Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#44


__ADS_3

Kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan membuyarkan hening hutan. Hawa terasa dingin menusuk sum-sum. Kawasan hutan seperti berselimut kabut tebal. Hening dan sunyi. Ke enam puluh laki-laki yang masih bersimpuh khusyu' di depan patung dengan segala pujian yang keluar dari mulut mereka, serempak menoleh ke arah pak Satri. Senyum mengembang dari bibir masing-masing, tak bisa menyembunyikan perasaan bahagia yang kini berdegup di hati mereka. Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hanya beberapa jam saja sejak menunggu ayam berkokok. Tapi mereka merasakan penantian itu begitu panjang.


Pak Satri bangkit. Seperti halnya teman-temannya yang lain, yang sudah tidak sabar menunggu keberangkatan mereka, memilih untuk menemui Adinullah. Tapi baru beberapa langkah menuju pintu, Adinullah sudah terlebih dahulu muncul dari balik pintu. Pak Satri tersenyum dan membungkukkan badannya sembari mundur pelan ke belakang. Orang-orang di belakangnya serempak bangkit dan berbaris menghaturkan sembah kepada Adinullah. Degup jantung masing-masing seperti ketipak rebana di keheningan malam. Rasa letih dan penantian panjang terbayar sudah dengan menyaksikan wajah Adinullah. Adinullah tersenyum dengan kedua tangan dimasukkannya kedalam saku jubahnya. Dia tersenyum. Seperti sedang mencibir wajah-wajah polos di depannya. Setelah menatap wajah-wajah yang seperti berusaha menyembunyikan rasa lelah dan kantuk mereka satu persatu, perlahan ia mendekat ke arah mereka dan mulai berjalan mondar-mandir di depan mereka. Langkah Adinullah terhenti di depan Mujahidin. Setelah menatapnya sejenak, ia kembali tersenyum sambil menepuk-nepuk pundaknya.


"Waktunya telah tiba. Persiapkan diri kalian untuk melihat keajaiban itu. Kalian akan melihat apa yang sering aku lihat. Keindahan dan kenikmatan yang akan membuat kalian enggan berpikir untuk kembali lagi kesini." Adinullah mundur beberapa langkah. Ia kembali tersenyum.


"Ayo, bersujudlah kalian di kakiku sebelum kereta kencana yang akan membawa kalian menjemput kalian," kata Adinullah sambil menunjuk ke arah kakinya. Mereka pun satu persatu bergantian bersujud dan mencium kaki Adinullah.


Adinullah tersenyum bangga. Ia menatap satu persatu ke enam puluh wajah pengikut setianya. Setelah itu ia memejamkan matanya. Semua mata tertuju ke arahnya. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca sesuatu.


Adinullah membuka matanya perlahan. Ia mendesah panjang sambil tersenyum.


"Pak Satri, matikan semua lampu yang ada di dalam ruangan ini,"

__ADS_1


Pak Satri mengangguk. Satu persatu obor yang menyala di dalam ruangan di matikannya. Suasana di dalam ruangan seketika berubah menjadi gelap dan mencekam. Tak satu suarapun yang terdengar untuk beberapa saat. Hingga tak beberapa lama setelah itu, mereka dikagetkan oleh suara ringkihan kuda yang melengking keras. Mereka saling raba satu sama lain.


"Tenang. Yang kalian dengar tadi adalah suara kuda tungganganku. Namanya Jaran Bireng Mundung," kata Adinullah.


Pandangan mereka serempak tertuju ke arah sinar biru yang muncul dari depan. Setelah memperhatikannya lama, ternyata sinar itu muncul dari jari telunjuk Adinullah. Tidak hanya itu, samar-samar mereka melihat di samping kanan Adinullah, seekor kuda hitam besar nampak mengepak-ngepakkan sayapnya. Di samping kiri Adinullah mereka juga melihat sebuah kereta dengan dua ekor kerbau berwarna hitam sebagai penariknya. Tanduk kedua kerbau saling bertumbukan satu sama lainnya karna panjangnya. Lenguhan nafas kedua kerbau itu menderu, membuat orang-orang di dalam ruangan terdiam menahan nafas. Hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak menguasai ruangan, membuat suasana di dalam ruangan semakin mencekam.


Orang-orang hampir tak melihat sais yang duduk di depan kedua kerbau itu jika saja ia tidak bangkit dari duduknya. Sesosok hitam dengan bulu-bulu lebat memenuhi hampir seluruh tubuhnya itu perlahan berdiri. Tubuh orang-orang yang melihatnya seperti terikat oleh rantai dengan kedua kaki masing-masing seperti terbenam di tanah. Persendian mereka bergetar. Degup jantung mereka seperti hendak membelah dada-dada merek. Mereka terperangah dengan ketakutan yang maha hebat menyaksikan tubuh tinggi menyeramkan dengan kepala yang sama sekali tak terlihat. Seperti menembus melewati langit-langit ruangan tempat mereka berada. Adinullah hanya tersenyum melihat wajah-wajah ketakutan di depannya. Adinullah mendehem.


Sosok makhluk menyeramkan itu perlahan membalikkan badannya dan membungkuk menghaturkan sembah pada Adinullah.


Adinullah menganggukkan kepalanya.


"Ayo, Pak Satri, ajak mereka naik. Kita akan segera berangkat," kata Adinullah kepada pak Satri yang pandangannya tak berpaling dari melihat sosok makhluk menyeramkan di depannya. Seumur hidupnya, ia tak pernah menyaksikan makhluk menyeramkan seperti itu. Pak Satri terbuyar dari ketertegunannya ketika untuk kedua kalinya Adinullah menegurnya. Ia seperti orang linglung yang baru saja siuman dari pingsannya. mendesah pelan.

__ADS_1


"Pak Satri, ajak mereka naik," kata Adinullah.


"Ba_ik, Syeikh," kata pak Satri. Ia langsung memerintahkan mereka satu persatu naik ke atas kereta.


Setelah memastikan para pengikutnya sudah berada di atas kereta, Adinullah kemudian melangkah gagah penuh wibawa mendekati kuda hitam yang bersimpuh di depannya. Setelah mengusap lembut kepala kuda itu, ia menaikinya perlahan. Orang-orang tertegun menyaksikannya.


"La ila ha," teriak Adinulah ketika sudah berada di atas kuda. Kekang kuda di tangannya di tariknya hingga membuat kuda itu mengangkat kedua kakinya dan meringkik keras. Kedua sayapnya kemudian dikepakkannya perlahan. Semakin keras dan seperti angin ribut, hempasan kedua sayap kuda itu menimbulkan angin kencang di dalam ruangan. Saking kerasnya, pak Satri dan orang-orang yang berada di atas kereta serempak tersungkur dan saling tindih satu sama lainnya. Mereka baru bisa berdiri ketika kuda itu melesat dan hilang dalam sekejap. Hanya suara ringkihan kuda yang terdengar semakin menjauh. Lengkingannya yang memekik bahkan seperti masih menggema di permukaan langit.


Gragah menolehkan kepalanya ke belakang.


"Berpeganganlah kalian. Kita akan segera menyusul Syeikh." Suara Gragah yang berat, menggelegar membuyarkan keheningan. Pak Satri memberi isyarat kepada Dawam untuk mengatur teman-temannya yang lain. Mereka kemudian saling bantu untuk berdiri. Takut terjadi sesuatu, pak Satri memerintahkan mereka untuk kembali duduk dan tetap saling berpegangan satu sama lain. Dada mereka masih berdegup kencang menunggu bagaimana mereka akan dibawa oleh kereta itu. Untuk beberapa saat suasana kembali hening dan mencekam. Tak ada yang berani bersuara. Tangan mereka pun basah dengan keringat saat berpegangan satu sama lain. Tatapan mereka tertuju ke arah punggung Gragah yang duduk di depan mereka.


Gragah melepaskan ujung cemeti yang ia lingkarkan di pergelangan tangannya. Suara yang diakibatkan oleh ujung cemeti yang jatuh di lantai, membuat kedua kerbau itu menghentak-hentakkan kedua kakinya di lantai.

__ADS_1


Gragah menghentakkan kembali cemeti itu dengan kerasnya hingga menimbulkan suara yang seperti hendak membelah lantai ruangan itu. Mereka melepas pegangan tangan masing-masing dan serempak menutup telinga mereka. Gendang telinga mereka serasa hendak pecah. Mendenging keras akibat suara cemeti yang seperti menusuk jauh ke ujung rongga telinga.


Kedua kerbau itu mendengus panjang. Suara kakinya yang bersiap-siap untuk berlari kencang seperti hentakan palu godam di permukaan batu cadas. Satu cemeti yang ia hempaskan ke arah depan, membuat kedua kerbau itu melesat kencang dan membawa naik perlahan kereta itu ke atas. Orang-orang yang ada di atas kereta, yang tak menyangka begitu cepatnya kereta itu naik ke atas berjatuhan dan saling tindih satu sama lain. Tapi tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut mereka. Mereka pun tak berusaha untuk bangkit karna keadaan yang tak memungkinkan. Mereka hanya bergerak menggeser tubuh-tubuh mereka agar tidak saling tindih satu sama lain.


__ADS_2