedaunan dan batang-batang kayu yang mereka babat. Bahkan ada yang seperti tak peduli tidur dan tidur tanpa alas di lantai hutan yang becek.Mereka meringkuk menghadapi dinginnya hawa di dalam hutan.
Dawam mendekat dan duduk di samping pak Satri yang bersandar di batang pohon. Dia meminta sebatang rokok yang dipegang pak Satri lalu menyulutnya. Terdengar dengkur dari arah sampingnya. Rupanya Mujahidin sudah terlelap.
"Bagaimana ini, Pak Satri. Kita tak mungkin memaksa teman-teman untuk kembali bekerja. Mereka sudah terlalu lelah. Tapi jika kita tidak melanjutkannya, kita akan terlambat satu malam atau mungkin juga dua tiga hari ke depan. Kita tidak tahu seberapa jauh lagi kita akan sampai di tempat Syeikh." Dawam mengambil senter yang tergeletak di depannya. Setelah menyalakannya, ia mengarahkannya ke arah belakang. Ke arah jalan yang baru mereka buat. Sudah jauh dan tak terlihat lagi tempat pertama mereka memulai jalan. Tapi di depan sana, semua masih tidak jelas. Hutan itu terlalu luas. Ia belum bisa memastikan seberapa jauh lagi mereka akan membuka hutan hingga sampai di pohon beringin tempat Adinullah berada.
Pak Satri tak menjawab. Ia masih terlihat asik mengeluarkan asap rokok kretek yang dihisapnya dari mulut dan hidungnya.
"Pak Satri? Pak Satri tidur?" kata Dawam ketika ia merasa pak Satri tidak juga merespon pertanyaannya. Pak Satri menoleh sejenak.Tubuhnya diturunkannya perlahan dengan posisi setengah berbaring. Kepalanya masih tegak bersandar di badan pohon.
"Kamu gak usah pikirkan itu. Mengenai keterlambatan itu, biar nanti aku yang ngomong sama Syeikh. Kalau besok jalan ini sudah tembus ke tempatnya Syeikh, aku yakin Syeikh tidak akan memarahi kita. Dawam mengangguk. Ia lalu mendekatkan tubuhnya ke tubuh pak Satri.
"Ngomong-ngomong, besok pak Satri mau minta apa sama Syeikh?" kata Dawam setengah berbisik di dekat telinga pak Satri. Pak Satri tersenyum. Tatapannya menerawang ke kegelapan batang-batang pohon. Menelusurinya hingga ke atas.
"Aku ingin kaya dulu, Dawam. Aku sudah lelah miskin. Aku mau buat rumah besar dan punya mobil tentunya,"kata pak Satri. Senyum puasnya terus tersungging. Ia menoleh ke arah Dawam.
"Kalau kamu mau minta apa?" kata pak Satri. Dawam menggaruk-garuk kepalanya. Keningnya mengerut dengan dua bola matanya yang bergerak kesana kemari, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ia mendesah pendek.
"Terlalu banyak, Pak Satri. Saya jadi bingung," jawab Dawam. Pak Satri tersenyum.
__ADS_1
"Minta satu dulu. Yang penting-penting saja."
Dawam terdiam.
"Emh...Aku ingin menikah, Pak Satri. Ssst...Jangan bilang siapa-siapa. Setua ini tidak ada satupun yang mau denganku. Padahal aku ingin sekali,"
"Aku yakin setelah ini kamu pasti bisa menikah. Sudah ada calon?"
"Yang mau saja gak ada apalagi ada calon." Dawam terdiam sejenak. Ia menoleh ke arah orang-orang yang terbaring dengan berbagai posisi di seklilingnya. Suara tepukan tangan mereka saat mengusir nyamuk-nyamuk yang menggigit sekujur tubuh mereka, sesekali terdengar ramai menghentak hening hutan.
"Diam-diam ya Pak. Punya saya gak bisa. Sudah mati," bisik Dawam. Mendengar itu, pak Satri spontan tertawa. Dawam yang kaget segera menutup mulut pak Satri dengan telapak tangannya. Ia menjadi panik dan takut teman-temannya mendengarkannya.
"Jangan khawatir, Dawam. Aku yakin masalahmu itu bisa diatasi oleh Syeikh. Kamu akan jadi laki-laki perkasa dan punya banyak istri," kata pak Satri setelah tawanya reda.
Dawam tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mudah-mudahan saja, Pak Satri.Jika itu terjadi, aku akan meletakkan bibit keturunanku pada semua perempuan yang aku jumpai," kata Dawam. Kata-kata pak Satri seolah-olah membuat keperkasaannya telah kembali pulih.
"Ya, Ya, ya..., sekarang, tidurlah. Besok kita akan melanjutkan pekerjaan kita. Semakin cepat bertemu Syeikh, maka semakin cepat keinginanmu itu terkabul," kata pak Satri. Dawam kemudian menselonjorkan kakinya. Rasa bahagia yang kini menyelimuti hatinya, seperti nyanyi merdu yang perlahan mulai membawanya ke alam mimpi.
__ADS_1
Pak Satri mematikan puntung rokoknya yang masih menyala. Tatapannya menerawang menembus kegelapan malam sembari senyum tak henti-henti terkulum dari bibir hitamnya. Sudah jam 4 dinihari. Sudah hampir subuh. Ada baiknya ia istrahat sejenak sambil menunggu pagi.
Suara kokok ayam kembali terdengar bersahut-sahutan sebagai penanda datangnya waktu subuh. Pak Makripudin yang telah mengambil air wudhu segera membangunkan pak Satri. Setelah melaksanakan shalat sunnah qobliyah subuh, pak Makripudin memulai memimpin shalat berjamaah.
Tak terasa, suasana di dalam hutan perlahan mulai terang. Kabut masih menguasai. Hawa dingin memaksa peladang yang tinggal di kawasan hutan mulai membuat perapian di depan pondok-pondok mereka.
Tiga gelas kopi panas dengan dua piring besi berisi ubi rebus terlihat hangat di depan perapian yang dibuat Johani. Pak Makripudin dan pak Satri yang baru saja selesai berzikir sehabis shalat subuh tadi langsung dipersilahkan Johani untuk duduk di depan perapian.
"Ayo, Pak, sarapan dulu. Mumpung ubinya masih panas. Nanti keburu dingin," kata Johani. Setelah keduanya duduk, Johani ikut duduk di dekat mereka.
"Habis ini, mungkin saya langsung pulang memberitahukan istri saya, Pak. Sekalian membawa sedikit barang-barang untuk tinggal sementara waktu di sini," kata pak Mas'ud setelah menyeruput kopi panasnya. Pak Makripudin mengangguk.
"Tapi jangan lama-lama ya Pak. Kita harus langsung bekerja membuat parit. Sebentar lagi hujan akan turun lagi," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud mengangguk.
"Ada sedikit bibit kacang tanah juga di rumah. Mungkin kita bisa menanamnya di sela-sela tanaman jagung. Biar nanti kalau Tuan Guru sesekali datang kesini, beliau bisa mencicipinya," kata pak Mas'ud.
"Boleh juga itu, Pak. Tuan Guru paling seneng ngopi sambil makan kacang goreng," sahut pak Makripudin.
"Mumpung masih belum hujan, saya pamit pulang dulu, Pak, Bu. Biar kembalinya cepat," kata pak Mas'ud setelah menghabiskan kopinya. Kunci mobil pick up yang ia gantung di sebuah ranting kayu jeliti dekat pondok ia ambil. Setelah memasang peci hitamnya dan berpamitan kepada pak Makripudin dan Johani, ia segera melangkah menuju mobil yang terparkir di samping pondok.
__ADS_1