Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
Part 4:


__ADS_3

"apakah ibu tadi yang mengurut kakiku? Amar berkata di dalam hatinya, seraya bangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangan ke pintu, Amar melihat pintu kamar masih tertutup dengan sempurna. Terus terang, Amar merasa penasaran melihat semua itu.


Amar kemudian bangun dari tidurnya, dia bangkit hendak memeriksa ibunya. Dia merasa penasaran dengan beberapa kejadian yang baru saja dialami terasa serba aneh baginya.


Amar berdiri kemudian berjalan sempurna mendekati pintu, dia lupa kalau kakinya tadi sakit dibawa berjalan. Amar membuka pintu kemudian menuju kamar ibunya, dia melihat ibunya masih tertidur lelap dengan nyenyak setelah seharian lelah membanting tulang.


'Aneh sekali, sepertinya ibu tidur sejak tadi. Tidak mungkin, ibu yang mengurut kakiku sedangkan beliau tertidur begitu nyenyak' Amar berpikir dalam hati, mencoba menganalisa sendiri.


Tiba-tiba secara tidak sengaja sudut Mata Amar seakan melihat sesuatu, dia seakan melihat sekelebatan bayangan melintas di belakangnya. seketika, Amar merasa bulu kuduknya berdiri, dia merasa seolah-olah ada yang mengawasinya.


'siapa yang berlari di belakangku? Amar bertanya di dalam hati, dia merasa kaget sekali.


Amar segera menoleh kebelakang, anehnya dia tidak menemukan siapapun dan apapun disana selain apa yang biasa dilihatnya setiap hari. Dia tertegun sesaat seraya mengernyitkan dahinya.


'mungkin itu hanya perasaanku saja' Amar berkata di dalam hati, mencoba menjawab pertanyaan yang muncul didalam hatinya.


Amar kembali masuk ke kamarnya dengan rasa heran yang terus menyelimuti hatinya. Dia duduk di tepian ranjang, dia larut dalam pemikiran dan berbagai pertanyaan yang sulit ditemukan jawabannya.


Amar merasa ada sesuatu yang aneh dari semenjak dia pulang tadi. Dia merasa seolah-ada yang membuntutinya tapi dia tidak tahu siapa. Kemudian, Amar kembali melanjutkan tidur yang yang tadi sempat terganggu.


'Amar bangun, hari sudah siang ibu mau berangkat ke ladang!" teriak ibu Amar membangunkan anaknya dari luar, Amar tidak mendengar suara ibunya karena masih terlelap tidur.

__ADS_1


Sekitar jam sembilan, Amar terjaga dari tidurnya. Dia bangun dan keluar dari kamarnya, Amar mendapati rumahnya sudah sepi. Dia tidak melihat keberadaan ibunya yang sudah tidak tampak di rumah. Sejurus kemudian, dia menatap ke arah jam dinding.


'pantas saja, sekarang sudah jam sembilan." Amar berkata di dalam hati, dia menyadari bahwa dia bangun kesiangan


'kenapa ibu tidak membangunkanku? Amar bertanya sendiri seraya berlalu ke kamar mandi. Amar segera mencuci muka sekalian tangan dan kakinya.


Saat meraba kakinya, Amar merasa ada suatu yang aneh di sana. Amar mengingat betul kemarin kakinya sakit sekali akibat jatuh terperosok ke dalam lubang galian bahkan kakinya membengkak hingga membiru. Tapi sekarang, dia merasa kakinya tidak sakit lagi bahkan bengkak di kakinya hilang sama sekali.


"lho kok bisa begini? Amar bertanya di dalam hati seraya menyentuh dan memukul-mukul kakinya, seakan tidak percaya. Benar saja, Amar tidak lagi merasa sakit.


'aneh, kenapa bisa begini? kemaren kakiku l sakit dan belum di obati, kenapa bisa sembuh sendiri, mustahil" Amar terus berkata sendiri di dalam hati, dia terus saja memikirkan keanehan demi keanehan yang dialaminya.


"tapi syukurlah sekarang kakiku sudah sembuh, itu artinya aku bisa kembali ke sana" Amar berkata sendiri seraya tersenyum senang, dia senang bisa kembali ke tepian sungai tempat dia bertemu dengan gadis misterius yang berhasil menarik perhatiannya.


Amar bergegas keluar kamar mandi dan mengeringkan air bekas cucian mukanya. Dia beranjak ke dapur untuk membuat segelas teh untuknya. Setelah selesai, Amar duduk menikmati secangkir Teh untuk memulai harinya.


Amar meminum pelan-pelan tehnya karena masih terasa panas.sambil menunggu tehnya berubah hangat, pikiran Amar kembali melayang mengingat wajah cantik dan senyuman manis yang kemaren dia temui.


Amar tersenyum sendiri tatkala membayangkan gadis itu, dia hanyut dalam lamunannya. Masih teringat jelas di benak Amar gadis itu tersenyum manis, seakan memberi isyarat kepada Amar untuk mendekati nya.


Amar merasa ada setitik kebahagian mulai muncul di hatinya. Selama ini, Amar merasa jarang ada gadis yang tersenyum kepadanya. Mereka enggan memberikan senyum kepada Amar walau hanya untuk sekedar menyapa.

__ADS_1


Selama ini, Amar merasa tidak dianggap ada karena dia bukanlah orang berada. Amar merasa tidak diacuhkan oleh mereka, walaupun dia selalu bersikap sopan dan wajahnya terbilang tampan. Dia merasa wajah tampannya tidak cukup untuk membuat orang lain untuk memandangnya.


Tapi gadis ini beda, dia tersenyum manis kepada Amar walaupun gadis itu tidak mengenalnya. Amar seperti mendapat secercah harapan untuk masa depannya. Dia berharap gadis itu mau menjadi pendamping hidupnya.


"aku akan kembali ketempat itu, aku akan berusaha mendapat hati dan cinta gadis misterius itu" Amar berkata sendiri penuh semangat, dia merasa semangat juang yang sempat hilang kembali bangkit di hatinya.


Sesaat kemudian Amar terbangun dari lamunannya, dia menoleh ke depan di mana dia meletakkan tehnya. Segera Amar mengambil cangkir dan membawa ke mulutnya. Dia segera menyeruput teh buatannya tapi sekarang dia merasa kecewa karena ternyata tehnya telah dingin.


'sial ternyata teh yang aku buat telah dingin tidak hangat lagi.' Amar mengumpat sendiri di dalam hati.


'pantas saja dingin, tidak terasa ternyata aku melamun hampir setengah jam' Amar berkata di dalam hati seraya melihat jarum jam hampir menunjuk jam sebelas. Amar segera menghabiskan teh dingin yang terasa tidak nikmat lagi.


Amar kemudian masuk ke dalam kamarnya , dia mengganti pakaian. Amar Mengganti dan memakai pakaian paling bagus yang dimilikinya. Dia kemudian menyisir rambutnya Serapi mungkin tidak lupa memoles bedak bayi kepunyaannya. Amar menatap wajahnya di cermin kelihatan tampan sempurna.


"apalagi yang kurang ya? Amar mematut diri, dia ingin terlihat sempurna ketika dia menemui gadis itu nanti.


'oh ya, aku ingat' Amar bergegas menuju lemari dan mengambil botol minyak wanginya. Dia menyemprotkan minyak wangi itu ke seluruh tubuhnya, mulai dari kepala hingga kakinya. sekarang, Amar sudah harum bahkan sangat harum karena hampir separuh minyak wangi disemprotkan ke tubuhnya.


"sekarang aku sudah siap menemuinya" Amar berkata kepada bayangannya sendiri yang ada didalam cermin. Dia melihat bayangannya itu tersenyum kepadanya, dia tidak menyadari dia juga tersenyum kepada bayangannya itu.


Amar bergegas keluar kamar dan memakai sepatu bagus miliknya, sekarang dia merasa penampilan benar benar sempurna. Dia melangkah dengan penuh semangat dan penuh keyakinan di dalam dirinya. Dia siap menemui masa depannya, tanpa sadar wanita yang akan ditemuinya itu siapa.

__ADS_1


__ADS_2