Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
Part 12: Perubahan Amar Dari Biasanya


__ADS_3

Ketika bangun pagi, Amar merasa tubuhnya segar sekali. Amar tidak merasa ada rasa letih dan penat mendera tubuhnya padahal beberapa hari ini, dia berusaha keras untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Amar langsung menuju kamar mandi, dia segera mencuci muka. Amar tidak lupa menunaikan sholat subuh, setelah itu dia langsung ke dapur hendak membuat teh sebagai sarapan.


Amar menyeduh teh dan membawanya ke meja makan. Dia menyeruput teh buatannya, terasa hangatnya teh mengalir ke perutnya.


"ahhh, hangat sekali rasanya."


"Amar, kamu sudah bangun sepagi ini nak?" ibu amar heran melihat perubahan anaknya, tidak biasanya Amar bangun awal seperti sekarang.


Amar biasanya bangun kesiangan, dia akan bangun setelah ibunya pergi bekerja.Tapi kali ini berbeda, dia lebih duhulu bangun daripada ibunya. Sungguh kejutan luar biasa, Amar memperlihat perubahan yang tak mungkin kepada ibunya.


Setelah selesai sholat subuh, Ibu Amar kemudian beranjak menuju dapur hendak menyeduh teh. Ibu Amar lagi-lagi dibuat terkejut oleh perbuatan Amar, beliau melihat dua cangkir teh sudah terhidang di atas meja.


"Amar sudah bikinin ibu teh hangat, ayo kita minum dulu sebelum tehnya dingin bu."


Betapa senangnya hati ibu Amar, baru kali ini Amar menyiapkan teh sebagai sarapan untuknya. Ibu Amar terus memandangi Amar saat meminum teh, betapa nikmatnya teh buatan anaknya itu.


"Amar akan melanjutkan pekerjaan Amar hari ini, Amar harus menyelesaikannya secepatnya, bu"


"iya Amar, Ibu terserah kamu saja."


"kalau begitu, Amar berangkat kerja dulu ya bu."


"Apa tidak sebaiknya sebentar lagi Amar? Ibu rasa ini masih terlalu pagi, kita tunggu sebentar lagi mar."


"baiklah bu."


Sambil menunggu, Amar membantu ibunya memasak di dapur walau hanya sekedar membantu menjaga api tungku agar tetap menyala. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa bagi ibunya, Amar hampir tidak pernah melakukan semua ini sebelumnya.


"Amar berangkat kerja dulu bu." Amar pamit pada ibunya ketika hendak pergi.


"Apa tidak makan dulu sebelum berangkat mar?"

__ADS_1


"tidak bu, amar merasa tidak lapar. Amar akan pulang nanti saat makan siang."


Amar sudah siap, dia beranjak pergi meninggalkan rumah menuju tempat dia bekerja. Dia mengayunkan langkahnya dengan penuh kepastian walaupun pelan menurutnya.


Tapi, orang-orang yang melihat Amar berjalan merasa heran. Orang melihat Amar berjalan bagai orang sedang berlari karena dia begitu cepat melangkah, sebentar saja dia sudah sampai di tempat yang di tuju.


'aku harus segera memulai pekerjaanku, pekerjaan ini harus selesai secepatnya. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan sebelum batas waktu yang di berikan oleh pak Soni.' Amar bermonolog sendiri, seraya memulai pekerjaannya dengan penuh semangat.


Amar berusaha fokus melakukan pekerjaannya, dia tidak pernah berhenti kalau tidak benar-benar letih. Sedang asyik bekerja, Amar merasa ada sesuatu yang datang menghampirinya.


Wangi bunga mawar kembali menyeruak memenuhi tempat dia bekerja, Amar mulai terbiasa dengan Aroma yang satu ini. Amar merasa aroma ini menjadi candu baginya, dia merasa aroma ini sudah bagai bagian dari kehidupannya.


Semakin lama, Aroma bunga mawar yang datang semakin kuat. Amar menghirup aroma itu dalam-dalam, ada ketenangan yang dirasakanya setelah menghirupnya.


Sejenak, Amar menghentikan pekerjaannya. Dia berdiri dan mengedarkan pandangan ke semua penjuru namun tidak seorangpun yang dilihatnya, suasana begitu sepi dan hening hanya ada dia di tempat ini.


Amar kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi ada keanehan di rasakannya. Dia merasa tempat ini begitu ramai, banyak terdengar orang berlalu lalang.


Dia kembali berhenti dan memandang ke sekeliling, namun matanya tidak menangkap tidak ada seorangpun ada di sana. Amar merasa ada yang aneh, tapi tidak tahu hal apa itu.


Setelah berkali-kali berhenti dan memandang daerah sekeliling namun tidak menemukan seorangpun orang di sekitarnya, Amar jadi tidak ambil pusing dengan suara-suara itu lagi.


Amar berusaha fokus dengan pekerjaannya, dia sudah berjanji ingin membuat ibunya bangga. Tidak ada waktu lagi baginya, ibunya sudah tua. Amar tidak ingin kehilangan kesempatan untuk membahagiakan ibunya.


Tepat tengah hari, Amar berhenti bekerja. Dia akan pulang kerumah untuk makan siang. Amar sebenarnya tidak begitu lapar tapi dia sudah terlanjur berjanji pada ibunya untuk pulang pada saat makan siang.


Amar keluar dari empang yang sedang dikerjakannya, dia melangkah santai dengan keringat bercucuran di tubuhnya. Sesampai di luar empang, Amar memandang empang yang sedang di kerjakannya.


Amar memandang empang dengan senyuman terkembang di bibirnya, dia akan segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia merasa senang sekali, karena akan menerima hasil jerih payahnya tidak lama lagi.


Pak Soni menjanjikan kepada Amar akan memberikan gaji beserta bonus setelah pekerjaannya selesai. Amar akan mendapatkan bonus tersebut, apabila dia bisa menyelesaikan pekerjaannya sebelum waktu yang di tentukan.


Amar kemudian pulang ke rumah, setiba di rumah dia langsung makan. Ibu Amar ternyata telah menghidangkan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Amar, bagaimana pekerjaan yang sedang kamu lakukan nak? Apakah berjalan lancar?"


"Amar tidak mendapatkan kendala dalam menyelesaikannnya bu. Amar yakin bisa menyelesaikan sebelum batas waktu yang pak Sony berikan." Amar berkata pada ibunya dengan penuh semangat.


"Ibu lega mendengarnya mar, kamu sekarang sudah berubah menjadi lebih baik. Ibu berharap kamu begini seterusnya, ibu senang melihat perubahan kamu sekarang." Ibu Amar berkata dengan nada bahagia, akhirnya anak laki-lakinya bisa diandalkan di masa tuanya.


"iya bu, Amar akan berusaha berubah."


"oh ya bu, sebentar lagi Amar akan pergi lagi."


"iya nak."


Ibu Amar beranjak dari kursi hendak membersih meja makan, beliau membereskan peralatan makan dan segera membawanya ke dapur.


Sementara, Amar duduk bersandar di kursi seraya memejamkan mata. Dia ingin beristirahat sejenak sebelum pergi lagi.


Seketika Amar teringat pada gadis cantik pujaan hatinya, seketika rasa rindu menyeruak dalam hatinya.


'bagaimana kabarnya Alika? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, apa dia ingat denganku?' Amar bertanya dalam , rasa rindu pada Alika mulai menyerang di dalam lubuk hatinya.


Amar senyum-senyum sendiri, bayangan Alika menari-nari di pelupuk matanya. Dia membayangkan Alika datang seraya tersenyum menghampirinya.


Gadis itu tersenyum manis pada Amar, dia mendekati perlahan dan ....o


BRAKKK!


Amar terjengkang ke belakang, kursinya yang didudukinya terbalik.


"aduh...!" Amar mengerang kesakitan seraya berdiri pelan, punggung beserta pantatnya serasa sakit.


"ada apa Amar, tadi ibu dengar ada suara benda jatuh?" ibu Amar bertanya pada anaknya, beliau terkejut ketika mendengar suara benda jatuh tapi tidak melihat apapun yang jatuh karena aAmar sudah duduk kembali di kursi.


"tidak ada apa-apa bu, mungkin ibu salah dengar." Amar menjawab dengan menyembunyikan rasa sakit yang dirasakannya.

__ADS_1


Setelah ibunya pergi ke dapur, Amar kembali tersenyum, rasa rindunya pada Alika kembali berbunga. Alika.......!


__ADS_2