
Hujan mulai reda. Pak Makripudin melepas jas hujan yang dipakainya dan turun dari sepeda motornya. Jas hujan itu kemudian dilipatnya dan dimasukkannya ke dalam jok sepeda motornya.
Hanya ada seorang laki-laki yang terbaring di gazebo. Itu mungkin pak Mas'ud. Pak Makripudin mengeluarkan peci hitam dari balik bajunya dan memasangnya. Ia lalu melangkah menuju gazebo.
"Assalamualaikum."
Pak Mas'ud yang sedang tidur terlentang melonjak kaget. Ia menengok kesana kemari dan bangkit. Ia tersenyum sembari mengusap-usap matanya.
"Saya jadi kaget, Pak Makripudin. Kapan datang, Pak," kata pak Mas'ud sambil memundurkan tubuhnya dan bersandar di tiang gazebo.
"Baru saja, Pak Mas'ud. Begitu Pak Mas'ud menelpon saya dan memberitahukan kalau Tuan Guru memanggil saya, saya langsung kesini. Syukurlah hujan mulai reda," kata pak Makripudin. Setelah mengibas-ngibas sarungnya yang terkena air hujan, ia kemudian naik. Pak Mas'ud mengambil dua buah gelas kosong di sampingnya.
"Kita buat kopi ya Pak, biar lebih hangat," kata pak Mas'ud menawarkan. Pak Makripudin tersenyum.
"Boleh,"
Pak Makripudin menoleh ke arah rumah kediaman Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Terlihat sepi walau pintu terbuka lebar.
"Dari kapan Pak Mas'ud di sini?" tanya pak Makripudin sambil memperhatikan tangan pak Mas'ud yang mulai mengaduk kopi.
"Sekitar jam 10 tadi Pak," jawab pak Mas'ud.
"Wah, berarti lama sekali pak Mas'ud di sini. Memangnya ada urusan apa, Pak Mas'ud,"
"Sebenarnya gak ada urusan apa-apa, Pak. Saya rencananya mau ke kota mengambil sisa pupuk yang belum diambil. Tapi sebelum berangkat, bu Johani minta tolong agar anaknya dititipkan di pesantren. Karna hujan yang gak berhenti-berhenti, yah, terpaksa saya menunda urusan ke kota,"
__ADS_1
"Memangnya kenapa bu Johani menitipkan anaknya? Mau dipondokkan?"
"Gak, Pak. Ini ada kaitannya dengan pak Adin. Kata bu Johani sih, pak Adinnya tambah parah. Tambah sesat, Pak Makripudin,"
Tambah sesat? Tambah sesat bagaimana, pak Mas'ud,"
"Saya juga tidak tahu, Pak. Itu juga mungkin kenapa Tuan Guru memanggil pak Makripudin,"
"Terus, Tuan Guru mana?"
"Katanya mau istirahat sebentar sambil menunggu kedatangan pak Makripudin,"
"Kalau begitu, Pak Mas'ud gak boleh pulang dulu sampai Tuan Guru bangun. Nanti saya di sini gak ada teman ngobrol,"
"Saya masih menunggu perintah dari Tuan Guru, Pak Makripudin. Kalau Tuan Guru menyuruh nginep, ya, saya harus nginep,"kata pak Mas'ud.
Pak Makripudin langsung berdiri dan menyongsong kedatangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah Tuan Guru Alamsyah Hasbi hanya beberapa langkah dari gazebo. Ia langsung mencium tangannya. Pak Mas'ud sendiri langsung membersihkan karpet alas gazebo, tempat dimana Tuan Guru Alamsyah Hasbi biasa duduk.
"Sendiri, Pak Makripudin?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah duduk bersandar di tiang dazebo. Pak Makripudin tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam sakunya dan meletakkannya di depan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tuan Guru Alamsyah Hasbi langsung mengambil bungkus rokok dan membukanya. Tak beberapa lama kemudian, sebatang rokok telah disulutnya.
"Tambah satu lagi kopinya, pak Mas'ud," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi ke arah pak Mas'ud. Pak Mas'ud langsung membuatkan kopi untuk Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Begini,Pak Makripudin. Mau tidak mau, Pak Makripudin harus ke selatan malam ini bersama pak Mas'ud. Harus ada yang mengawasi Adinullah. Untuk sementara kamu tinggal dulu di ladang. Sekalian bantu Johani mengurus ladang," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Makripudin mengangguk.
"Apa yang harus saya lakukan jika saya bertemu dengan Adinullah, Tuan Guru," tanya pak Makripudin. Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum.
__ADS_1
"Pak Makripudin tahu apa yang harus dilakukan. Beri pencerahan pada masyarakat disana agar tidak sampai terpengaruh Adinullah," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Makripudin mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Usahakan jangan sampai Pak Makripudin terlibat adu fisik dengannya." Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang.
"Saat ini, Adinullah telah dikuasai salah satu putri jin yang mendiami bagian selatan bukit Bako Tinggi. Berhati-hatilah," lanjut Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Makripudin melirik ke arah pak Mas'ud. Pak Mas'ud yang dilirik ikut menundukkan kepalanya.
Pak Makripudin mendesah pelan. Sesekali ia tersenyum sendiri sambil menggaruk kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang hendak disampaikannya, tapi ia malu.
"Ada apa, Pak Makripudin? Ada masalah?" kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah melihat gelagat pak Makripudin. Pak Makripudin kembali tersenyum.
"Anu, Tuan Guru. Apa saya harus membawa sesuatu untuk menghadapi pak Adin?" kata pak Makripudin sambil melirik ke arah pak Mas'ud. Pak Mas'ud ikut tersenyum.
"Maksudnya?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengerutkan dahinya menatap pak Makripudin.
"Mungkin Pak Makripudinnya minta semacam jimat,Tuan Guru," sahut pak Mas'ud menundukkan kepalanya. Pak Makripudin tersipu malu. Apa yang dikatakan pak Mas'ud memang sesuatu yang ingin disampaikannya.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum. Kopi di tangannya diseruputnya pelan.
"Gak perlu, Pak Makripudin. Pak Makripudin cukup amalkan ujud tunggal saja. Insya Allah, semoga Allah melindungi kita dari kejahatan jin dan manusia," Tuan Guru Alamsyah Hasbi menunjuk ke arah dadanya. "Percaya bahwa tidak ada kekuatan apapun yang bisa mengalahkan Allah. Itu intinya. Adinullah tidak bisa mengganggumu," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
Pak Makripudin mengangguk mantap. Ketakutan di dalam hatinya perlahan sirna.
"Ada sekarung beras dan bahan-bahan dapur di dapur. Mumpung hujan sudah reda, kalian naikkan ke mobil pak Mas'ud. Setelah itu, berangkatlah. Sebentar lagi malam," lanjut Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Mas'ud dan pak Makripudin bergegas bangkit. Setelah beras dan beberapa bahan makanan dinaikkan ke atas mobil dan menutupinya dengan terpal, keduanya mohon pamit kepada Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Motornya pak Makripudin biar dititip dulu di sini.Insya Allah, dua hari lagi saya menyusul," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah keduanya menyalaminya.
__ADS_1
"Dan Pak Mas'ud, kamu ngajinya di ladang saja. Sering-sering kunjungi pak Makripudin. Pelajari dulu dasar-dasar fiqih sama Pak Makripudin," lanjut Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil memegang pundak pak Mas'ud. Pak Mas'ud mengangguk.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi menatap langit yang masih mendung. Suara tarhim terdengar dari masjid pesantren. Ia mendesah panjang. Terlihat kegelisahan di kedua matanya. Mobil milik pak Mas'ud sudah tidak terlihat lagi di ujung jalan. Tuan Guru Alamsyah Hasbi berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.