
"Tuan Guru Alamsyah Hasbi pembohong. Ulama Su'. Jauhi dia!
Terdengar suara bergemuruh dari arah patung. Bersamaan dengan itu, patung itu tak lagi bergerak. Para pengikut Adinullah saling pandang memperlihatkan ketakjuban mereka.
Pak Makripudin menekan kuat paha pak Mas'ud ketika tubuh pak Mas'ud bergerak menampakkan kekagetannya. Suara riuh dari orang-orang terdengar mengusik suasana yang tadinya hening dan mencekam. Pak Mas'ud merasa dirinya dan pak Makripudin seperti dua butir pasir hitam di antara luasnya hamparan pasir putih. Apalagi ketika suara riuh saling berbisik itu berganti dengan tawa dan ucapan mengejek keduanya.
"Beruntunglah kita, saudara-saudara. Kita beruntung tak terpengaruh tipu daya Tuan Guru Alamsyah Hasbi," teriak pak Satri. Pak Makripudin hanya tersenyum. Dia masih terlihat tenang dan berusaha tak terpengaruh.
"Lihatlah! Lihat wajah orang sombong itu. Sebanyak apapun bukti kebenaran yang diperlihatkan Syeikh, orang itu tak akan pernah menerima kebenaran," tunjuk pak Satri ke arah pak Makripudin yang terlihat tenang menyedekapkan kedua tangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memalingkan wajahnya dari pak Satri.
Adinullah menepuk-nepuk tangannya. Perlahan suasana yang ramai dengan tawa dan pembicaraan satu sama lain mulai reda. Pandangan mereka kembali tertuju kepada Adinullah.
Adinulah kembali memejamkan matanya. Setelah beberapa lamanya ia terdiam. Ia mulai khusyu' membayangkan beberapa kitab yang sering dibaca Tuan Guru Alamsyah Hasbi dalam setiap majlisnya. Adinullah tersenyum. Kitab kuning beraksara Arab yang sering ia lihat tak berharakat, kini terlihat jelas di hadapannya. Lembaran demi lembaran kitab itu pun bisa membuka sendiri mengikuti perintah pikiran Adinullah.
Adinullah perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung diarahkan ke pak Makripudin dan pak Mas'ud. Terutama untuk pak Mas'ud, ia yakin sekali kali ini ia bisa mempengaruhi pak Mas'ud tanpa harus mengajaknya. Kali ini akan terpengaruh dengan keajaiban yang akan ia tampakkan.
"Baik, Pak Makripudin. Aku akan membacakan kitab yang sering dibacakan kepada kalian. Bukan berarti dengan ini aku mempercayai isinya. Aku hanya ingin memperlihatkan kemampuanku jika itu syarat yang kamu minta," kata Adinullah. Pak Makripudin tersenyum dan mengangkat tangannya mempersilahkan Adinullah untuk memulainya.
"Baik, aku memulai saja dengan kitab Ittikhoful Muhibbin halaman 24. Paraghraf terakhir ya, Pak," kata Adinullah sambil tersenyum ke arah pak Makripudin. Setelah itu ia mengangkat wajahnya ke atas. Ia mulai membaca beberapa kalimat berbahasa Arab dengan sangat fasih dan kemudian mengartikannyanya dengan sangat lancar. Pak Makripudin mendesah perlahan. Ia menundukkan wajahnya.
"Shalat itu adalah pensuci hati dari kotoran-kotoran dosa serta pembuka bagi pintu-pintu ghaib....."
Adinullah tersenyum puas melihat pak Makripudin menundukkan wajahnya.
"Apa kamu ingin membantahnya, Pak Makripudin?" kata Adinullah.
"Ya, Allah. Berilah keajaibanmu. Jangan sampai Adinullah menambah rusak pikiran-pikiran hamba-Mu yang lain," doa pak Makripudin dalam hatinya. Ia mendesah. Setelah menoleh ke arah pak Mas'ud yang sepertinya tertegun menatap Adinullah, ia kembali menepuk pelan paha pak Mas'ud. Ia kemudian mengangkat wajahnya.
"Kamu telah menyebut sendiri beberapa fungsi dari shalat, Pak Adin. Tapi kenapa kamu masih mengingkarinya?" tanya pak Makripudin. Adinullah tersenyum.
"Aku sudah bilang, aku membacanya bukan karna aku percaya. Aku hanya ingin membuktikan kepadamu bahwa aku juga bisa membaca kitab gundul tanpa harus belajar bertahun-tahun di pesantren." Adinullah menatap pak Makripudin lekat. Ia masih tersenyum mencemooh.
"Ok, atau aku lanjutkan lagi jika kamu masih tidak percaya," lanjut Adinullah. Ia kembali memejamkan matanya. Setelah ia membukanya kembali dan mendongakkan wajahnya.
"Sifatul qiyam waddukhuli fis sholati, itu ada di halaman 27, Pak Makripudin. Penjelasan tentang makna ta'awwudz ada di halaman 50. Dalam penjelasan hukum-hukum shalat ada di halaman 11 kitab fathul Qarib. Penjelasan tentang hukum-hukum faraid dan wasiat ada di halaman 14, tepatnya dalam syarahnya." Adinullah menghentikan kata-katanya dan mendesah panjang.
"Aku tak tak tahu bagaimana menjelaskannya kepadamu, Pak Makripudin. Seharusnya kamu membawa kitab-kitab itu agar kamu bisa mengetahui dengan pasti letak kalimat-kalimat yang telah aku bacakan tadi. Kamu tak layak mengujiku, Pak Makripudin. Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri," kata Adinullah. Pak Makripudin tersenyum ketus. Walaupun ia mulai merasa resah dan tak berkutik di hadapan Adinullah, ia tetap berusaha tetap tenang. Ia sadar saat ini bukanlah lawan dari Adinullah. Ia tak menyangka Adinullah benar-benar mampu melakukannya, terlepas itu semua adalah bantuan dari jin sekutunya.
Pak Makripudin menoleh ke arah pak Mas'ud. Ia menyentuh pundaknya mengajaknya berdiri.
"Berbahagialah dengan kemenanganmu yang sementara itu, Pak Adin. Jin yang saat ini menjadi sekutumu, suatu saat nanti akan berbalik menjadi musuhmu," kata pak Makripudin. Ia kemudian mengajak pak Mas'ud meninggalkan tempat itu.
"Aku mengundang Tuan Guru Alamsyah Hasbi untuk berdebat denganku kapanpun ia siap. Orang-orang harus tahu siapa sebenarnya yang layak menjadi pembimbing spritual," kata Adinulah setengah berteriak. Ia kemudian tertawa terbahak-bahak berkacak pinggang, diikuti tawa ramai dari pengikutnya.
Pak Makripudin tak menoleh. Pak Mas'ud yang ia suruh berjalan di depannya beberapa kali ia tegur ketika hendak menoleh ke arah Adinullah. Mereka terus berjalan hingga keluar jauh dari hutan.
Pak Mas'ud memelankan langkahnya dan berjalan sejajar dengan pak Makripudin. Melihat raut wajahnya, pak Makripudin tahu saat ini pak Mas'ud seperti masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai apa yang baru saja dilihatnya.
__ADS_1
"Jangan goyah, Pak Mas'ud. Na'udzubillah, jangan sampai keyakinanmu kalah. Pak Adin telah bersekutu dengan jin. Percayalah, yang hak pasti akan menang. Ini ujian buat hati kita," kata pak Makripudin mencoba mendahului pak Mas'ud yang sepertinya ingin bertanya kepadanya. Pak Makripudin tahu pak Mas'ud pasti akan bertanya tentang itu. Dan ia berharap, kata-katanya bisa meneguhkan kembali pendirian pak Mas'ud.
"Tapi kenapa pak Adin bisa tahu apa yang ada dalam pikiranku, Pak?" tanya pak Mas'ud dengan suara masih bergetar.
Pak Makripudin menghentikan langkahnya. Ia menatap lekat pak Mas'ud.
"Memangnya apa yang ada dalam pikiranmu, Pak Mas'ud?" tanya pak Makripudin penasaran.
"Saat aku terpikir agar pak Adin membahas kitab lain, dia langsung menyebut nama kitab lain. Apakah jin atau setan bisa mengetahui isi hati manusia?" tanya pak Mas'ud. Pak Makripudin tersenyum. Ia memegang pundak pak Mas'ud.
“Dalam shaheh Bukhari dikatakan bahwa setan itu mengalir di pembuluh darah manusia. Beberapa ulama berpendapat bahwa setan bisa mengetahui isi hati manusia." pak Makripudin mendesah dan menepuk pundak pak Mas'ud.
"Istighfar, Pak. Hadapkan kepala Bapak ke atas. Tahan nafas dan ucapkan "Allah" agar Pak Mas'ud terhindar dari keragu-raguan akibat bisikan setan yang terkutuk. Setelah itu, tanamkan di hati pak Mas'ud bahwa apa yang pak Mas'ud lihat tadi adalah kesesatan yang nyata," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya. Dia pun segera melakukan seperti apa yang diperintahkan pak Makripudin. Setelah itu, pak Makripudin mengajak pak Mas'ud melanjutkan perjalanan.
"Pak Makripudin, boleh aku bertanya?" kata pak Mas'ud sambil berjalan. Pak Makripudin menganggukkan kepalanya.
"Silahkan, Pak. Mudah-mudahan aku bisa menjawabnya. Jika tidak, kita akan menanyakannya nanti kepada Tuan Guru," kata pak Makripudin.
"Kenapa tadi Pak Makripudin menyuruhku mengangkat kepalaku ke atas sambil mengucapkan kalimat Allah? Apa ada manfaatnya?" tanya pak Mas'ud.
"Sebelum saya jawab, apakah Pak Mas'ud merasakan ada sesuatu yang berbeda?" tanya pak Makripudin. Pak Mas'ud menghentikan langkahnya. Ia terdiam sejenak. Ia kemudian mengangguk pelan.
"Perasaan yang tadi aku rasakan saat di dalam hutan, juga sesuatu yang terlintas buruk dalam pikiranku seketika hilang begitu saja. Aku mulai tenang," kata pak Mas'ud. Pak Makripudin tersenyum.
"Berhutang budilah aku atas ilmu yang aku dapatkan dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ini adalah ijazah dari Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthas. Segala kekhawatiran yang berasal dari bisikan setan akan terbakar oleh zikir itu seketika itu juga." Pak Makripudin mendesah panjang.
"Adapun hikmah mengangkat kepala ke atas, karna setan tidak mendatangi manusia dari arah atas, seperti yang dikatakan di dalam Al-qur'an surat Al-a'raf ayat 17," lanjut pak Makripudin. Ia menatap pak Mas'ud sejenak lalu memeluknya.
"Alhamdulillah. Bantu saya, Pak," kata pak Mas'ud.
"Minta bantuanlah kepada Allah. Perkuat iman kita di zaman yang telah rusak ini. Jika sebuah wadah telah penuh dengan air, maka tidak ada tempat untuk yang lain. Begitupun dengan hati. Jika hati telah dipenuhi dengan iman, maka tidak akan ada ruang bagi setan untuk memasukinya," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya. Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Pak Makripudin," kata pak Mas'ud sembari terus berjalan di samping pak Makripudin. Pak Makripudin terdiam sejenak. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah belakang. Ia kemudian menatap pak Mas'ud.
"Tuan Guru memang belum memerintahkan kita pulang. Tapi mudah-mudahan ini bukan sebuah pembangkangan kepada guru. Lebih baik kita pulang saja dan memberitahukan situasi ini kepada Tuan Guru. Kita tidak punya cukup ilmu untuk mengadapi pak Adin. Jangan sampai kelemahan kita ini hanya akan membuat pengikutnya bertambah banyak," kata pak Makripudin. Tangan pak Mas'ud disentuhnya dan mengajaknya melanjutkan perjalanan.
* * * * *
Gelap menghampar sepanjang perjalanan ketika mobil yang ditumpangi pak Makripudin dan pak Mas'ud melaju pelan di jalanan berkerikil. Setelah melalui musyawarah singkat terkait apa yang telah mereka saksikan di dalam hutan, mereka berdua sepakat pulang menemui Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Johani sendiri malam ini menginap di rumah bu Mukmin.
Tepat pukul 9 malam, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam, mereka berdua akhirnya sampai di kediaman Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang saat itu baru selesai memberikan pengajian umum untuk para santri segera mendekati gerbang ketika melihat pak Mas'ud dan pak Makripudin keluar dari mobil.
"Assalamulaikum, Tuan Guru," ucap pak Makripudin ketika Tuan Guru Alamsyah Hasbi membukakannya pintu gerbang.
"Wa alaikum salam, saya kira siapa tadi, Pak Makripudin," jawab Tuan Guru Alamsyah Hasbi saat pak Makripudin mencium tangannya. Ia masih berdiri di depan gerbang menunggu pak Mas'ud mendekatinya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi kemudian mengajak keduanya duduk di gazebo. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menepuk kedua tangannya ketika dua orang santriwati keluar dari asrama.
"Langsung ke dapur, buat kopi," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
__ADS_1
"Bagaimana, ada hal apa kok tiba-tiba kalian pulang. Ada masalah?" kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Makripudin menoleh ke arah pak Mas'ud. Pak Makripudin mendesah. Ia menundukkan kepalanya.
"Sebelumnya kami minta maaf, Tuan Guru. Kami pulang tanpa seijin Tuan Guru," kata pak Makripudin. Ia terdiam sejenak. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menatap keduanya.
"Terus, terus," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi ketika melihat pak Makripudin belum juga melanjutkan kata-katanya.
Pak Makripudin kembali mendesah.
"Kami mau melaporkan apa yang kami lihat terkait pak Adin, Tuan Guru." pak Makripudin kembali terdiam sejenak sembari menunggu Tuan Guru Alamsyah Hasbi menyulut rokoknya.
"Pak Adin sudah keterlaluan, Tuan Guru. Dia sudah mengajak pengikutnya menyembah patung," lanjut pak Makripudin. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menghempaskan perlahan asap di mulutnya. Ia menatap pak Makripudin sambil mengerutkan keningnya.
"Kalian sudah menemuinya?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Pak Adin mengundang kami, Tuan Guru. Sebelumnya kami pernah terlibat perdebatan dengan pak Adin. Saya mempertanyakan kemampuan pak Adin sampai bisa mengakui dirinya sebagai seorang mursyid. Dia mengundang kami untuk menyaksikan kemampuannya membaca kitab kuning." pak Makripudin menghentikan kata-katanya. Ia merasa terlalu panjang bercerita tanpa diminta Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Apakah pak Adin bisa baca kitab itu?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Sepertinya bisa, Tuan Guru. Dia menjelaskan lebih detail isi bab demi dari kitab Ittikhoful Muhibbin dan Fathul Qarib," lanjut pak Makripudin. Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum.
"Satu lagi, Tuan Guru. Pak Adin juga memperdengarkan kami bagaimana patung yang disembahnya berbicara yang tidak-tidak tentang Tuan Guru." pak Makripudin mengangkat wajahnya dan memberanikan diri melihat sejenak wajah Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Setelah itu ia kembali menunduk.
"Maaf, Tuan Guru. Kami takut pengaruh pak Adin semakin menyebar jika tidak segera dihentikan," lanjut pak Makripudin.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang. Ia mengangguk-angguk kecil. Kali ini dia yang terdiam lama dengan kepala dipalingkan ke samping. Raut muka Tuan Guru Alamsyah Hasbi berubah tidak tenang.
Dua orang santri putri terlihat mendekat membawa tiga gelas kopi. Setelah meletakkanya di depan ketiganya, mereka langsung pergi. Tuan Guru Alamsyah Hasbi mempersilahkan pak Mas'ud dan pak Makripudin meminum kopinya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menaikkan salah satu kakinya dan meletakkan kopiahnya di lututnya. Setelah menyeruput sekali kopinya, ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah pak Makripudin dan pak Mas'ud.
"Jangan sekali-kali terpengaruh dengan tipu daya setan, Pak Makripudin, pak Mas'ud. Jin diberikan kemampuan untuk melakukan apa saja. Tapi manusia yang beriman tetap lebih unggul dari mereka. Jika iman telah memenuhi hati kita, mereka tidak akan pernah berani mengusik kita." Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang. Ia menatap ke arah pak Mas'ud dan pak Makripudin.
"Untuk saat ini kita belum bisa berbuat apa-apa. Kita masih menunggu, " kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ia menyulut rokoknya dalam hingga hanya sedikit asap yang keluar dar mulut dan hidungnya.
"Saat ini ada kekuatan besar yang mendiami kawasan bukit Bako Tinggi. Kekuatan jahat dari jin-jin pengganggu, yang memang tujuannya ingin menyesatkan manusia." Tuan Guru Alamsyah Hasbi menautkan gerahamnya kuat. Keningnya mengerut keras disertai gelengan kepala. Seperti ada sesuatu yang menakutkan yang kini dilihatnya di depan matanya. Sesuatu yang tak bisa dilihat pak Makripudin dan pak Mas'ud.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengangkat kepalanya. Terdengar berkali-kali istighfar dari mulutnya. Ia kemudian tersenyum.
"Bersabarlah. Jika sudah waktunya, insya Allah semua bisa teratasi. Saat ini kita menunggu petunjuk dari Allah," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Mas'ud dan pak Makripudin mengangguk.
"Mohon petunjuk, Tuan Guru. Apa yang harus kami lakukan," kata pak Mas'ud.
"Kalian kembali ke ladang besok pagi. Tunggu sampai kita panen. Mudah-mudahan ada hasil dari jagung-jagung yang kita tanam untuk melanjutkan pembangunan asrama," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Maaf, Tuan Guru. Maksud pak Mas'ud, dengan keadaan seperti ini, apakah kami masih aman tinggal di ladang," kata pak Makripudin mempertegas.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum.
"Selama kalian tetap di batas ladang, mereka tidak akan berani macam-macam. Tetap berzikir dan ingat kepada Allah. Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
__ADS_1
"Amin," jawab keduanya serempak.
"Kalau begitu, mumpung kalian sudah di sini, kita akan ke rumah salah satu jamaah," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil bangkit dari duduknya. Pak Mas'ud dan pak Makripudin ikut bangkit. Setelah mengambil air wudhu', Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengajak keduanya berangkat.