Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 21


__ADS_3

Boleh, yuk cuz!" sahut Dina sumringah.


"Bentar, aku pamit sama ibuku. Sekalian mau nitipin Hilya. Dia masih anteng tidur." Dara masuk ke dalam kamar tamu yang di dalamnya ada ibu dan anaknya yang tengah tertidur. Dara tidak tega membangunkannya, akhirnya memilih keluar kamar lagi. Tapi untungnya Bagas sudah pulang dari sekolah. Jadi Dara bisa pamitan sama adiknya itu.


Dara dan Dina pergi ke mall terdekat untuk membelikan hadiah untuk Riani.


Dara membeli hadiah jam tangan yang cukup mahal dengan merek terkenal.


Sedangkan Dara, membelikan Riani tas seharga sepuluh jutaan, sebagai ucapan terimakasih atas bantuan Riani, sehingga Dara bisa memiliki uang dari membodohi suaminya sendiri.


"Kita cari makan dulu, yuk!" ajak Dina yang sudah selesai memilih jam tangan dan membungkusnya.


"Boleh, dimana?" sahut Dara yang juga perutnya sudah merasakan lapar.


"Disana saja, aku mau makanan Jepang.


Kamu gak papakan?" balas Dina menatap Dara yang langsung mengangguk.


Saat Dara dan Dina asik menikmati hidangan di mejanya. Tiba tiba Haris datang menghampiri mereka dengan wajah tak sukanya.


"Wah, lagi banyak yang ya. Bisa makan di tempat mahal kayak gini.


Tapi sayangnya, kaku gak pantas ada di restoran sebagus ini, gak level!" cibir Haris dengan penuh kebencian. Namun Dara hanya memilih diam, memilih menghabiskan makanannya dan seolah tuli dengan mulut tajamnya Haris.


"Baru makan enak saja, sudah sombong kamu!" herdik Haris sekali lagi, dan kali ini Dara sudah habis kesabaran, sehingga tidak akan diam lagi dengan cemooh laki laki yang masih sah suaminya itu.


"Apa maumu, mas?


Apa kamu ada masalah, kenapa lihat aku makan saja kamu kepanasan?" jawab Dara dingin.


"Jangankan untuk makanan kayak gini, beli yang lebih mahal saja aku mampu kok!" sambung Dara dengan senyuman miring meremehkan.


"Memang kamu bisa soa?


Kerja saja enggak, kok mimpi banyak uang!


Sadar, Ra! Sadar!" sahut Haris masih dengan suara meremehkan dan terkesan merendahkan.


"Oh iya, kamu belum tau ya?


Aku sekarang sedang membangun bisnis dengan saudaranya Dina. Kakaknya Riani teman sekantor kamu itu.


Jadi, jangan iri, kalau nanti aku bisa lebih sukses dari kamu!" balas Dara dengan nada angkuh dan senyuman sinis ia tunjukkan pada Haris yang langsung terlihat shock dengan penuturan Dara.


"Apa?


Kamu membangun bisnis, dengan kakaknya Riani?


Gak salah denger aku?


Mimpi kali, gak mungkin!" sahut Haris sambil mengibaskan tangannya.


"Gak percaya ya sudah, bodoh amat.


Lagian kita juga mau cerai kan?

__ADS_1


Jadi jalani hidup masing masing saja, dan jangan mengurus urusan masing masing. Paham?" tekan Dara dingin, membuat Haris kesal dan akhirnya pergi begitu saja meninggalkan Dara dan Dina yang tersenyum kecut melihat tingkah Haris.


"Kenapa kamu kasih tau si Haris, Ra?


Kalau kamu sedang ada bisnis dengan Rangga. Apa kamu gak takut dia merecoki kamu?" Dina menatap lekat ke arah Dara.


"Gak papa, kan aku tinggal bilang, kalau usaha itu milik Rangga. Lagian buat dia tidak curiga kalau aku banyak uang." sahut Dara tenang.


"Yasudah, pasti kamu lebih tau mana yang terbaik." balas Dina yang berusaha memahami pikiran sahabatnya itu.


"Pasti si Haris ke sini, sedang cari hadiah buat Riani. Kira kira dia mau beli apa ya?" tebak Dara yang terlihat penasaran.


"Semoga saja, hadiah yang berkelas dan bisa dijadikan duit. Biar bisa nambahin saldo kamu saat jadi janda, hahahaa!" ledek Dina yang membuat Dara memanyunkan bibirnya kesal Karena ledekan sahabatnya itu.


Setelah kenyang, Dara dan Riani langsung pulang dan bersiap siap datang ke acara tunangan adiknya Riani, sekaligus ulang tahunnya Riani.


Dara mengajak Bu Rohimah, tapi wanita tua itu menolaknya, lebih baik dirumah dan menjaga cucunya saja.


"Ibu dirumah saja, sama Hilya.


Malam malam, biar Hilya dirumah, kasihan kalau ikut, gak baik buat kesehatannya.


Kamu pergi saja sama Bagas. Nanti biar bapak yang temani ibu jagain Hilya disini." tolak Bu Rohimah halus, dan Dara hanya bisa pasrah dengan keputusan ibunya.


Akhirnya, Dara pergi kerumah Riani di temani Bagas,sang adik laki laki, menaiki motor besarnya.


Saat sampai dirumah Riani, dara disambut oleh Riani dan keluarganya dengan sangat baik.


Acara berjalan lancar, dan penuh kebahagiaan.


Rangga yang terus memperhatikan Dara, membuat Riani paham, kalau kakaknya mulai tertarik dengan calon janda disampingnya.


Akhirnya beberapa foto dengan berbagai pose diambil, bahkan ada Rangga dan Tomi yang ikutan foto juga.


"Aku buat status di ponsel yang ini ya, Ni?"


Dara meminta ijin untuk memposting foto mereka buat status di nomor kusus Haris.


Ingin memancing reaksi Haris saat melihat dirinya bersama dengan Riani dan keluarganya.


Dan benar saja, tak berselang lama ada pesan masuk dari Haris mengomentari status yang Riani buat.


[Kok bisa ada Dara sama kamu, sayang?


Bikin sepet mata saja. Habis lihat yang bening, terus lihat yang kucel, bikin eneg tau gak] komentar Haris dengan disertai tawa lebar.


[Jangan menghina istri sendiri, kalau dia berubah cantik, kamu menyesal loh!]


[Gak bakalan, mau dia perawatan dan pakai skincare mahal pun, tetap gak bisa ngalahin kecantikan kamu!]


[Terimakasih, mas!


Gak sia sia aku selalu rutin ke salon.


Makanya aku tuh berharap dapat suami itu yang loyal dan kaya, biar aku terus tetap cantik]

__ADS_1


[Kamu tenang saja, kalau kamu mau menikah sama, mas! Yang gak jadi soal. Berapapun yang kamu mau, akan mas kasih!]


[Yang bener?]


[Iyalah, bener!


Besok jam berapa acara makan makan di restoran, sama berapa orang yang kamu undang?


Aku sudah siapkan kado spesial buat kamu, loh!]


[Wah, makasih ya mas!


Besok jam tiga sore. Aku cuma undang lima orang saja kok. Gak perlu banyak banyak. Cuma yang Deket saja sih!]


[Yasudah, besok kamu share lokasi ya dan mas pasti datang. Sudah gak sabar pingin nikahi kamu]


[Makanya, cepet urus perceraian kamu, mas!


Biar ceper beres!]


[Iya, paling Minggu depan mas akan urus di pengadilan. Kamu yang sabar ya!]


[Oke]


Dan Dara tak lagi membalas pesan Haris, lalu menunjukkan percakapannya barusan pada Riani dan yang lainnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2