
Suasana semakin gelap. Mendung masih menaungi langit hutan. Di dalam gubuknya, Johani duduk penuh rasa was-was. Angin terdengar menderu dari luar gubuk. Adinullah sejak siang tadi belum juga pulang. Terkadang ia berharap Adinullah lebih baik tak pulang saja. Tapi di sisi lain, karna hujan tak reda-reda dengan angin yang datang tiba-tiba menghempas, ia jadi memikirkan dimana kini Adinullah berteduh. Ia tak sempat ke ladang karna hujan. Ia berharap Adinullah memang benar-benar pergi ke ladang dan menginap malam ini di sana.
Johani bangkit dan melangkah menuju lampu teplok di atas meja. Diangkatnya lampu teplok itu dan digoyang-goyangkannya. Minyak tanah yang ada dalam wadah lampu teplok adalah persediaannya yang tersisa. Jika Tuan Guru Alamsyah Hasbi tidak datang menyambanginya atau ia tidak ke desa untuk membeli minyak tanah, maka untuk besok malam, suasana di dalam rumah akan gelap-gulita.
Terdengar suara seperti orang berjalan dari arah luar. Johani meletakkan kembali lampu teplok di atas meja. Dengan pelan ia kembali ke tempat duduknya. Resah. Dadanya berdebar. Keyakinannya lebih condong bahwa suara orang berjalan di luar rumah adalah Adinullah.
Jantung Johani seketika berdetak kuat ketika terdengar suara ketukan pintu keras dari arah luar. Johani menghela nafas panjang dan memejamkan matanya. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca doa. Suara ketukan pintu masih terdengar. Bahkan semakin keras. Johani bangkit dan melangkah pelan ke arah pintu.
"Siapa?" tanya Johani.Suaranya terdengar bergetar.
"Memangnya kamu punya suami simpanan lain sehingga bertanya seperti itu." Terdengar suara berat penuh kemarahan dari arah luat. Johani mendesah pelan. Tangannya bergetar ketika melepaskan balok kayu yang digunakan untuk mengganjal pintu.
Johani menahan nafasnya ketika Adinullah muncul di balik pintu. Aroma tubuh Adinullah tercium sangat bau. Ia hampir mau muntah, tapi ditahannya. Setelah Adinullah masuk ke dalam kamar, ia menutup kembali pintu gubuknya.
__ADS_1
"Mau aku siapkan makanan?" kata Johani memberanikan diri mendekati Adinullah. Adinullah yang sudah duduk bersila di atas tempat tidur, menatapnya tajam.
"Aku tidak makan lagi makanan kefanaan. Para kekasih Tuhan langsung diberi makan dari surga," kata Adinullah. Johani menatapnya.
"Dan malam ini kamu tidur di luar. Jangan sekali-kali masuk ke dalam ruangan ini selama aku masih di sini. Jangan coba-coba melanggar perintahku," kata Adinullah ketika melihat Johani masih tertegun menatapnya. Johani masih terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk dan membalikkan badannya. Sarung lusuh di penggantungan diambilnya dan melangkah. Johani berpikir, memang seharusnya ia tak tidur sekamar dengan Adinullah. Dengan tak mengikuti Adinullah,otomatis talak Adinullah telah jatuh. Ia masih bertahan di sana hanya karna ingin suatu saat nanti Adinullah sadar dan kembali menjadi Adinullah yang dulu. Suami yang mencintainya. Yang selalu memperingatkannya penuh kelembutan jika ia salah.
"Sebentar." Johani menghentikan langkahnya. Ia menoleh.
"Besok, bawa si Faiz kesini. Aku akan mengajaknya ke suatu tempat," kata Adinullah. Johani kembali memalingkan wajahnya. Ia menatap ke arah depannya yang gelap. Dia masih memikirkan apakah akan memberitahu Adinullah yang sebenarnya tentang Faiz atau tidak. Sudah pasti ia akan marah jika tahu ia telah menitipkannya di pondok pesantren milik Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dia hanya seorang perempuan dan sendiri di tempat itu. jika Adinullah tahu dan marah besar, tentu malam ini akan semakin menakutkan baginya.
Gemeritik hujan masih terdengar di atas semak-semak dan ranting-ranting kering pohon bidara yang mengelilingi halaman gubuk. Gelap menghampar.
Johani memasang pendengarannya dalam-dalam. Ia bangkit dan bersandar di ikatan-ikatan kayu kering yang menumpuk. Ada suara-suara aneh yang mulai terdengar dari dalam gubuk. Suara dari ranjang reot di dalam gubuk terdengar menggeretas beberapa kali. Johani mendesah pendek. Mungkin ada hal aneh yang dilakukan Adinullah di dalam gubuk itu. Johani kembali menghempaskan tubuhnya perlahan. Tak ada gunanya ia tahu apa yang dilakukan Adinullah. Tak ada yang bisa ia lakukan. Lebih baik dia tetap di tempatnya. Ia berharap besok pagi akan ada kabar dari Tuan pak Mas'ud. Lebih-lebih kabar kedatangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi ke tempat itu.
__ADS_1
* * * * *
Adinullah masih duduk bersila dalam kegelapan. Lampu teplok yang ada di atas meja sudah ia matikan setelah Johani meninggalkan ruangan itu. Beberapa mantra yang telah diajarkan Zabarjad mulai ia rapalkan satu demi satu. Malam ini ia ingin kembali menemui Zabarjad. Ada seorang gadis dari beberapa perempuan peladang yang ia temui di sepanjang perjalanan pulangnya, membuatnya sedikit terangsang. Body gadis yang padat berisi dari kebaya tipis dan sarung yang ia pakai membuat Adinullah tak mau mendahuluinya. Lenggak-lenggok pantatnya,membuatnya tak sabar ingin segera melampiaskannya kepada Zabarjad. Ia mengenal orang tua gadis itu. Suatu saat nanti, jika pengaruhnya semakin meluas dan ia bisa mempengaruhi kedua orang tua gadis itu, ia pasti bisa merasakan nikmat tubuh gadis itu.
"Kenapa kamu memanggilku, Adinullah."
Terdengar bisikan lembut di telinga Adinullah. Adinullah tesenyum. Itu suara lembut Zabarjad. Suara menggairahkan yang membuat bergetar seluruh tubuhnya.
"Bawa aku ke tempatmu, Zabarjad. Aku merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu," jawab Adinullah dalam batinnya.
"Kamu punya kuda bireng Mundung. Jika kamu sudah memenuhi syarat dengan berhasil memperbanyak pengikutmu, dia pasti muncul menjemputmu."
Adinullah tersenyum. Ia memejamkan matanya. Ia mulai membayangkan bentuk dan rupa bireng mundung dan memberi isyarat dalam pikirannya agar Kuda Bireng Mundung datang menjemputnya.
__ADS_1
Suara ringkihan kuda terdengar. Johani melonjak kaget. Ia kembali memasang pendengarannya. Ia kembali mengangkat tubuhnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Suara ringkihan kuda itu sangat terdengar jelas dari arah samping. Tepat dari arah kamar tempat Adinullah berada. Setahunya, selama ia tinggal di tempat itu, ia tidak pernah mengetahui kalau ada dari peladang-peladang di kawasan hutan itu yang memelihara kuda. Ia sangat yakin, suara kuda itu memang berasal dari kamar Adinullah. Ia juga yakin, Adinullah menyuruhnya keluar dari dalam gubuk karna ada sesuatu yang akan diperbuat Adinullah. Ia tak perlu meragukannya. Tuan Guru Alamsyah Hasbi sudah memberitahunya tentang keadaan Adinullah saat ini yang sedang melakukan persekutuan dengan jin.
Johani menggeser tubuhnya ke belakang. Tangannya meraba-raba ke arah kayu-kayu yang menumpuk di sampingnya. Sebatang kayu dicabutnya pelan dari dalam ikatannya dan meletakkannya di depannya. Ia tak begitu yakin akan ia gunakan untuk apa sebatang kayu itu. Tapi yang jelas, ia merasa membutuhkan kayu itu di depannya.