
Tuan Guru Alamsyah Hasbi menatap salah satu laki-laki itu. Ia mengernyitkan dahinya. Ia menggaruk-garuk kepalanya sambil terus memperhatikan lelaki di depannya.
"Kita sepertinya pernah bertemu, Tapi saya lupa dimana ya, Pak....," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Laki-laki itu hanya tersenyum.
"Saya Pak Misbahul Munir, Tuan Guru. Saya sekretarisnya Ustadz Irpan Nahari, ketua MUI kota Mataram. Dan ini Pak Shaleh, salah satu staff beliau juga," kata laki-laki itu sambil tersenyum memperkenalkan laki-laki di belakangnya.
"Subhanallah, Astaghfirullah. Saya ingat sekarang. Kalau gak salah, kita pernah bersama-sama di hotel Grand Hyatt Mataram. Kalau gak salah, acara salah satu partai,"" kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil menepuk-nepuk pundak Misbahul Munir. Misbahul Munir tersenyum sambil berkali-kali mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Maklum sudah tua, Pak Munir. Mari, silahkan duduk," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi mempersilahkan kedua tamunya duduk. Pak Misbahul Munir mengeluarkan dua bungkus rokok dari dalam saku bajunya dan meletakkannya di depan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tuan Guru Alamsyah Hasbi meletakkan kopiahnya di sampingnya duduk. Sebungkus rokok di depannya diambilnya.
"Bagaimana perkembangan terkait kasus Adinullah, Pak," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil membuka bungkusan rokok. Mengeluarkannya sebatang dan menyulutnya.
"Itulah yang ingin kami bicarakan dengan Tuan Guru. Tapi sebelumnya, saya juga ingin menyampaikan salam takzim dari Ustadz. Beliau sangat menyesal tidak bisa langsung menemui Tuan Guru. Beliau saat ini masih berada di Sumbawa Besar,"
"Waalaikum wa alayhis salam. Ada acara apa pak Ustadz di Sumbawa Besar,"
"Kalau gak salah, ada peresmian salah satu majlis taklim, Tuan Guru," kata Misbahul Munir. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menganggukkan kepalanya.
"Silahkan, diminum dulu kopinya selagi hangat." Tuan Guru Alamsyah Hasbi mempersilahkan tamunya mencicipi minumannya.
Misbahul Munir mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya.
"Begini, Tuan Guru. Kedatangan kami kesini, tidak lain terkait hasil investigasi kami di padepokan Ahlul Jannah milik Adinullah. Sebenarnya kami tidak sempat masuk ke dalam, Tuan Guru,"
Tuan Guru Alamsyah Hasbi memperhatikan kedua tamunya.
"Loh, kenapa, Pak,"
Misbahul Munir mendesah panjang.
"Adinullah memerintahkan pengikutnya untuk menghadang kami, Tuan Guru. Dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kami terpaksa mengalah sambil mencari cara lain untuk bertemu dengan Adinullah," kata Misbahul Munir.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi terdiam. Jari-jari tangan kirinya diketuk-ketukkannya bergantian di atas karpet. Ia mendesah panjang.
"Kami berencana mendatangi mereka kedua kalinya. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengawal kami. Tapi seperti pesan pak Irpan, kami terlebih dahulu diperintahkan menghadap Tuan Guru untuk meminta pertimbangan," lanjut Misbahul Munir. Tuan Guru Alamsyah Hasbi kembali mendesah panjang.
"Adinullah sudah jelas sesat. Saya setuju dengan langkah yang diambil Pak Irpan. Tapi saya berpesan, jangan sampai terjadi komplik yang menimbulkan pertumpahan darah. Banyak anak-anak dan orang tua yang ada di dalam hutan itu," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Insya Allah, Tuan Guru. Kami juga berharap, mudah-mudahan Tuan Guru bisa ikut bersama kami." Tuan Guru Alamsyah Hasbi menoleh ke arah pak Makripudin.
"Bagaimana menurutmu, Pak Makripudin," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil meletakkan tangannya di atas paha pak Makripudin.
__ADS_1
"Saya ikut Tuan Guru saja. Sepertinya, pak Adin memang sudah merasa di atas angin. Ia merasa tidak ada yang berani mengusiknya. Seperti permintaan pak Ustadz, memang sudah waktunya Tuan Guru turun gunung," kata pak Makripudin.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi menganggukkan kepalanya. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah Misbahul Munir.
"Insya Allah. Tiga hari lagi kita akan kesana, Pak," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Misbahul Munir dan Pak Shaleh tersenyum.
"Terimakasih, Tuan Guru," kata pak Misbahul Munir.
* * * * *
Adinullah menyingkirkan tangan dua perempuan muda yang memeluk tubuhnya dan menyuruh keduanya keluar dari kamarnya. Hawa dingin yang tiba-tiba menelingkupi di dalam ruangan serta aroma khas yang tercium, menandakan saat ini Zabarjad sedang berada di dekatnya.
Adinullah segera menutup tubuhnya yang telanjang dengan selimut. Ia kemudian duduk bersila dan memejamkan mata. Penglihatannya yang gelap perlahan menjadi terang. Ia mulai jelas melihat sosok Zabarjad berdiri di depannya.
"Syukurlah kamu datang, zabarjad. Orang-orang itu sudah mulai menagih untuk dibawa melihat surga,"
"Aku kesini memang untuk mengabarkan kepada mereka bahwa saat yang mereka tunggu-tunggu itu telah tiba,"
"Benarkah?"
Zabarjad mengangguk dan tersenyum.
"Aku juga menantikan itu. Pengaruhku akan semakin luas jika aku bisa membawa mereka kesana,"
Adinullah tersenyum puas.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus mempersiapkan kedatangan mereka,"
"Kapan kamu bisa punya waktu untukku, Zabarjad. Aku ingin menikmati malam yang panjang bersama semua istriku di surga. Perempuan-perempuan yang ada di sini tidak mampu memenuhi keinginanku,"
"Kamu akan mendapatkan ketika sudah waktunya nanti kamu membawa mereka. Kamu dan semua pengikutmu akan hidup kekal di surga." Zabarjad tersenyum. Setelah itu ia menghilang.
Adinullah segera bangkit dari duduknya. Jubah hitam kebesarannya segera dipasangnya. Ia kemudian bergegas keluar dari kamarnya. Suasana di luar nampak sepi. Hanya beberapa penjaga yang terlihat mondar-mandir. Seluruh penghuni hutan sepertinya sudah terlelap dalam tidur mereka.
Adinullah memanggil salah satu penjaga. Penjaga itu bersimpuh di depan Adinullah.
"Panggilkan aku pak Satri. Nyalakan semua obor yang belum dinyalakan," kata Adinullah. Setelah menghaturkan sembah, penjaga itu kemudian bergegas memanggil pak Satri. Tak beberapa lama kemudian, pak Satri muncul.
"Bangunkan dan kumpulkan semua orang di halaman. Ada berita gembira yang hendak aku kabarkan kepada mereka," kata Adinullah.
"Baik, Syeikh," kata pak Satri. Ia langsung bergegas melaksanakan perintah Adinullah. Bersama dengan para penjaga, ia mulai menggedor pintu rumah dan membangunkan penghuninya satu persatu. Pak Satri kemudian menyuruh mereka untuk berkumpul di depan kediaman Adinullah.
__ADS_1
Adinullah tersenyum melihat orang-orang penuh sesak berkumpul di depannya. Ia bangga melihat usahanya selama ini telah membuahkan hasil yang memuaskan. Belum sampai satu tahun tempat itu sudah penuh sesak. Sekembalinya nanti, dia akan menyuruh mereka menebang pohon-pohon untuk memperluas pemukiman.
Suasana yang riuh perlahan reda ketika pak Satri dan beberapa penjaga memerintahkan mereka untuk diam. Adinullah berdiri tegak membusungkan dadanya.
"Berita dari langit telah turun. Sudah saatnya kesetiaan akan diberi ganjaran. Berbahagialah kalian, karna jalan menuju surga telah terbuka lebar untuk kalian. Kalian akan menikmati kehidupan yang penuh dengan kenikmatan," kata Adinullah. wajah-wajah yang tadinya kaku karna baru terbangun dari tidurnya tiba-tiba berubah ceria. Senyum tersungging di bibir masing-masing. Mereka terlihat berbisik satu sama lain.
"Terpujilah Syeikh. Engkau Tuan kami. Engkau juga pembimbing kami," kata salah satu laki-laki sambil maju dan bersujud. Adinullah tersenyum.
"Tapi tidak semua kita harus kesana. Tapi semua aku jamin pasti akan kesana. Kaum laki-laki yang sehat dan kuat akan terlebih dahulu sebagai kelompok pertama yang akan mengunjungi surga. Setelah itu kaum perempuan, anak-anak dan orang tua akan menyusul sebagai kelompok kedua."
Suasana kembali terdengar riuh.
"Ikutkan kami wahai Syeikh. Jangan buat kami menunggu terlalu lama," kata seorang perempuan tua yang muncul di balik kerumunan perempuan-perempuan lain.
Adinullah maju beberapa langkah mendekat ke arah perempuan-perempuan itu.
"Bersabarlah karna orang yang bersabar akan aku catat sebagai orang-orang yang setia terhadap apapun perintahku. Sebaliknya, yang memberontak dan tidak bersabar, bisa saja aku hapus dari daftar yang akan mengunjungi langit," kata Adinullah.
Perempuan itu dan perempuan-perempuan yang lain di belakangnya hanya terdiam saling pandang.
Adinullah menoleh ke arah pak Satri dan menyuruhnya mendekat.
"Pilihlah laki-laki yang sesuai dengan yang telah aku syaratkan tadi. Dua hari lagi kita akan berangkat," kata Adinullah sambil berlalu pergi.
"Baik, Syeikh," kata pak Satri. Ia kemudian membalikkan badannya dan melangkah ke arah laki-laki yang semuanya terlihat mengumbar senyum
Orang-orang yang tadinya terdiam, kini mulai terdengar saling berbisik satu sama lain. Suasana berubah riuh. Terutama kaum perempuan. Bahkan sebagian mereka ada yang memilih pergi setelah mendengar pengumuman dari Adinullah. Mereka terlihat kecewa. Salah satu dari mereka mendekat ke arah pak Satri yang mulai memilih satu persatu laki-laki di depannya.
"Pak Satri, kenapa kami harus dibeda-bedakan seperti ini. Kesetiaan kami tak perlu diragukan lagi. Kami bertahan di sini karna kami tunduk dan patuh kepada perintah Syeikh. Kenapa kaum perempuan dan anak-anak harus ditinggal?"
Perempuan-perempuan yang tadinya hendak kembali ke rumah masing-masing segera berbalik dan ikut mendekat ke arah pak Satri. Pak Satri mendesah dan membalikkan badannya. Ia mengangkat kedua tangannya menyuruh mereka diam.
"Tenang, tenang. Apa tadi kalian tidak mendengar apa kata Syeikh. Syeikh sudah menjamin bahwa kalian juga pasti akan pergi. Ingat, jangan terlalu banyak protes. Jangan sampai Syeikh mencatat kalian dan kalian tidak akan punya kesempatan lagi untuk pergi. Ingat, ini juga bentuk ketundukan dan kepatuhan kalian, " kata pak Satri. Perempuan itu mendesah kecewa. Ia memilih pergi meninggalkan pak Satri.
Ada sekitar 60 orang laki-laki yang dipilih pak Satri. Ke enam puluh orang itu kemudian disuruhnya masuk ke aula dimana Adinullah biasa melakukan pertemuan penting. Setelah beberapa lama menunggu, Adinullah keluar. Pak Satri segera memerintahkan mereka untuk berbaris ketika Adinullah melangkah hendak memeriksa mereka satu persatu.
"Tengah malam nanti, kalian akan melakukan perjalanan penting. Jika umat Islam sangat menantikan kesempatan mereka untuk mengunjungi Ka'bah di Makkah sana, maka kalian akan melihat dan merasakan yang lebih indah dari yang dirasakan umat Islam. Kalian akan langsung melihat dan menjejakkan kaki di lantai surga," kata Adinullah. Salah satu dari mereka terlihat bersimpuh di lantai. Ia menangis sesenggukan.
"Terimakasih, Syeikh. Mohon jangan kembalikan aku setibanya di surga nanti. Aku ingin hidup abadi," kata laki-laki itu. Adinullah mendekatinya. Laki-laki itu segera memegang kedua kaki Adinullah dan menciumnya.
"Kamu akan mendapatkannya," kata Adinullah.
__ADS_1
"Sambil menunggu ayam jantan berkokok, bersimpuh dan haturkan pujian kepada tuhan kita. Pak Satri akan mengajak kalian ke tempat penyembahan. Kereta kencana akan menjemput kalian di sana," kata Adinullah. Setelah mengatakan itu, Adinullah masuk ke dalam ruangannya.