
Suara burung mulai terdengar mengisi sela-sela hening pagi. Kabut terlihat hampir memenuhi pandangan. Puncak bakau tinggi hanya terlihat sedikit saja menyembul di balik dekapan kabut. Dingin pagi tak menghalangi suara burung pipit yang terdengar merdu membelah hening hutan.
Johani perlahan menyingsingkan selimut yang mendekap erat tubuhnya. Dia memegang kepalanya sejenak sambil mengurut-urutnya. Entah jam berapa ia tidur tadi malam. Dia tak sadarkan diri saat berusaha tetap terjaga mencuri dengar apa yang dilakukan Adinullah di dalam gubuk.
Johani perlahan mengangkat tubuhnya. Suasana di dalam gudang masih terlihat gelap. Sambil memyedekapkan kedua tangannya ke tubuhnya, ia melangkah membuka pintu.
Johani terdiam sejenak menatap ke arah pintu gubuknya. Biasanya, setelah tidur ia akan mulai mencuci piring-piring kotor sisa makan tadi malam. Selanjutnya memasak nasi dan pekerjaan lainnya yang biasa dilakukan perempuan pada pagi hari. Tapi ia masih ragu untuk memasuki gubuk. Dia takut Adinullah terbangun dan marah karna merasa terganggu. Suasana yang masih gelap, tak memungkinkannya untuk ke dapur dan mengambil piring-piring kotor ataupun beras untuk memasaknya pagi ini. Sedangkan lampu teplok ada di kamar tempat Adinullah tertidur.
Johani mendesah panjang. Dia sudah mengambil keputusan untuk menunggu sampai Adinullah bangun. Tapi berdiam diri tanpa aktifitas apapun membuatnya semakin kedinginan. Ia pun memutuskan kembali ke gudang sembari menunggu Adinullah keluar dari gubuk.
Sinar matahari terlihat menerobos celah-celah tanaman jarak depan gubuk. Terdengar suara bersin keras dari dalam gubuk. Johani yang menyandarkan tubuhnya di tumpukan kayu dan baru saja terlelap lagi, melonjak kaget. Baru saja ia hendak bangun, terdengar panggilan keras memanggil namanya. Ia buru-buru bangkit dan keluar. Dilihatnya Adinullah keluar dengan hanya mengenakan sarung. Perutnya yang besar terlihat memenuhi pintu gubuk.
"Ada apa, Kak," tanya Johani ketika sampai beberapa langkah dari tempat berdiri Adinullah.
""Siapkan aku air, aku mau mandi," kata Adinullah. Tanpa berkata-kata lagi, Johani segera bergegas mengambil ember yang digunakan untuk menampung air hujan. Ia segera membawanya ke hadapan Adinullah.
"Ambilkan lagi. Yang ini tidak cukup," perintah Adinullah. Johani mengangguk. Tiga ember dibawanya dan meletakkannya di depan Adinullah. Adinullah langsung membuka sarung yang dikenakannya dan dengan telanjang bulat ia mulai menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Melihat Adinullah telanjang bulat, Johani menjadi panik. Ia menoleh kesana kemari. Takut ada orang yang melihat. Ia kemudian berlari ke dalam gudang dan mengambil selimut. Ia lalu membentangkan selimut itu untuk menutupi tubuh Adinullah. Melihat itu, Adinullah menatapnya tajam.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan itu," tanyanya geram.
"Saya takut orang-orang lewat dan melihatmu telanjang bulat seperti ini,"
"Kurang ajar. Matamu itu yang kasar dan melihat yang kasar dari tubuhku. Itulah mata syariat yang hanya bisa melihat zahirnya saja. Seumur hidup kamu mengabdi pada Tuan Guru Alamsyah Hasbi, kamu tidak akan pernah bisa membedakan antara zahir dan batin. Enyahlah dari sana. Kamu telah menghina seorang yang telah menyatu dengan tuhannya," bentak Adinullah. Johani melipat kembali selimutnya. Tatapan dan kata-kata keras Adinullah membuatnya takut. Ia terpaksa mengalah dan memilih duduk di bangku panjang di bawah pohon bidara. Ia hanya bisa menyaksikan bagaimana Adinullah seperti anak kecil yang sedang mempermainkan ***********. Sesekali tertawa dan seperti sedang bercengkrama dengan makhluk tak kasat mata. Sekujur tubuh Johani merinding. Dia berharap Adinullah segera menyudahi mandinya. Dia benar-benar khawatir ada orang yang melihat Adinullah telanjang.
"Johani!"
Johani bangkit dan segera mendekat.
"Ambilkan aku handuk dan sarung,"kata Adinullah. Johani mendesah resah sambil menggelengkan kepalanya. Kini Adinullah berjalan sambil menggerak-gerakkan tubuhnya. Tetap dalam keadaan telanjang bulat. Johani bergegas masuk. Begitu mendapatkan handuk dan sarung dari dalam kamar, ia segera keluar dan memberikannya kepada Adinullah.
"Ambilkan aku sorban di dalam lemari," kata Adinullah tanpa menoleh ke arah Johani.
"Ambilkan aku sorban!" teriak Adinullah kedua kalinya ketika tak terdengar gerakan apapun dari belakang. Johani kaget.
"Ada apa, Kak?" tanya Johani. Keasikannya menatap dan memikirkan bekas goresan di punggung Adinullah membuatnya tak mendengar apa yang di katakan Adinullah. Mata Adinullah tajam. Ia membalikkan tubuhnya. Johani mundur beberapa langkah. Mata Adinullah yang melotot tajam membuatnya takut.
__ADS_1
"Makanya jangan sering melamun. Nanti kamu kerasukan setan. Bangsat! Telingamu saja yang besar, tapi gak dengar apa-apa. Ambilkan aku sorban, goblok!" teriak Adinullah. Johani mendesah panjang. Di tatapnya Adinullah sejenak. Kata-kata Adinullah yang keras dan kasar, membuat telinganya sedikit panas. Tapi ia berusaha menahan diri dan tenang. Dia memilih bertahan di gubuk itu dengan harapan bisa mengembalikan Adinullah yang dulu. Jadi dia harus sabar dan tenang sambil menunggu perintah selanjutnya dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Sejauh ini ia merasa aman. Adinullah belum sama sekali terlihat hendak mencelakakan dirinya. Walaupun sesekali ia melihat Adinullah memperlihatkan tanda-tanda itu. Johani yakin, perantara amalan yang diberikan Tuan Guru Alamsyah Hasbi telah berhasil menjaganya dari kejahatan Adinullah. Biarlah dia memerintahkannya apa saja selama itu tidak membahayakan dirinya.
Johani membalikkan tubuhnya dan berjalan tenang menuju ke dalam gubuk.
"Hei, semua sorban yang ada di dalam lemari keluarkan. Jubah warna merah itu juga bawa kesini," teriak Adinullah ketika Johani baru saja sampai di depan pintu.
Adinullah kemudian duduk bersila di atas hamparan rumput tempat tadi ia berdiri. Sedangkan Johani disuruhnya tetap berdiri sambil memegang sorban dan jubah miliknya. Satu persatu sorban di tangan Johani dipasangnya. Lima sorban yang melilit di kepalanya membentuk lilitan tinggi ke atas. Dengan jubah merah yang ia pasang terakhir, Adinullah terlihat seperti seorang sufi yang sarat dengan keajaiban-keajaibannya. Di dalam hatinya, Johani pun tak menafikan bahwa Adinullah memang pantas memakainya.
Adinullah bangkit dan mulai memperhatikan penampilannya sambil terus tersenyum dan berdecak memuji penampilannya. Johani hanya terdiam. Tatapan sedihnya jauh terbenam di sela-sela rerumputan di bawah kakinya. Ia mendesah panjang dan memilih kembali ke dalam gubuk.
"Tunggu, kamu mau kemana. Kamu tak punya adab kepada orang mulia sepertiku. Kamu belum aku perintahkan pergi," kata Adinullah dengan suara berat.
Johani diam saja dan tak membalikkan tubuhnya. Hal itu semakin membuat Adinullah marah. Ia melangkah dan berhenti di depan Johani.
"Kamu benar-benar tak sopan kepada suamimu sendiri. Inikah ajaran yang kamu terima dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi?" kata Adinullah. Johani mulai terlihat kesal. Kali ini dibalasnya tatapan Adinullah.
"Kamu sudah bukan suamiku lagi. Bukankah talakmu sudah jatuh ketika aku memutuskan untuk tidak mengikutimu? Dan jangan menghina Tuan Guru Alamsyah Hasbi di depanku," kata Johani sengit. Ia sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan ia sudah siap jika Adinullah coba-coba menyentuhnya, ia akan menyerangnya balik. Tak perlu memikirkan hasil akhirnya. Ia sudah pasrah.
__ADS_1
Adinullah menatapnya tajam.
"Kalau begitu, bawa barang-barangmu dan tinggalkan rumah ini," kata Adinullah sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Johani.