Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
Part 13: Sumpah Orang Terzalimi


__ADS_3

"akhirnya selesai juga pekerjaanku," Amar berkata sendiri, dia memandang ke arah empang yang baru saja dikerjakannya.


Betapa puas hatinya, dia mampu menyelesaikan pekerjaan beberapa hari sebelum batas waktu yang di tentukan. Dia tersenyum membayangkan akan menerima gaji beserta bonus yang telah di janjikan oleh pak soni kepadanya.


Amar duduk di bawah sebuah pohon rindang yang ada di tepian empang. Dia memandang puas dengan hasil pekerjaannya, sebenarnya dia merasa ada yang aneh selama mengerjakan pekerjaannya.


Amar mampu mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaannya sebelum waktunya padahal dia bekerja cuma sendiri. Pekerjaan yang dilakukan Amar termasuk berat, karena harus di selesaikan dalam waktu yang sangat singkat jika ingin mendapatkan bonus.


Selain itu, Amar merasa tidak pernah merasa lelah setelah bekerja seharian. Dia merasa ada yang selalu setia menemaninya selama bekerja, bau wangi mawar yang menguar seakan memberikan kesegaran dan tenaga baginya.


Sore menjelang, Amar bersiap-siapa hendak membersihkan diri. Dia ingin segera menemui pak Soni untuk mengatakan kalau pekerjaan sudah selesai dikerjakannya.


'aku harus segera menemui pak Soni, semoga saja beliau langsung memberikan upahku.' Amar berkata dalam hati, dia merasa senang sekali.


Baru beberapa langkah berjalan, Amar melihat pak Soni sedang menuju ke arahnya. Amar melihat kedatangan pak Sony dengan senyum penuh pengharapan, dia akan segera menerima gaji.


"Amar bagaimana pekerjaan kamu?"


"alhamdulillah pak, pekerjaan saya berjalan tanpa hambatan dan saya sudah menyelesaikannya."


"jangan bercanda Amar, kamu tidak mungkin bisa menyelesaikannya secepat ini." Pak Sony tertawa merasa Amar hanya membual saja.


"kalau, bapak tidak percaya bapak boleh melihatnya sendiri."


Merasa tidak yakin dengan perkataan Amar, pak soni segera melihat empang yang di maksud. Betapa terkejut, dia melihat empang itu telah bersih dan siap untuk digunakan.


"Kamu melakukan sendiri, Mar?" pak Sony bertanya seraya menatap wajah Amar.


"iya pak. Apa bisa saya menerima gaji serta bonus yang bapak janjikan sore hari ini pak, saya ingin membelikan ibu saya sesuatu."


Amar berharap akan menerima gajinya secepatnya kalau bisa sore itu juga. dia ingin melihat ibunya tersenyum ketika menerima uang pemberiannya nanti.


Pak sony melihat pekerjaan yang yang begitu cepat selesai seketika timbul dalam hatinya untuk mengingkari janji.

__ADS_1


"baiklah Amar, saya akan memberikan gajimu sekarang." pak Amar segera merogoh saku dan mengeluarkan dompet dari dalamnya. Setelah mengambil uang, dia langsung menyerahkannya pada Amar.


Amar menerima uang yang di sosorkan oleh pak soni dan menghitungnya kembali. Amar merasa uang yang di berikan pak Soni itu kurang dari yang di janjikan.


"maaf pak Soni, uang yang bapak berikan kurang pak. Bukankah, bapak menjanjikan lebih besar dari ini."


"itu sudah banyak Amar, kamu bekerja beberapa hari saja. Kamu jangan banyak protes miskin saja belagu." Pak sony berkata dengan nada sinis, Amar merasa sakit hati mendengarkannya.


"bapak tidak bisa begini, janji adalah janji. bapak janganlah mengingkari janji yang bapak ucapkan sendiri."


"bapak sendiri yang berjanji memberikan gaji dan upah sebanyak itu, apa bapak mau meningkarinya?"


"sudahlah Amar, kamu terima saja jangan banyak protes.


"apa bapak mau makan hak orang miskin seperti saya, uang yang bapak berikan ini banyak sekali kurangnya. Jangankan bonus gaji saja kurang."


"kamu jangan banyak bicara Amar, sekarang kamu terima berapa yang saya berikan. Kamu harusnya bersyukur saya mau memberikan kamu pekerjaan, di luar sana banyak yang minta pekerjaan pada saya selain kamu." Pak Soni berkata dengan sombongnya seraya berlalu tanpa merasa bersalah, dia tidak peduli betapa sakitnya hati Amar ketika menerima perlakuan pak Soni


Amar tidak bisa berkata berbuat apa-apa, dia hanya bisa memandangi kepergian pak soni.


'semoga kamu mendapatkan ganjaran yang pantas kamu dapatkan.' seketika terucap sumpah di bibir Amar, hatinya sungguh sakit meberima perlakuan pak Soni.


Amar meninggalkan tempat itu dengan membawa jiwa yang terluka, dia tidak bisa mengikhlaskan semua perlakuan pak soni. Amar ingin rasanya membuat perhitungan dengan pak Soni tapi dia tidak mau berakibat buruk nantinya.


"tolong..........!"


Baru lima menit berjalan, Amar mendengarkan Amar mendengar teriakan minta tolong dari kejauhan. Dia berhenti sejenak dan mencoba menajamkan pendengarannya.


"tolong.....!"


Teriakan itu terdengar lagi, Amar mengedarkan pandangan tapi tidak terlihat siapapun. Dia mencoba mencari arah sumber suara itu, betapa terkejutnya ternyata dia melihat suatu pemandangan yang sangat memilukan.


Amar melihat pak Soni terjatuh ke dalam lobang pengalian sedalam 4 meter, beliau terlihat tersimpuh menahan sakit.

__ADS_1


"Amar tolong saya, saya tidak mampu berdiri."


Amar hanya mematung memandangi pak soni, tiada sedikitpun keinginan di hatinya untuk menolong. Amar malah tersenyum, senang sekali melihat orang yang telah menzaliminya itu celaka.


"bapak berharap saya akan menolong bapak, jangan pernah bermimpi. Bapak mengira saya akan merasa kasihan, sekarang rasakan balasan dari dosa yang bapak lakukan terhadap saya."


"Amar saya mohon, bantu saya keluar dari sini. Saya berjanji akan memberikan sisa gajimu, jika kamu mau membantu." pak Soni merintih meminta tolong, dia berharap Amar mau membantunya.


Pak soni merasa ketakutan karena hari sudah petang dan sebentar lagi malam menjelang. Dia semakin ketakutan ketika mengingat tempat itu sangat sepi karena dari pemukiman.


"maaf pak, saya tidak punya waktu untuk membantu orang yang tidak tahu terima kasih. Saya tidak tertarik lagi dengan janji yang bapak ucapkan karena bapak bukanlah orang yang bisa dipercayai."


"saya mohon Amar, bantulah saya keluar dari lubang ini. Sebentar lagi malam, saya takut sendirian di sini." pak soni merintih, memohon pada Amar agar mau membantunya.


Walau hati nuraninya merasa tersentuh tapi dia terlajur sakit hati. Dia tidak bisa menrima perlakuan orang yang baru saja menzaliminnya.


"maaf pak, saya mau pulang." Amar pegi meninggalkan Pak Soni yang masih terjerembab dalam lobang galian. Dia merasa tidak perlu membantu pria licik tidak tahu terima kasih itu.


"Amar saya mohon...!" Pak soni merintih, dia kehilangan harapan.


Amar terus berjalan menjauh, selama dalam perjalanan hatinya berkecamuk. Di satu sisi Amar merasa senang karena pak Soni mendapat ganjaran atas perlakuannya, tapi di sisi hati nuraninya merasa kasihan.


Setelah lama berjalan, Amar akhirnya sampai dihalaman rumahnya tapi dia merasa tidak tenang. Akhirnya hati nurani nya menang, Amar kemudian balik langkah kembali ke tempat pak soni.


Sesampai disana, Amar melihat pak soni masih merintih kesakitan. Dia segera melompat masuk ke dalam lobang galian, betapa senang hati pak Roni melihat kedatangan Amar.


"Amar, kamu kembali untuk membantu saya?" Pak sony tidak percaya dengan penglihatannya, seketika air matanya mengalir.


Amar sekuat tenaga mengeluarkan pak Soni, akhirnya dia berhasi mengeluarkan pak Soni dari lobang galian tempatnya jatuh.


"terima kasih Amar." pak sony


mengucapkan kata ajab itu, air matanya bercucuran. Dia menyesal karena telah menzalimi orang baik seperti Amar, sekarang orang yang di zaliminya itulah yang membantunya.

__ADS_1


__ADS_2