
"aku akan kembali pergi ke sana, aku berharap bisa menemuinya lagi." Amar membatin di dalam hati, dia berniat akan kembali ke tepian sungai, tempat dia melihat dan bertemu gadis cantik misterius itu.
"andaikan bisa bertemu dengan gadis itu, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengannya. Dia begitu cantik dan lembut, senyumnya begitu menggoda membuat hatiku berdebar-debar." Amar terus berkata dalam hati, seraya membayangkan wajah cantik yang telah berhasil memikat hatinya. Dia sekarang mulai tersenyum sendiri, hanyut dalam lamunan.
"cantik, siapakah kamu? kenapa kamu terus menggodaku sayang? Amar bertanya sambil memeluk tubuhnya sendiri, tanpa sadar dia sekarang telah melamun dan larut dalam alam hayalannya.
Ketika asyik melamun, Amar tiba-tiba mengerang kesakitan karena kakinya jatuh tertumpu ke lantai. Amar semula mengangkat kakinya yang sakit, tapi karena keasyikan melamun dia tidak sadar telah menjatuhkan dan menumpukan kakinya ke lantai. Alhasil, Amar merasa kakinya kembali sakit tak terkira.
"ampun mak! sakit sekali rasanya." Amar merintih kesakitan seraya mengelus kakinya yang sakit.
Setelah sadar dari lamunannnya, Amar segera keluar kamar mencari dimanakah gerangan ibunya. Amar berjalan tertatih sambil menyeret kakinya yang sakit menuju dapur, dia melihat wanita tua kesayangannya itu sedang serius memasak. Amar melihat dan memperhatikan ibunya dari jauh, seketika rasa sedih menyelimuti hatinya.
"kapankah aku bisa membahagiakan ibuku? Semoga tuhan memberikan kesempatan kepadaku untuk membahagiakan beliau" Aman berujar seraya memanjatkan doa di dalam hati, dia merasa bersalah hingga sekarang hanya bisa menyusahkan ibunya.
"Amar kamu sudah selesai mengenakan pakaian, tapi masakan ibu belum matang semua. Kamu duduk dulu menunggu masakan ibu siap dihidangkan" kata ibu amar seraya menatap kedatangan anaknya. Beliau lega, Amar ternyata bisa mengenakan bajunya sendiri dengan rapi.
"iya bu, Amar akan menunggu masakan ibu matang" jawab amar seraya mendudukkan pantatnya di kursi reot satu-sanya yang dia miliki.
Amar kembali melayangkan pikirannya kepada gadis tadi, berbagai bayangan kembali mengusik hatinya. Memikirkan hal itu, Amar kembali tersenyum sendiri membuat ibunya heran sekaligus khawatir terhadapnya.
Ibu Amar cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Beliau tidak tahu harus berbuat apa, bingung memikirkan anaknya.
"Amar ayo makan, masaknya sudah matang semua" ibu Amar berkata mengajak Amar makan tapi amar tidak menyahut apalagi menjawabnya. Amar masih saja tersenyum-senyum sendiri, dia tidak mendengar panggilan ibunya. Melihat semua itu, Ibu Amar mendekati dan menepuk bahu anaknya.
__ADS_1
"hai Amar, kamu mendengar ibu tidak. Ayo kita makan!" Kata ibu amar lagi sembari menepuk dan mengajak Amar makan.
"i-iya bu! jawab Amar tergagap menjawab perkataan ibunya.
Amar segera mengambil piring dan memasukkan nasi beserta lauk dan sayur ke dalamnya. Dia segera menyantap makanan yang dimasak oleh ibunya, perutnya terasa lapar sekali. Dia begitu menikmati suapan demi suapan yang masuk ke mulutnya.
"pelan-pelan saja makannya Amar, nanti kamu tersedak" kata ibu amar menasehatinya, beliau melihat Amar makan buru-buru seperti orang kesetanan.
"iya maaf bu, Amar sangat lapar sekali." jawab Amar memberi alasan.
Uhuk! uhuk! uhuk!
Amar batuk-batuk karena tersedak, terlihat matanya merah menahan perih di hidungnya.
Tidak berapa lama kemudian, Amar selesai makan malam. Amar duduk sebentar seraya menemani ibunya membersihkan bekas makan mereka. Dia duduk seraya mengelus kakinya yang masih terasa sakit.
Amar merasa mengantuk sekali ketika dilihatnya jam ternyata sudah jam sepuluh malam. Dia beranjak berusaha bangkit, menyeret kakinya masuk ke dalam kamar. Setiba di kamar, Amar langsung mendekati ranjang kemudian merebahkan diri.
Tiga puluh menit berlalu, Amar akhirnya tertidur dengan nyenyak dia merasa lelah sekali. Amar merasa badannya sangat lelah tapi hatinya sangat bahagia, sehingga dia bisa memejamkan matanya dengan cepat.
Tidak berapa lama tertidur, Amar merasa ada yang menarik selimutnya terasa ada hawa dingin melintasi tubuhnya. Amar terbangun dari tidurnya ketika dia melihat ternyata selimutnya masih sama seperti semula, selimut itu masih menyelimuti tubuh Amar dengan sempurna.
Amar merasa aneh dan bingung dengan apa yang baru saja dia rasakan. Amar kembali membaringkan tubuh mencoba memejamkan matanya. Dia merasa matanya masih sangat mengantuk.
__ADS_1
Tak berapa lama memejamkan mata, tiba-tiba lampu di kamar Amar mendadak mati. Amar kembali membuka matanya, dia mengedarkan pandangan tapi tak bisa melihat apa-apa. Dia hanya bisa melihat kegelapan di dalam kamarnya.
Karena merasa sangat mengantuk, Amar tidak bangun untuk sekadar menyalakan lilin. Amar merasa tidak perlu dia bangun karena sudah tengah malam lebih baik dia tidur saja. Amar kembali memejamkan mata hendak meneruskan tidurnya.
Baru saja tertidur, Amar merasa ada seseorang yang mendekatinya. Amar dapat merasakan bau tubuh orang yang mendekatinya begitu harum seperti semerbak bau mawar. Dia mencium bau harum itu terasa sangat jelas dan nyata.
Amar mencoba membuka matanya, tapi dia tidak bisa. Dia merasa matanya berat sekali seperti ada yang menghimpit kedua belah matanya. Dia tidak memiliki kekuatan untuk melihat siapa yang mendekatinya.
"siapakah yang mendekatiku? Amar bertanya dalam hati, tapi dia tidak kuasa membuka kelopak matanya.
"dia begitu harum, aku ingin melihat wajahnya tapi bagaimana caranya mataku seakan tidak bisa terbuka. Lagi pula tadi lampu di kamarku mati, aku tidak akan bisa melihatnya." Amar terus membatin, bergulat di dalam hatinya.
Dalam kegelapan, Amar merasa ada yang mendekat dan duduk disebelahnya. Amar merasa orang tersebut duduk dekat dengan pergelangan kaki Amar yang sakit. Dia semakin dapat mencium bau harum bunga mawar yang kuat semakin menusuk hidungnya.
Amar merasa ada sentuhan lembut tangan seseorang menyentuh pergelangan kakinya. Orang tersebut menyentuh dan mengurut bagian kaki Amar yang terasa sakit, walau awalnya sentuhan tangan itu menimbulkan rasa sakit tapi perlahan-lahan rasa sakit itu hilang.
Selang lima menit, Amar merasa kakinya sudah tidak terasa sakit. Orang yang menyentuh dan mengurut Amar menghentikan gerakannya. Dia perlahan menjauhi Amar, bau harum yang tadi sangat kuat di penciuman Amar berangsur hilang.
Setelah bau bunga mawar itu telah benar-benar hilang dari penciuman Amar mendadak lampu di kamar Amar menyala kembali. Amar merasa sangat heran matanya tiba-tiba bisa dibuka padahal tadi susah sekali membukanya walau sudah berusaha keras untuk membukanya.
Setelah bisa membuka mata secara sempurna, Amar mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar tapi dia tidak menemukan siapa-siapa selain dirinya. Amar merasa sangat aneh dan heran dengan apa yang baru saja dialaminya.
"Siapa orang yang menyentuh dan mengurut kakiku tadi? Amir bertanya di dalam hati.
__ADS_1