
Pagi-pagi sekali setelah menyantap sarapan berupa ubi bakar yang disuguhkan bu Mukmin, pak Makripudin mengajak pak Mas'ud untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang belum selesai, yaitu membuat saluran irigasi di sela-sela tanaman jagung. Sedangkan bu Mukmin dan Johani bertugas memeriksa tanaman-tanaman jagung yang sedang layu akibat tergenang air dan menggantinya dengan bibit sisa penanaman beberapa minggu yang lalu. Cuaca sudah terlihat mendung. Tahun ini curah hujan begitu tinggi dibandingkan musim penghujan sebelumnya. Jika tidak diperhatikan dengan baik, bisa dipastikan tanaman-tanaman jagung milik para peladang akan mati atau paling buruknya tidak akan bisa tumbuh dengan normal. Pak Makripudin menargetkan saluran irigasi akan selesai dua hari lagi. Itu jika dikerjakan bergotong royong. Rencananya, hari ini ia akan mengutus pak Mas'ud menemui Tuan Guru Alamsyah Hasbi untuk memberitahunya kondisi tanaman di ladang, sekaligus untuk meminta tambahan tenaga gotong royong pembuatan parit.
"Pak Mas'ud, mungkin dhuhur nanti kita istirahat dulu membuat parit. Biar bu Mukmin dan bu Johani tetap melanjutkan pekerjaannya menyisip tanaman jagung yang telah mati," kata pak Makripudin di sela-sela rehatnya di tempatnya bekerja.
"Memangnya kita mau kemana, Pak,"
"Hari ini kita akan menemui Adinullah. Pak Mas'ud mungkin sudah lupa. Dia menyuruh kita hari ini untuk menemuinya. Dia memperlihatkan kepada kita kemampuannya membaca kitab gundul,"
"Apa kita memang perlu ke sana, Pak,"
"Saya seblumnya memang sempat berpikir tidak perlu. Tapi saya hanya ingin tahu apa saja yang dilakukan pak Adin bersama pengikutnya di dalam hutan sana. Sekalian sebagai laporan kita nanti kepada Tuan Guru,"
"Pak Mas'ud, besok minta tolong Pak Mas'ud ke pesantren untuk menemui Tuan Guru. Beri pertimbangan Tuan Guru untuk memgganti tanaman jagung ini dengan tanaman kacang saja. Terlalu lemba. Saya ragu tanaman jagung ini bisa bertahan. Lihat saja, air tak henti-henti mengalir dari puncak Bako Tinggi,"
"Saya juga berpikir begitu, Pak. Mumpung masih ada waktu. Kalau Tuan Guru setuju, sekalian besok saya bisa pergi membeli bibit kacang tanah di kota,"
"Apapun kata Tuan Guru nanti, kita tetap membutuhkan tenaga banyak orang untuk membantu kita. Sampaikan juga masalah ini kepada Tuan Guru,"
__ADS_1
Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaannya setelah menghabiskan masing-masing sebatang rokok pilitan. Hingga ketika jam di tangan pak Makripudin telah menunjukkan pukul dua belas siang, ia mengajak pak Mas'ud, Johani dan bu Mukmin untuk beristirahat.
Mendung masih terlihat betah di langit Bako Tinggi. Setelah makan siang dan shalat dhuhur, pak Makripudin mengajak pak Mas'ud berangkat menuju hutan untuk menemui Adinullah.
"Mungin pak Adin sudah lupa dengan masalah itu, Pak. Lebih baik gak usah diladeni. Biar kita tunggu saja Tuan Guru. Hanya Tuan Guru yang bisa menghentikannya," kata Johani berusaha mencegah niat pak Makripudin menemui Adinullah. Pak Makripudin yang sedang memasang sabuk untuk mengencangkan gulungan sarung di pinggangnya hanya tersenyum. Peci lusuh yang dipakainya kemudian digantinga dengan topi pandan yang tergantung di tiang pondok.
"Saya di sini atas perintah Tuan Guru, Bu. Tidak hanya mengawasi ladang. Saya juga disuruh untuk mengawasi gerak-gerik dan apa saja yang dilakukan pak Adin. Mati pun saya tidak takut jika itu karna menjalankan perintah guru kita." pak Makripudin tersenyum. Ia menoleh ke arah pak Mas'ud. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya.
"Pak Adin tahu saya ini adalah orang dekat Tuan Guru. Dia akan berpikir panjang untuk melukai saya, apalagi membunuh. Dia tentu tak ingin tempat baru yang ia buka di dalam hutan akan porak poranda oleh jamaah Tuan Guru. Doakan saja kami semoga kami pulang dengan selamat," kata pak Makripudin sambil memasukkan sebuah parang di balik bajunya. Keduanya hanya bisa mendesah resah.
Pak Makripudin mengajak pak Mas'ud berhenti setelah sekitar setengah jam lamanya mereka berjalan. Jalan setapak menuju hutan di samping bukit bako tinggi terputus di tempat kini mereka berdiri. Hanya ada semak-semak dan pohon bidara yang rimbun menghadang di depan mereka.
Pak Makripudin mengeluarkan parang dari balik bajunya dan mulai memeriksa semak-semak di depannya.
Pak Makripudin menoleh ke arah pak Mas'ud. Dia lalu menunjuk ke arah semak-semak yang diapit dua pohon bidara.
__ADS_1
"Sepertinya, mereka lewat jalan ini, Pak. Ini bekas kaki mereka," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud mengangguk dan ikut mengeluarkan parang dari balik bajunya. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan sembari membersihkan semak-semak di depannya. Hingga beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat yang lapang.
Pak Makripudin mengajak pak Mas'ud berhenti sejenak. Ada suara-suara yang terdengar tak jauh di depan mereka. Ia yakin, itu adalah suara-suara orang-orang yang bersama Adinullah kemarin.
"Pak Mas'ud, kita duduk dulu. Mari kita baca ujud tunggal kita dulu. Semoga apapun niat jahat mereka kepada kita nantinya, akan dicegah oleh Allah swt," kata pak Makripudin. Pak Mas'ud menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian duduk bersila. Setelah untuk beberapa lamanya mereka khusyu' merafalkan doa, pak Makripudin mengajak pak Mas'ud melanjutkan perjalanan. Mereka berhenti saat sampai di depan pohon beringin.
""Adinullah! Keluarlah. Aku sudah ada di sini," teriak pak Makripudin. Suaranya menggema membelah hutan. Suasana hening. Suara-suara yang tadinya terdengar seperti hilang. Mata pak Makripudin awas melirik kesana kemari. Samar-samar ia mendengar suara langkah-langkah kaki seperti mendekat ke arahnya. Tak beberapa lama kemudian, beberapa orang laki-laki berwajah sangar muncul satu persatu dari balik pepohonan.
Pak Makripudin mengernyitkan dahinya ketika pak Satri terlihat muncul paling belakang dan mendekat ke arahnya.
"Mau apa kamu kesini, Makripudin. Jika kamu kesini tidak untuk mengikuti guru kami, saya sarankan kamu kembali. Kami tidak pernah punya masalah denganmu," kata pak Satri. Pak Makripudin tersenyum.
"Kita memang tidak punya masalah, Pak Satri. Saya hanya punya urusan dengan guru Pak Satri." Kembali pak Makripudin tersenyum, seperti sedang mencemooh pak Satri.
"Setahu saya, dulu Pak Satri adalah orang yang sangat mengagumi Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Saya tak menyangka Pak Satri akan ikut sesat seperti ini,"
"Jaga mulutmu, Makripudin. Tak ada apapun yang aku dapatkan dari Tuan Gurumu itu. Dia tak punya karomah apapun sebagai seorang ulama,"
__ADS_1
"Karomah apa yang ingin kamu lihat, Pak Satri. Hatimu yang tertutup membuatmu tak akan pernah bisa melihat karomah Tuan Guru," kata pak Makripudin.