Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
Part 8: Keluarga Sempurna Alika


__ADS_3

"apa benar beliau ayahmu dek? Amar bertanya pada Alika, dia seakan tidak percaya pria yang berada di hadapannya, ayahnya Alika.


"benar mas, beliau ayah Alika. Memangnya kenapa mas bertanya begitu?"


"mas tidak menyangka ternyata ayah Alika semuda itu, kalau diperhatikan sepertinya ayahmu lebih muda dari mas."


"ayah memang awet muda mas, banyak yang mengatakan begitu."


Amar memandang ayah Alika dengan pandangan kagum, pria yang diperkenalkan sebagai ayahnya oleh alika ternyata sangat muda dan tampan. Amar merasa tidak pantas dan minder di hadapan ayah Alika.


"mas kok malah diam saja." Kata-kata Alika barusan mengejutkan Amar. Dia segera mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada ayah Alika dengan suara sedikit gemetar.


"perkenalkan pak eh om, nama saya Amar, saya teman Alika." Amar memperkenalkan diri pada ayahnya Alika, dia sedikit tergagap ketika menyapa ayah Alika.


Terus terang, Amar meras bingung harus memanggil apa pada ayahnya Alika. Beliau terlihat masih muda bahkan terlihat lebih muda daripada Amar.


"saya Adiwijaya, ayahnya Alika. Sejak kapan kamu bertemu dan berteman dengan Alika anak saya?" ayah Alika bertanya, tapi terdengar seperti mengintrogasi di telinga Amar. Amar semakin gelagapan menjawab pertanyaan Ayah Alika.


"belum lama om, saya bertemu Alika di dekat sungai."


"Saya harap kamu menjaga sikap dan sopan santun terhadap anak saya. Saya tidak akan pernah memaafkan jika kamu berani kurang ajar terhadap Alika."


"tentu saja om, saya akan menjaga sikap dan akan memperlakukan Alika dengan baik." Amar berkata dengan nada pelan seraya tertunduk. Terus terang, dia tidak berani menatap mata ayah Alika.


Terus terang, Amar merasa sedikit tertekan ketika ditanya dan berhadapan dengan ayah Alika. Dia merasa kalah ketika menghadapi ayah Alika yang kharismatik dan sedikit mengintimidasi.

__ADS_1


"Amar kamu tinggal dimana? Apa kamu masih punya orang tua?"


"saya tinggal di desa sebelah om dan saya masih memiliki seorang ibu."


Tidak berapa lama, Amar dan ayah Alika sudah terlibat dengan percakapan yang terlihat semakin akrab, ketegangan diantara mereka berangsur-angsur mencair. Amar mulai bisa membaur dengan keluarga Alika.


Sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba muncul wanita cantik yang tak kalah cantiknya dengan Alika. Dia menatap serius kepada Amar kemudian beralih menatap kearah Alika dan ayahnya secara bergantian.


Alika seperti paham dengan tatapan mata wanita itu kepadanya, dengan cepat Alika segera mendekati wanita itu.


"mas kenalkan, ini ibuku nama beliau Ratu Andini." Alika memperkenalkan wanita itu kepada Amar sebagai ibunya. Amar semakin terkejut mendengarnya, matanya seakan mau keluar. Dia benar-benar tidak percaya, keluarga ini begitu sempurna.


"mas kok malah diam?" Alika mengejutkan Amar yang masih terpaku memandang ke arah Ratu Andini, ibunya Alika.


Amar benar-benar merasa takjub terhadap keluarga Alika, walaupun mereka ayah dan ibu Alika tapi mereka masih sangat muda dan waja mereka sangat tampan dan cantik. Amar benar-benar merasa minder di hadapan mereka.


"eh iya dek, kenalkan Tante saya Amar temannya Alika." Amar mengulurkan tangan dengan sedikit ragu, dia benar-benar tidak tahu harus berkata apa dan bagaimana bersikap. Amar merasa salah tingkah, banyak pertanyaan di dalam kepalanya tapi dia tidak kuasa untuk menanyakannya.


"saya Ratu Andini, ibunya Alika." ibu Alika menjabat uluran tangan Amar seraya senyuman manis terkembang di bibirnya. Amar seakan melihat keindahan surga ketika melihat senyuman ibu Alika, tidak bisa di pungkiri senyuman itu sekejap mampu membuat angan Amar melayang.


"Kamu sudah lama disini?"


"belum lama Tante, saya baru sampai."


Tidak berapa lama, mereka sudah terlibat perbincangan yang akrab. keluarga Alika begitu hangat dan bersahaja membuat Amar nyaman ketika bersama mereka.

__ADS_1


Amar semakin takjub dan kagum dengan keluarga Alika, mereka begitu sempurna dalam pandangan Amar. Ayah dan ibu Alika begitu begitu berkharisma, membuat Amar merasa kagum kepada mereka.


Tidak terasa, Amar sudah beberapa jam berada di rumah Alika. Dia merasa cukup bertamu di tempat Alika, akhirnya dia memutuskan untuk pamit pulang.


"oh ya, om dan Tante saya pamit pulang." Amar pamit kepada ayah dan ibu Alika. Sebenarnya, dia masih betah berada di rumah Alika tapi karena hari sudah larut akhirnya Amar memutuskan kembali ke desanya.


"ya nak, saya rasa sebaiknya kamu pulang sekarang karena malam sudah larut. kamu boleh datang lagi ke sini lain kali." Ayah Alika mempersilahkan Amar untuk pulang, Amar Merasa senang sekali ketika mendengar Ayah Alika membolehkan dia datang lagi ke rumah mereka.


"terima kasih om, kalau begitu saya pulang dulu." Amar segera beranjak pergi setelah pamit pada ayah Alika. Betapa senangnya hati Amar, Dia tidak menyangka kehadirannya disambut baik oleh keluarga Amar.


Dia tidak menyangka dan kagum sama mereka, ternyata keluarga sempurna itu begitu bersahaja. Amar bertekad akan kembali berkunjung dan menemui keluarga Alika. Dalam perjalanan, Amar senyum-senyum sendiri karena saking senangnya.


Amar berjalan menyusuri jalan setapak menuju desanya, perlahan-lahan dia berjalan dalam gelap. Amar kemudian menoleh kembali kebelakang, aneh sekali kampung Alika tiba-tiba tidak terlihat lagi. Amar hanya melihat kegelapan di area kampung Alika tadi.


'lha kok bisa, kemana perginya kampung Alika?' Amar bertanya dalam hati, dia terkejut dan bingung dengan apa yang baru saja di lihatnya. Tapi karena hari semakin larut, Amar berhenti memikirkan semua keanehan yang baru saja dia alami. Amar bergegas menuju desanya, dia mempercepat langkah kakinya.


Dalam perjalanan, Amar merasa ada yang mengikuti dan mengawalnya. Dia merasa bulu kuduknya sedikit berdiri dan mulai memunculkan rasa takut dalam hatinya.


Amar akhirnya Merasa senang karena desanya sudah terlihat samar-samar dari kejauhan. Dia melihat kelap-kelip lampu yang terlihat seperti bintang. Tapi, Amar masih saja merasa ada yang mengikuti langkahnya. Dia merasa ada wangi bunga mawar semerbak di sekelilingnya.


Amar berjalan santai ketika sudah memasuki area desanya, sekarang dia sudah tidak takut lagi karena jalan yang dia susuri sudah tida gelap lagi. Amar merasa lega akhirnya dia sekarang sudah sampai di desanya.


"betapa senang dan indahnya hari ini." Amar berkata sendiri, tanpa sadar angannya kembali melayang kepada kejadian yang baru saja di alaminya.


Amar merasa kepercayaan dirinya kembali dan naik drastis ketika mendapatkan perlakuan baik, keluarga Alika yang begitu menyenangkan. Dia tidak menyangka ayah dan ibu Alika akan menerima dengan baik kehadirannya.

__ADS_1


'aku merasa beruntung dipertemukan dengan Alika. Aku berharap Alika aku dan berjodoh denganku' Amar berkata dalam hati, berjuta pengharapan sekarang bergema dalam hatinya. Amar begitu bahagia, senyum bahagia terkembang di bibirnya.


__ADS_2