Menikahi Putri Jin

Menikahi Putri Jin
#39


__ADS_3

"Selamat datang, Pak Makripudin."


Terdengar suara menggema dari arah pohon beringin. Orang-orang serempak mengarahkan pandangan mereka ke arah pohon beringin. Mata Pak Mas'ud melirik kesana kemari. Ia lebih mendekat dan menempelkan tubuhnya di tubuh pak Makripudin. Pak Makripudin menggerak-gerakkan tangannya memberi isyarat agar pak Mas'ud tetap tenang. Suasana di dalam hutan tiba-tiba menjadi mencekam. Sepi. Tak ada suara apapun yang terdengar di dalam hutan itu. Bahkan orang-orang sepertinya tak ingin memperdengarkan suara nafas mereka. Tubuh pak Mas'ud bergetar hebat ketika melihat akar-akar pohon beringin di depannya bergerak perlahan ke atas dan memperlihatkan sosok Adinullah yang duduk bersila dengan latar belakang patung dengan kepala berbentuk kobaran api. Dua sayap berwarna merah menyala menambah kesan angker pada patung itu. Patung setinggi empat meter dengan posisi berdiri dan dengan kedua tangan diangkat setinggi bahu itu, nampak menakutkan dengan dua buah bola mata besar menatap ke arah depan. Seperti hendak menelan apapun yang ada di depannya. Pandangan orang-orang kini tertuju ke arah Adinullah yang masih memejamkan matanya. Pak Makripudin menundukkan kepalanya. Doa-doa mulai dirafalkannya.


Adinullah membuka matanya dan menatap ke arah pak Makripudin.


"Selamat datang di tempat kami, Pak Makripudin. Silahkan duduk," kata Adinullah. Pak Makripudin mengangkat kepalanya. Ia terlihat tenang. Tak sedikitpun ia terlihat tegang, apalagi takut seperti yang terlihat padapak Mas'ud. Pak Makripudin menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Pak Adin. Kami di sini saja," jawab pak Makripudin.


"Pak Makripudin! kamu sama sekali tak menghargai Syeikh. Tidakkah kamu melihat karomah yang diperlihatkan syeikh? Akar pohon itu saja tunduk kepada beliau, tapi kenapa hanya sekedar mentaati Syeikh untuk duduk saja kamu tidak mau," kata pak Satri. Pak Makripudin tersenyum. Ia menatap tenang ke arah pak Satri.


"Maaf, Pak Satri. Aku bukan pengikut Syeikhmu. Aku sama sekali tak merasa heran dengan apapun keajaiban yang diperlihatkan guru kaluan. Jangankan itu, Pak Adin bisa terbang dan berjalan di atas air pun, aku tetap menganggap itu semua dari setan, selama pak Adin tak mengerjakan syariat. Aku tak akan tertipu, Pak Satri." Pak Makripudin tersenyum ketus. Ia mengarahkan pandangannya ke arah patung itu.


"Apalagi ketika aku melihat patung itu. Aku tak perlu meragukan kesesatan kalian. Kalian telah syirik," kata pak Makripudin. Adinullah mengangkat salah satu tangannya ketika melihat pak Satri dan orang-orang di belakangnya maju hendak mendekati pak Makripudin. Adinullah menatap ke arah pak Makripudin.


"Patung ini adalah wasilah, Pak Makripudin. Hanya perantara, penyambung menuju kehadirat Pencipta," kata Adinullah. Pak Makripudin tersenyum ketus.


"Tidak ada itu, Pak Adin. Patung itu tetap lambang kesyirikan. Bukan begitu caranya, Pak Adin. Ada perintah shalat sebagai sebenar-sebenarnya hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannya. Kita hanya diperintahkan sujud kepada Sang Pencipta Alam semesta, yaitu Allah SWT. Apa yang pak Adin lakukan ini adalah sesuatu yang pernah dilakukan orang-orang musyrik sebelumnya. Kamu sudah pernah mendengarnya sendiri dari Tuan Guru, Pak Adin. Jangan mengada-ada demi tujuanmu yang sesat itu," jelas pak Makripudin panjang lebar. Ia kembali menggelengkan kepalanya sembari mengalihkan pandangannya ke arah pak Satri dan orang-orang di belakangnya.

__ADS_1


"Aku kasihan pada Pak Satri dan saudara-saudara sekalian. Kenapa kalian tidak mencari guru yang benar. Astaghfirullah. Apa yang telah kamu lakukan ini, Pak Adin," kata pak Makripudin.


"Jangan menganggap kami seolah-olah kami adalah orang dungu, Pak Makripudin," jawab pak Satri. Tatapannya terlihat tajam. Kembali Adinullah mengangkat tangannya memberi isyarat agar pak Satri mundur.


Adinullah kemudian bangkit dan berdiri tegak menghadap pak Makripudin.


"Baik, lalu apa bedanya kalian menggunakan perantara ruh-ruh orang alim agar terhubung dengan Tuhan? Bukankah tawassul yang kalian lakukan sama dengan yang aku lakukan ini?" kata Adinullah.


Pak Makripudin mendesah sambil tersenyum ketus. Ia melangkah maju beberapa langkah.


"Itu hal yang berbeda, Pak Adin." Pak Makripudin menggelengkan kepalanya. Ia menengok kesana kemari seperti mencari sesuatu. Sebuah dahan kayu yang tergeletak di tanah di ambilnya. Ia kemudian membersihkan daun dan ranting-ranting pada dahan itu. Ia lalu mengeluarkan parang dari balik bajunya dan memotong dahan kayu itu sepanjang selengan.


"Baiklah, saya akan memberikan gambaran pada Pak Adin. Anggaplah kayu ini senapan," kata pak Makripudin sambil mengangkat dahan kayu itu dan memegangnya layaknya seorang yang sedang memegang senapan dan membidikkannya ke arah Adinullah.


"Kayu atau anggaplah senapan yang aku pegang ini adalah prantara. Yang aku tuju bukan senapan ini, tapi burung itu. Tapi ketika membidik seekor burung, yang aku lihat bukan burungnya, tapi ujung senapan. Atau contoh lain, saya ingin bertemu dengan seorang raja. Tentu untuk bertemu dengan seorang raja tak semudah kita bertemu dengan teman kita. Kita butuh orang dekat sang raja agar kita cepat tersambung dengan Raja.


"Terus apa bedanya, pak Makripudin." Adinullah tersenyum. Semua pengikutnya ikut tersenyum.


"Aku hanya ingin memperlihatkan yang nyata kepada para pengikutku. Bukan sesuatu yang tak bisa dilihat," sambung Adinullah.

__ADS_1


"Astaghfirullah.Jelas berbeda, Pak Adin. Pak Adin menganggap Tuhan berada di dalam patung itu. Jadi omong kosong kalau patung itu adalah perantara. Pak Adin dan orang-orang Pak Adin pasti menyembah patung itu. Sedangkan kami tidak menjadikan orang-orang yang dekat dengan Allah sebagai sesembahan kami. Kami hanya menggunakan kedekatan mereka sebagai perantara agar kami mendapat barokah mereka di sisi Allah," jawab pak Makripudin. Adinullah belum juga berhenti tersenyum.


"Sama saja, Pak Makripudin. Sekarang mari, duduklah jika kamu mau membuktikan apa yang ingin kamu buktikan tiga hari yang lalu,"


Pak Makripudin mendesah dan menoleh ke arah pak Mas'ud. Pak Makripudin menganggukkan kepalanya.


"Kami mau duduk, tapi tidak di hadapan patung itu. Kami tidak mau itu adalah simbol ketundukan kami,"


"Kalau begitu duduklah di tempat kamu berdiri,"


Pak Makripudin kemudian mengajak pak Mas'ud duduk. Pak Satri yang masih berdiri memberi isyarat kepada orang-orang di belakangnya ikut duduk ketika melihat Adinullah duduk di kursinya.


"Silahkan, Pak Makripudin. Katakan, kitab apa yang ingin kamu dengar. Aku akan membacanya dan menjelaskannya untukmu. Biar Pak Makripudin tahu bahwa aku adalah orang terpilih yang dianugrahi ilmu laduni oleh Tuhan," kata Adinullah.


"Silahkan. Aku ingin melihat kitab apa saja yang Pak Adin tahu," jawab pak Makripudin. Adinullah mengangguk. Ia kemudian bangkit dan melangkah ke arah patung. Ia membungkukkan badannya menghaturkan sembah, setelah itu ia kembali duduk bersila menghadap patung. Untuk beberapa saat, Adinullah memejamkan matanya dengan mulut yang komat-kamit membaca sesuatu. Pak Makripudin hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


Setelah untuk beberapa lamanya Adinullah khusyu' di depan patungnya, ia membuka mata dan membalikkan posisi duduknya menghadap pak Makripudin dan pak Mas'ud.


"Sebelum aku membacakan beberapa kitab, kalian yang ada di sini akan mendengarkan apa yang akan dikatakan sesembahan kita tentang Tuan Guru Alamsyah Hasbi." Adinullah berdiri dan kembali menghadap patungnya. Ia kembali membungkukkan badannya tiga kali.

__ADS_1


"Wahai Tuhan sesembahan kami. Ceritakanlah kepada para pengikut setiamu dan orang-orang yang tidak mempercayaimu. Ceritakan mereka tentang Tuan Guru Alamsyah Hasbi," kata Adinullah dengan suara lirih namun masih bisa didengar orang-orang di belakangnya.


Tiba-tiba patung itu bergetar kemudian bergerak semakin cepat ke kiri dan ke kanan. Pak Satri dan orang-orang yang ada di belakangnya sontak berdiri. Mereka terlihat heran melihat patung yang bergerak dan kini hampir tak terlihat sebab asap yang tiba-tiba keluar dari mulut dan kedua matanya.


__ADS_2