
Tuan Guru Alamsyah Hasbi menoleh ke arah Faiz yang duduk bersila menundukkan kepalanya. Ia mengerti betul apa yang diperintahkan oleh pak Mas'ud. Di depan Tuan Guru, dia tak boleh bermain-main. Dia terlihat sibuk menyingkirkan sisa-sisa tanah di jari-jari kakinya.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mengerutkan keningnya.
"Bukankah dia anaknya Adinullah?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi sembari menoleh ke arah pak Mas'ud. Pak Mas'ud tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Faiz, Ayo salaman sama Tuan Guru," kata pak Mas'ud. Faiz mengangkat wajahnya dan menatap Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ia kembali menundukkan wajahnya. Melihat itu, pak Mas'ud menggeser tubuhnya mendekat ke arah Faiz.
"Biarkan saja, pak Mas'ud. Dia masih malu," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
Seorang santriwati terlihat berjingkrak-jingkrak menghindari genangan air dengan membawa payung, terlihat menuju gazebo tempat Tuan Guru Alamsyah Hasbi dan pak Mas'ud duduk. Ketika ia sudah sampai di depan Tuan Guru Alamsyah Hasbi, ia langsung duduk di bawah menunggu perintah Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Masak air banyak-banyak untuk persiapan tamu-tamu yang mungkin datang malam ini. Tapi buatkan kami kopi dulu dua. Kalau masih ada susu di dapur, seduhkan untuk adik ini," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Enggeh, Tuan Guru." Santriwati membungkukkan punggungnya memberi hormat sebelum pergi menuju dapur.
"Ngomong-ngomong, kenapa anak ini bisa bersama Pak Mas'ud?" tanya Tuan Guru Alamsyah Hasbi menolehkan pandangannya kembali ke arah Faiz.
"Tadi, ketika saya mau berangkat mengambil pupuk di kota, tiba-tiba bu Johani datang. Ia titip salam sama Tuan Guru. Katanya, untuk sementara, anaknya biar dititip belajar dulu di pesantren. Eee..," Pak Mas'ud menghentikan pembicaraannya. Ia menoleh ke arah Faiz. Ia takut apa yang akan disampaikannya terkait bapaknya kepada Tuan Guru Alamsyah Hasbi didengar olehnya.
__ADS_1
"Apa gak apa-apa anak ini mendengarnya, Tuan Guru?" tanya pak Mas'ud.
"Gak apa-apa. Ia belum mengerti," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Ia lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari gulungan sarungnya. Sebatang rokok dikeluarkan dari dalamnya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi meraba kaos yang dipakainya.
"Astaga, koreknya ketinggalan di atas," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
Pak Mas'ud sigap mengambil korek api dari saku bajunya dan memberikannya kepada Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Asap rokok mulai bertebaran di langit-langit gazebo.
"Lanjutkan ceritanya, Pak Mas'ud,"kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
Pak Mas'ud memperbaiki posisi duduknya. Karna merasa apa yang akan disampaikannya sangat penting, juga karna suara hujan yang lebat, ia merengsek lebih dekat ke arah Tuan Guru Alamsyah Hasbi.
"Pak Adin semakin parah, Tuan Guru. Pak Adin semakin bertindak aneh. Bahkan, bu Johani mengharap Tuan Guru datang. Jangan sampai terlambat." pak Mas'ud terdiam. Ia memperhatikan bulu-bulu halus di lengan tangannya berdiri. Sesekali ia terlihat bergidik ngeri. Ia masih ingat dua kejadian aneh yang dilihatnya terkait Adinullah.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi kembali menghisap batang rokok di bibir hitamnya. Asapnya di hempaskannya ke arah samping. Takut angin membawanya ke hidung Faiz.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang.
"Adinullah tidak akan berani mencelakai Johani. Insya Allah, dia aman selama ia tetap berlindung kepada Allah dengan amalan yang telah aku berikan." Tuan Guru Alamsyah Hasbi kembali mendesah panjang.
__ADS_1
"Akan terjadi fitnah besar di kawasan selatan. Hanya orang-orang yang kuat imanlah yang akan selamat," sambung Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tak berapa lama setelah itu, tiga orang santri terlihat membawa termos dan beberapa gelas ke gazebo. Dua kopi dan satu susu yang telah diseduh, masing-masing di letakkan di depan Tuan Guru Alamsyah Hasbi, pak Mas'ud dan Faiz.
"Terus; apa tindakan kita, Tuan Guru?" kata pak Mas'ud setelah para santri itu pergi.
"Untuk sementara kita harus menunggu. Menunggu petunjuk dari Allah. Inilah fitnah besar yang pernah di isyaratkan oleh Yang Mulia guru kita, Tuan Guru Mawalli Maolana Ibrahim. Mutiara menjadi sampah dan sebaliknya, sampah menjadi mutiara," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Wajah Tuan Guru Alamsyah Hasbi yang tiba-tiba berubah resah, membuat pak Mas'ud khawatir.
"Apa yang harus kami lakukan agar selamat, Tuan Guru?" kata pak Mas'ud cemas. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menampakkan ketenangannya dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Tetap teguh memegang syariat yang ada. Apa yang telah ditetapkan agama, jika ada yang merubahnya, sekalipun ia bisa terbang di angkasa, maka saksikanlah itu sebagai kebohongan yang nyata. Dengan begitu, kamu akan selamat dari fitnah itu," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Kata-kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi membuat hati pak Mas'ud menjadi tenang.
"Ayo, diminum kopinya, Pak Masud," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi mempersilahkan pak Mas'ud. Pak Mas'ud mengangguk dan menyeruput pelan kopinya.
"Ayo, diminum susunya, Faiz. Biar perut kamu hangat," kata pak Mas'ud. Faiz melirik ke arah Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum. Dengan malu-malu, Faiz mengangkat gelas di tangannya dan meminumnya.
"Biar nanti dia main sama Kamal. Sekarang dia masih tidur," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Pak Mas'ud mengangguk.
Untuk beberapa lamanya, keduanya terdiam. Tak ada lagi kata yang keluar dari mulut keduanya. Baik Tuan Guru Alamsyah Hasbi maupun pak Mas'ud terdiam dalam pikiran masing-masing. Hujan masih turun dengan lebatnya. Suaranya terdengar ramai di atas atap asbes asrama. Suara shalawat yang dilantunkan santri lewat pengeras suara, nyaris tak terdengar akibat suara riuh hujan yang berjatuhan. Juga angin yang sesekali menghempas.
Tuan Guru Alamsyah Hasbi menoleh ke arah Faiz. Faiz terlihat beberapa kali menguap. Ia terlihat bosan dan mulai mengantuk. Tuan Guru Alamsyah Hasbi memerintahkan pak Mas'ud untuk membawanya masuk ke dalam rumah. Pak Mas'ud menyuruh Faiz berbaring di sofa dan menunggunya beberapa saat sampai akhirnya Faiz tertidur pulas. Setelah memastikan Faiz benar-benar pulas dalam tidurnya, pak Mas'ud kembali menemui Tuan Guru Alamsyah Hasbi di gazebo.
__ADS_1
"Kalau kamu punya nomornya pak Makripudin, hubungi dia. Bilang disuruh saya ke pesantren," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi setelah pak Mas'ud kembali duduk di depannya.
"Sekarang, Tuan Guru?" tanya pak Mas'ud sembari meraih ponsel di dalam saku celananya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi menganggukkan kepalanya.