Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#18


__ADS_3

Sendawa besar dan keras terdengar dari mulut Adinullah setelah menghabiskan beberapa piring makanan di depannya. Ada sekitar sepuluh piring ukuran besar berisi beraneka makanan yang ia santap hingga habis. Walaupun begitu,ia masih merasa lapar. Selera makannya menjadi berlipat-lipat. Jika tidak karna tergiur lenggok tubuh Zabarjad yang seperti sengaja memancing birahinya, ia merasa masih mampu menghabiskan beberapa sisa makanan yang memenuhi meja makan.


Adinullah mendesah puas. Pelayanan yang tidak pernah ia dapatkan di dunianya membuatnya benar-benar membuatnya sebagai orang paling istimewa saat ini. Ia menoleh ke arah dayang-dayang yang ada di belakangnya. Tanpa diperintah, tiga orang dayang-dayang berparas cantik mendekat. Ketiganya langsung memerankan tugas masing-masing. Ada yang menuangkan minuman, ada yang membersihkan sisa makanan di mulut Adinullah dan ada yang menghidangkan buah segar sebagai makanan penutup. Adinullah tersenyum puas. Kesungguhannya selama ini menemukan jalan menuju Tuhan akhirnya berbalas kenikmatan yang berlimpah.


Adinullah melirik ke arah makanan mirip roti berbentuk bundar dan mengerucut ke atas yang terletak paling ujung di atas meja. Saat ini ia tidak punya waktu untuk menyantapnya. Zabarjad yang telah menunggunya di atas ranjang lebih menarik perhatiannya. Ketika para dayang-dayang yang lain mulai membersihkan sisa makanan dan wadah-wadah di atas meja makan, ia memerintahkan mereka untuk tidak membawa wadah berisi roti itu.


Adinullah kemudian bangkit. Empat orang dayang-dayang sigap melangkah mengawalnya menuju kamar tempat Zabarjad menunggu. Langkah Adinullah seperti langkah para raja. Gagah dengan sikap yang dibuat-buat.


Dayang-dayang yang mengawal Adinullah menghaturkan sembah kepada Zabarjad sebelum keluar dari ruangan. Zabarjad menyingkap sarung panjang berwarna hitam yang menutupi betis putihnya. Mata Adinullah terbelalak. Suara ludahnya yang ditelannya dalam-dalam terdengar melebihi sendawanya usai makan tadi. Darah dalam tubuhnya berdesir mengalir birahi yang tak tertahan ke seluruh urat-uratnya. Tubuhnya bergetar. Zabarjad tersenyum. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dengan posisi terlentang, salah satu kakinya menunjuk ke arah Adinullah. Memberi isyarat agar Adinullah mendekat. Tanpa berkata-kata lagi, Adinullah berlari dan meloncat ke atas ranjang dan menghempaskan diri di samping Zabarjad.


Deru nafas Adinullah menderu. Ia tak ubahnya seperti singa kelaparan yang baru saja mendapatkan mangsanya. Tangannya mulai kasar menarik helai demi helai kain yang menempel di tubuh Zabarjad. Zabarjad yang menggelinjang seperti menantang Adinullah untuk bertindak lebih ganas lagi, membuat Adinullah benar-benar tidak tahu harus memulai dari mana. Setiap lekuk tubuh Zabarjad seperti menusuk adrenalinnya. Darahnya seperti mendidih menahan birahi yang hendak meledak.

__ADS_1


Zabarjad telah dibuatnya nyaris tanpa busana. Hanya selembar kain tipis yang menutupi bagian dadanya. Adinullah kemudian melucuti satu persatu pakaian yang dikenakannya dengan cepat. Setelah itu ia mulai menindih tubuh Zabarjad.


Adinullah terdiam setelah beberapa lama dengan rakusnya menjilati seluruh tubuh Zabarjad tanpa sisa. Dipandanginya wajah Zabarjad dengan seksam. Sekilas tadi, ia seperti melihat wajah Dugug saat menikmati bagian dada Zabarjad. Adinullah mengusap-usap kedua matanya, ingin memastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah salah.


Zabarjad tersenyum sambil membusungkan dadanya. Itu membuat Adinullah lupa apa yang baru saja dipikirkannya. Ia kembali mencium acak kesana kemari tubuh Zabarjad. Kedua tangannya seperti bergerak sendiri menggerayangi setiap lekuk tubuh putih Zabarjad.


* * * * *


Erangan Adinullah keras menggema memenuhi ruangan. Tubuhnya lemas selemas-selemasnya dan terkapar di samping Zabarjad. Ia merasa baru saja melepaskan berliter-liter cairan ke dalam tubuh Zabarjad. Tak ada yang bisa membayangkan kenikmatan yang ia dapatkan selain dirinya sendiri. Ia hampir saja pingsan karna kenikmatan tiada tara ketika berhasil melepaskan ketegangan di dalam tubuhnya dan menghempaskannya ke dalam tubuh Zabarjad.


"Tunggu dulu. Aku hanya mengijinkanmu satu kali saja untuk hari ini. Tugasmu untuk mengajak orang-orang ke jalan kita belum selesai. Jika kamu menginginkanku lagi, aku akan memberikanmu dengan persembahan satu orang manusia untuk tuan kita, kata Zabarjad. Ia memegang dada Adinullah dan menyingkirkannya lembut dari tubuhnya. Adinullah tampak kecewa.

__ADS_1


"Aku tahu yang kamu rasakan, suamiku. Penghuni surga ini akan merasakan kekuatan bersenggama beberapa kali lipat dari yang dirasakan penduduk dunia. Lakukan tugasmu dan kita akan hidup abadi bersama. Jika waktunya sudah tiba, kamu akan diberi pakaian yang akan memutuskan hubungan dengan duniamu sebelumnya. Hari-hari kita akan kita habiskan dengan berbagai kenikmatan di atas ranjang ini." Zabarjad kemudian bangkit. Satu persatu pakaian yang bercecer di atas ranjang di raihnya dan menutupi kembali tubuhnya kecuali bagian atas dadanya. Ia tersenyum ke arah Adinulah yang masih menatapnya penuh kekecewaan.


"Ayo, bangunlah. Kamu harus segera kembali. Kudamu sudah menunggumu di luar," kata Zabarjad. Adinullah menggeleng.


"Tidak, aku tidak mau pulang. Aku ingin tetap di sini bersamamu," kata Adinullah keras. Zabarjad hanya tersenyum.


"Percuma, suamiku. Percuma. Sebab kamu tidak akan pernah melihatku di sini sekalipun kamu tetap di sini. Maharmu belum cukup untuk menjadikanku abadi di sisimu. Pulanglah dan tunaikan tuntas tugasmu. Kamu bisa kehilanganku untuk selama-lamanya jika tak kau penuhi tugasmu," kata Zabarjad. Ia lalu melangkah pelan menuju ke arah pintu.


Adinullah mendesah panjang. Sekalipun ia masih kecewa, ia terpaksa harus meninggalkan tempat itu. Dia tidak mau kehilangan Zabarjad. Dia harus mengalah dan melaksanakan apa yang dikatakan Zabarjad. Semakin cepat, maka semakin cepat juga ia kembali ke tempat itu dan bersama lagi dengan Zabarjad. Satu orang pengikut untuk satu kesempatan bersama. Adinullah mengangguk mantap. Itu mudah. Ada beberapa orang peladang yang ia yakini bisa ia pengaruhi dengan cepat. Apalagi dengan mukjizat dan keajaiban yang telah diberikan kepadanya.


Adinullah segera bangkit. Setelah memasang kembali pakaiannya, ia segera keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Adinullah menghentikan langkahnya ketika melihat makanan mirip roti yang ia suruh dayang-dayang meninggalkannya di atas meja makan sehabis makan tadi. Adinullah menoleh kesana kemari. Tak ada siapapun di dalam ruangan itu. Hanya terdengar gemericik air dan suara burung yang sesekali terdengar di luar sana.


Ia lalu melangkah menuju meja makan. Roti-roti itu kemudian diambilnya dan dimasukkannya ke dalam saku bajunya. Ia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju pintu.


__ADS_2