Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#37


__ADS_3

Sinar matahari terlihat di puncak bako tinggi ketika hujan telah reda. Angin yang berhembus kencang, menyingkirkan kabut dan sisa mendung yang menelingkupi langit. Suara gemeretak sisa-sisa hujan di dedaunan pohon masih terdengar. Sudah jam empat sore. Sepuluh orang pengikut baru akhirnya bertemu dengan sepuluh orang yang bersama-sama pak Satri membuat jalan. Mereka tampak senang ketika jalan yang mereka buat sejak tadi malam akhirnya tuntas sudah. Melihat pohon beringin besar di depan mereka, seperti melihat keinginan-keinginan mereka yang sebentar lagi akan jadi kenyataan. Sebelumnya, tiga orang yang diperintahkan untuk mencari pohon keruing sudah tiba lebih dulu di depan pohon beringin. Mereka masih menunggu Adinullah keluar dari dalam pohon beringin.


"Baik, saudara-saudara, kita istirahat dulu sambil menunggu Syeikh keluar. Kita juga bisa memikirkan permintaan apa saja yang akan kita ajukan kepada Syeikh," kata pak Satri dengan penuh semangat sambil mengajak mereka duduk. Wajah-wajah yang tadinya terlihat lelah seketika berubah ceria ketika mendengar kata-kata pak Satri.


Setelah sekitar satu jam lebih mereka menunggu, tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara menggemeretak dari akar-akar beringin yang bergerak naik ke atas. Adinullah terlihat berdiri sambil tersenyum ketika akar-akar beringin itu terbuka dengan sempurna. Orang-orang yang duduk segera bangkit. Pak Satri langsung mendekat dan bersujud mencium kaki Adinullah. Melihat itu, orang-orang yang di belakangnya ikut maju dan bergantian mencium kaki Adinullah. Adinullah tersenyum bangga. Ia lalu menyuruh orang-orang itu duduk setelah ia terlebih dahulu duduk di atas kursinya.


"Aku bangga dengan kalian. Semua pekerjaan yang telah aku perintahkan kepada kalian telah kalian selesaikan dengan baik." Adinullah kembali berdiri. Ia menatap satu persatu ke arah mereka.


"Kalian ini adalah cikal bakal penduduk yang akan menghuni hutan ini. Di samping sana, kita akan membuat perkampungan baru. Kampung yang mencerminkan penghuni-penghuni surga. Bawalah semua keluarga kalian ke sini. Jangan biarkan mereka bergaul lagi dengan orang-orang yang tidak searah dengan kita di luar sana." Adinullah kembali duduk.


"Di samping sana ada sebuah telaga," kata Adinullah sambil menunjuk ke arah samping.


"Telaga itu aku beri nama telaga kehidupan. Bersihkan diri kalian di sana. Aku akan menyembuhkan segala penyakit kalian ketika berendam di telaga itu. Kalian harus bersih dahulu sebelum aku mengabulkan permintaan kalian yang lain," lanjut Adinullah. Mereka semua tersenyum dan saling pandang satu sama lain.

__ADS_1


"Sekarang, Syeikh?" tanya pak Satri. Adinullah mengangguk.


Pergilah, setelah itu, buatlah sebuah patung dari keruing yang telah kalian tebang. Semakin cepat kalian menyelesaikan patung itu, semakin cepat kalian akan menerima pengabulan permintaan kalian," kata Adinullah sambil membuka salah satu tangannya menyuruh mereka segera menuju telaga. Tanpa menunggu lagi, mereka serempak bangkit dan berlarian menuju telaga. Saking senangnya, mereka tak sempat melepaskan baju mereka. Mereka langsung terjun dan berenang kegirangan di tengah telaga. Hanya satu orang yang masih berdiri di tepi telaga. Dawam. Ia seperti ragu untuk menceburkan dirinya ke dalam telaga. Ada benjolan-benjolan hitam berisi nanah yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya kecuali tangan, wajah dan kedua kakinya. Tapi ia yakin, lambat laun benjolan-benjolan itu pasti akan memenuhi ruang-ruang kosong di tubuhnya. Benjolan-benjolan itu biasanya selalu mengeluarkan bau yang sangat menyengat ketika bersentuhan dengan air. Itu sebabnya, ia tak pernah mandi sekalipun. Lebih-lebih dengan suasana hutan yang tetap lembab, ia merasa sudah terbiasa tidak mandi. Tapi ia merasa harus membuktikan kata-kata Adinullah. Walaupun ia pernah melihat keajaiban yang diperlihatkan Adinullah kepadanya beberapa hari yang lalu, tapi ia masih merasa ragu penyakit di tubuhnya bisa hilang. Ia takut, bau tak enak tubuhnya mengganggu kenyamanan orang-orang yang sedang mandi. Dan pastinya, mereka akan tahu aib yang selama ini ia sembunyikan. Terutama Muhsan dan Mujahidin. Walaupun mereka bertetangga, mereka tidak tahu menahu tentang penyakitnya itu. Ia selalu membaluri tubuhnya dengan kapur barus ketika tubuhnya terkena air.


"Loh, kok malah termenung," kata pak Satri. Ia lalu naik dan menarik tangan Dawam sehingga Dawam tercebur ke dalam telaga. Sembari memegang bajunya agar tidak terangka, Dawam berusaha berenang kembali ke tepi telaga. Ia kemudian merendam tubuhnya. Sambil melihat ke arah orang-orang yang berenang riang di depannya, ia meraba pelan ke dalam bajunya.


Dawam mengernyitkan dahinya. Ada yang terasa berbeda ketika ia meraba bagian perutnya. Terasa rata dan tangannya sama sekali tak terhalang apapun ketika ia meraba turun naik dari pusar hingga dadanya. Jantung Dawam berdebar. Ia menundukkan kepalanya sambil mengangkat pelan tubuhnya. Ia perlahan mengangkat ujung bajunya dan menengoknya. Bersih. Dawam mengangkat lebih tinggi bajunya. Sontak ia berteriak kegirangan dan berenang ke tengah telaga ketika melihat benjolan-benjolan di tubuhnya telah hilang sama sekali. Orang-orang yang melihatnya serentak menoleh ke arahnya. Mereka heran karna Dawam terlambat kegirangan setelah sebelumnya mereka hanya melihatnya berdiri termenung di tepi telaga.


"Syeikh adalah tuhan. Syeikh adalah tuhan. Penyakitku telah sembuh. Penyakitku telah sembuh," teriak Dawam begitu kegirangan. Dia terus berenang kesana kemari. Bahkan ketika orang-orang sudah naik semua, dia masih berenang sambil berteriak mengatakan bahwa Adinullah adalah tuhan.


Terdengar deheman dari arah samping. Adinullah terlihat berjalan ke arah mereka. Tanpa dikomando, mereka mendekati Adinullah dengan menundukkan punggungnya. Satu persatu mereka sujud di kaki Adinullah.


"Bagaimana, apa kalian sudah merasakan perbedaan yang kalian rasakan setelah mandi di telaga kehidupan?" tanya Adinullah.

__ADS_1


"Kami merasakannya, Syeikh. Syeikh telah memperlihatkan keajaiban Syeikh kepada kami. Terpujilah Syeikh," kata salah satu dari mereka.


Dawam yang paling akhir naik dari telaga, segera membuang bajunya dan berlari bertelanjang dada begitu melihat orang-orang bersimpuh di depan Adinullah. Ia langsung tersungkur dan bersujud di kaki Adinullah.


"Terimakasih, Syeikh. Penyakit di badanku sudah sembuh total. Syeikh adalah tuhanku. Terimakasih Syeikh," kata Dawam. Adinullah tersenyum. Kepala Dawam dipegangnya.


"Perhatian semuanya," kata Adinulah sambil menyedekapkan kedua tangannya di dadanya. Orang-orang di depannya mengangkat wajahnya.


"Di depan sana adalah perkampungan kita. Buatlah rumah untuk diri kalian masing-masing. Yang sudah berkeluarga, bawa mereka semua kesini untuk bertempat tinggal di sini."


"Baik Syeikh," kata mereka serempak.


"Yang punya kemampuan membuat patung, segera selesaikan pembuatannya. Pak Satri sudah aku berikan gambaran mengenai bentuk patung itu." Adinullah menatap ke arah pak Satri.

__ADS_1


"Pak Satri. Beritahu mereka yang bisa membuat patung bagaimana bentuk yang akan mereka buat," kata Adinullah. Pak Satri menganggukkan kepalanya. Adinulah kemudian membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pohon beringin.


__ADS_2