
Pak Satri melepas karung berisi beras di punggungnya dan seekor ayam jantan yang ditentengnya ketika sampai di depan jalan masuk menuju ladang milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ia ingat pesan Adinullah, jangan lewat jalan itu jika Tuan Guru Alamsyah Hasbi ada di sana. Tak ada jalan lain selain jalan itu. Ia harus memeriksanya terlebih dahulu untuk memastikan Tuan Guru Alamsyah Hasbi tidak ada di sana.
Pak Satri pun melangkah dengan sangat hati-hati. Berusaha sebisa mungkin agar semak-semak yang diinjaknya tak menimbulkan bunyi. Ia mendesah lega. Tak ada seorang pun di ladang itu. Untuk lebih meyakinkan dirinya, pak Satri pura-pura mengucap salam dengan suara keras. Tak ada jawaban. Hanya gema suaranya yang seperti memantul di batang-batang pepohonan. Pak Satri tersenyum. Setelah yakin memang tidak ada siapapun di ladang itu, ia memutuskan kembali dan mengambil karung dan ayam yang diletakkannya di tanah.
"Tunggu, Saudara," panggil seseorang dari arah samping. Pak Satri menoleh. Dilihatnya tiga orang laki-laki berperawakan tinggi besar dan bermuka sangar terlihat mendekat ke arahnya. Pak Satri mengerutkan dahinya dan menatap penuh selidik ke arah tiga laki-laki asing itu. Ia tidak mengenal sama sekali ketiga laki-laki itu. Tapi anehnya, apa yang dibawa ketiga laki-laki itu sama dengan apa yang dibawanya. Sekarung beras dan masing-masing satu ekor ayam jantan.
Ketiga laki-laki itu tersenyum saat tiba di depan pak Satri. Ketiganya kemudian menurunkan barang bawaan mereka di tanah. Salah satu dari laki-laki itu menyodorkan tangannya mengajak pak Satri bersalaman.
"Perkenalkan nama saya, Dawam. Dan ini teman saya, Mujahidin dan Muhsin," kata laki-laki yang ternyata adalah Dawam itu memperkenalkan kedua temannya. Mujahidin dan Muhsin kemudian bergantian menyalami pak Satri.
"Saya Satri," kata pak Satri sembari tersenyum. Pak Satri memperhatikan karung dan ayam yang ada di bawah kaki ketiganya.
Dawam tersenyum.
"Itu sebabnya kami kesini. Kami lihat apa yang Pak Satri bawa sama dengan yang kami bawa. Makanya kami yakin tujuan kita kesini sama," kata Dawam. Mujahidin dan Muhsin mengangguk mengiyakan.
"Mau ketemu Syeikh Addinullah?" tanya pak Satri. Ketiganya tersenyum mengangguk.
"Kalau begitu, mari, kita kesana sama-sama," ajak pak Satri.
Dawam memegang tangan pak Satri.
"Tapi tunggu, Pak Satri. Bukankah ini jalan masuk ladang Tuan Guru Alamsyah Hasbi?" kata Dawam sambil menunjuk ke lorong kecil di depannya. Pak Satri mengangguk.
__ADS_1
"Syeikh menyuruh kami untuk tidak lewat tempat ini jika ada Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Apa Pak Satri sudah memeriksanya?" tanya Dawam.
"Tenang, sudah aku periksa. Tuan Guru Alamsyah Hasbi tidak ada di sini. Ayo, cepatlah, keburu dia datang," kata pak Satri sambil mengangkat karung ke pundaknya dan segera melangkah ke arah lorong. Buru-buru ketiganya mengangkat bawaan mereka dan mengikuti pak Satri dari belakang.
"Pak Satri," kata Muhsin sambil mempercepat langkahnya agar berjalan sejajar dengan pak Satri.
"Ada apa, Pak Muhsin?" tanya pak Satri sambil terus mempercepat langkahnya. Nafasnya mulai terdengar ngos-ngosan. Pak Muhsin mengerutkan keningnya.
"Kenapa Syeikh menyuruh kita menghindari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Apakah Syeikh takut?"kata pak Muhsin mempertegas. Pak Satri menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah pak Muhsin.
"Hus! Gak boleh ngomong sembarangan begitu." Pak Satri menoleh ke sekelilingnya. Ke arah gelapnya hutan.
" Beliau itu seorang wali. Rajanya para wali. Aku sudah melihat mukjizatnya yang luar biasa. Jangan sampai dia tahu apa yang pak Muhsin katakan itu,"kata pak Satri dengan tubuh bergidik.
"Gak bermaksud apa-apa, Pak Satri. Mau tahu saja. Kami hanya penasaran," kata pak Muhsin.
Setelah melewati semak-semak dan sela-sela pepohonan besar, akhirnya mereka di sebuah pohon beringin besar yang akarnya menjuntai hitam, merayap dan mencengkram pohon-pohon besar di dekatnya. Suara nyamuk berdenging ramai, berkerubung di tubuh pak Satri, Dawam, Muhsin dan Mujahidin.
Pak Satri melepas karung yang pikulnya. Hal yang sama dilakukan oleh Dawam, Muhsin dan Mujahidin. Mata pak Satri awas memperhatikan pohon beringin di depannya. Tubuhnya bergidik ketika melihat beberapa ular besar terlihat melilit akar beringin.
Hanya ada satu pohon beringin di dalam hutan itu. Ia meyakininya sebagai tempat bertapanya Adinullah seperti yang dibisikkannya kemarin pagi. Tapi tak ada tanda-tanda Adinullah ada di tempat itu.
"Benarkah ini tempatnya, Pak Satri?" tanya Dawam setelah sedari tadi melihat pak Satri hanya mondar-mandir memperhatikan pohon beringin itu. Pak Satri terdiam. Ia kembali mengingat-ingat apa yang dikatakan Adinullah mengenai pohon beringin yang akan dijadikannya simbol padepokannya.
__ADS_1
"Aku yakin ini tempatnya. Tapi Syeikh ada dimana ya. Mungkinkah ia ada di balik akar beringin ini?" kata pak Satri. Mujahidin melangkah maju. Parang yang terselip di pinggang dicabutnya. Ia lalu mengarahkan mata parangnya ke arah akar pohon beringin hendak menebasnya. Tapi sebelum ia mengayunkan parangnya, tiba-tiba Adinullah muncul dari arah samping. Kedatangan Adinullah yang tak terduga, membuat keempatnya terkejut bukan kepalang. Tapi keempatnya buru-buru mendekat dan mencium tangan Adinullah. Adinullah tersenyum sambil menatap bergantian ke arah mereka seraya menunjuk ke arah kakinya.
"Tak perlu kalian melakukan hal semacam ini lagi. Aku tak suka apa yang dilakukan pengikut Tuan Guru Alamsyah Hasbi kalian lakukan kepadaku. Drajatku lebih tinggi dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi,7" kata Adinullah. Keempatnya saling pandang. Belum begitu mengerti apa maksud Adinullah. Mereka menatap ke arah pak Satri, seperti memintanya untuk menanyakannya kepada Adinullah. Pak Satri tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
"Maaf, yang mulia Syeikh, apa gerangan maksud Syeikh? Kami mohon petunjuk," kata pak Satri.
"Aku ingin setiap orang yang mempercayaiku bersujud di kakiku setiap bertemu denganku."
Keempatnya kembali saling pandang. Seperti ingin meminta pendapat satu sama lain. Melihat mereka seperti tak merespon kata-katanya, Adinullah menjadi marah. Tatapannya tajam dengan sedikit geraman terdengar dari mulutnya.
"Pergilah kalian dari sini. Keimanan kalian yang lemah, membuat kalian tidak pantas menjadi pengikutku," kata Adinullah. Ia kemudian melangkah ke arah pohon beringin. Sejenak ia terdiam membelakangi ke empatnya. Hingga beberapa lama kemudian, tiba-tiba saja akar-akar pohon itu bergerak. Akar kokoh yang kuat tertancap di tanah perlahan terangkat dan memberikan ruang Adinullah masuk. Keempatnya tercengang takjub. Di balik akar-akar yang menutupi batang pohon beringin terlihat sangat luas. Beberapa akar dekat batang pohon beringin terajut menyerupai singgasana. Di sanalah kini Adinullah duduk dengan gagahnya.
Pak Satri bergegas mendekat dan segera bersujud dan mencium kaki Adinullah.
"Ayo, kemarilah. Bersujud dan ciumlah kaki yang mulia Syeikh," kata pak Satri sambil mengayunkan telapak tangannya menyuruh ketiganya mendekat. Ketiganya segera mendekat dan bersujud di kaki Adinullah.
"Kita akan membuka jalan lain menuju tempat ini agar orang-orang dapat mengunjungiku di tempat ini. Kalian kuperintahkan untuk mulai membuka hutan sebagai jalan. Malam nanti adalah malam dimana rembulan akan bersinar purna. Kalian akan berbai'ah kepadaku. Ada sebuah telaga kecil di belakang pohon beringin ini. Ambillah beberapa ember air. Kalian akan aku mandikan dengan bunga dari surga," kata Adinullah.
"Maaf, yang mulia Syeikh. Kalau begitu kami mohon ijin pulang untuk mengambil ember untuk mandi kami nanti malam," kata pak Satri. Adinullah tersenyum.
"Tidak hanya ember. Kalian juga harus membawa keluarga kalian kesini. Bawa sebanyak mungkin orang kesini. Aku akan mengabulkan permintaan kalian. Apapun yang kalian minta."
Keempatnya saling pandang sembari tersenyum. Mereka sangat senang mendengar kata-kata Adinullah. Mereka kemudian bangkit dan kembali bersujud di kaki Adinullah.
__ADS_1
"Sekarang, pulanglah kalian. Sebelum gelap, kalian sudah harus kembali kesini membawa keluarga kalian," perintah Adinullah. Keempatnya menganggukkan kepala dan bergegas meninggalkan tempat itu dengan senyum yang mengembang. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dan tak berbicara satu sama lain. Di pikiran mereka berhamburan berbagai macam permintaan yang akan diajukan nanti pada Adinullah.
Kabut tebal masih menyelubungi bukit bako tinggi. Hutan lebat nan gelap, seperti bayang-bayang menakutkan di balik tebalnya kabut. Mendung yang sejak tadi pagi menggelayut, sudah mulai menurunkan gerimisnya. Suara gemeretaknya terdengar ramai di atas semak-semak dan daun pepohonan.