
"Kalian sudah menghancurkan rencanaku.
Gara gara ada kalian, Haris jadi mengabaikan aku sebelum aku puas belanja.
Mana berikan perhiasan yang Haris berikan sama anakmu padaku!" teriak Sherly yang mengacak acak paperbag pemberian Haris untuk Hilya.
Dara hanya diam saja, tak perduli dengan apa yang dilakukan Sherly.
Namun saat Sherly hendak mengambil kotak perhiasan milih Hilya, ada suara yang menggelegar membentak Sherly penuh murka, sehingga Sherly langsung mendadak pucat dan tak berkutik sama sekali.
"Hentikan!
Dasar ****** sialan kamu, Sherly!
Kamu sudah lancang, berani beraninya kamu menyentuh barang barang milik anakku!" bentak Haris dengan wajah mengeras.
Haris sengaja balik lagi, karena lupa mau memberikan uang jajan buat Hilya. Tapi Haris dibuat murka saat melihat tingkah Sherly yang kurang ajar.
"Mas!" Sherly tak berkutik, tubuhnya bergetar melihat Haris, batinnya sudah mengatakan firasat buruk akan sikap Haris padanya.
"Bondan!
Bawa ****** itu keluar, seret dia dan bawa ke markas. Dia harus menerima hukuman akibat sikap lancangnya itu." teriak Haris murka, dan Bondan langsung melaksanakan perintah Haris.
Haris kembali memasukkan barang barang Hilya yang sempat di obrak Abrik sama Sherly.
Lalu menghampiri Dara dan menyerahkan amplop coklat.
"Terimalah, ini buat tabungan Hilya!" Haris menatap sayu ke arah putrinya yang terlihat takut padanya, menyembunyikan wajahnya di dada bundanya.
"Hilya, ini ayah nak.
Maafkan ayah ya, ayah janji akan lebih memperhatikan Hilya setelah ini.
Terimalah." Haris meletakkan amplop coklat berisi lembaran uang ke tangan Dara. Lalu kembali melangkah pergi meninggalkan Dara yang masih belum mampu mencerna apa yang terjadi.
Sikap Haris benar benar berubah pada anaknya.
"Din, apa aku gak mimpi?
Apa benar itu mas Haris, ayahnya Hilya?" Dara berucap dengan wajah tak percaya, masih belum mengerti apa yang baru saja dialaminya.
"Entahlah, habis kesambet dari mana tuh orang.
Kok berubah baik banget ya?" sahut Dina yang membuat Dara mengherdikan bahunya.
"Kalian ini, ya syukuri saja kalau di Haris bisa berubah dan ingat anaknya.
Tapi ya harus tetap waspada saja, takutnya itu hanya sandiwara saja, dia punya rencana yang kita gak tau, bisa saja kan?" sambung Sintia yang ikut menimpali.
"Sini, Hilya biar ganti aku yang jagain, sana giliran kamu yang me time, nikmati waktumu, Ra!" Sintia mendekat dan mengambil alih Hilya ke dalam gendongannya, pun dengan Dina yang juga gilirannya melakukan perawatan setelah Riani.
__ADS_1
"Mbak Dara, boleh aku lihat apa isinya semua ini?
Aku kok penasaran?" tanya Riani yang melihat ke arah paperbag paperbag yang tergeletak segitu banyaknya.
"Boleh, buka saja. Aku juga gak tau apa saja isinya." sahut Dara santai dan mulai terpejam menikmati sentuhan petugas salon dengan perawatannya.
Riani membuka satu persatu isi paperbag yang memang kesemuanya berisi keperluannya Hilya, mulai dari baju, sepatu, sabun, shampo, minyak bayi dan teman temannya.
Dan saat Riani membuka dua kotak perhiasan yang memiliki ukuran cukup besar, matanya melotot dan terlihat sangat takjub dengan isi di dalamnya.
Perhiasan mas seukuran Hilya satu set, dan satu set ukuran dewasa. Dan kotak satunya berisi berlian satu set yang sangat cantik dilengkapi dengan kartu keasliannya.
"Wah, ini mah luar biasa.
Perhiasannya cantik banget, dan ini berlian yang limited edition loh, harganya saja hampir satu M.
Gila!" seru Riani yang membuat Dara kembali membuka matanya dan menoleh kearah Riani.
"Masak sih, gak salah kamu, dek?" sahut Dara penasaran.
"Iya serius, ini mbak Dara lihat deh!" sahut Riani yang menunjukkan perhiasan ke hadapan Riani.
"Anggap saja rejekinya Hilya!" seru Sintia yang ikut menimpali.
Dan mencium pipinya Hilya dengan gemas.
"Itu coba kamu cek juga, amplop yang baru saja mas Haris berikan!" titah Dara yang jadi penasaran.
"Lima puluh juta gaes!
Wah, sepertinya Haris mulai sadar tuh dengan tanggung jawab sebagai bapak ke anak!" seru Riani.
"Tapi aku kok takut ya!
Uangnya itu halal apa haram ya?
Jan kalian tau sendirilah pekerjaan mas Haris itu apa?
Aku harus apakan pemberian mas Haris?" gumam Dara yang bimbang dan khawatir.
"Simpan saja gak papa, tapi sebagian lebih baik kamu sumbangkan saja." sahut Dina menimpali ucapan Dara.
"Iya, aku juga mau diskusikan sama bapak juga ibu nanti, entahlah aku kok khawatir kalau itu sesuatu yang gak berkah. Takut Hilya kenapa Kenapa." sahut Dara cemas.
"Iya, lebih baik tanya sama yang lebih layak saja.
Tapi menurutku, biarkan Haris bertemu sama Hilya selagi dia gak bersikap aneh aneh dan membahayakan Hilya. Karena bagaimanapun dia itu bapak kandungnya Hilya." celetuk Sintia serius dan menepuk nepuk paha hilang yang mulai memejamkan matanya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan dilain tempat, Sherly yang sudah dibawa ke markas, mendapatkan tamparan dan kemurkaan Haris.
__ADS_1
"Aku peringatkan sama kamu, Sherly!
Jangan sekali kali kamu mengusik anakku!
Karena aku bisa jalan saja menghabisi kamu!
Aku memang tidak pernah perduli dan mau tau tentang anakku selama ini. Tapi setelah melihatnya dan wajahnya sangat mirip denganku, aku jadi sangat menyayangi anak itu, dan berjanji untuk membahagiakan anakku. Dan kalau sampai ada yang lancang berani menyentuhnya apalagi mengusik anakku, maka aku tidak pernah segan untuk membunuhnya!" tekan Haris yang menatap tajam pada Sherly yang meringis menahan rasa sakit akibat tamparan berulangkali dari Haris.
"Maafkan aku, mas!
Tolong lepaskan aku, aku janji tidak akan mengulanginya, aku tidak akan lagi mengusik mantan istrimu dan anaknya.
Tolong lepaskan aku, maafkan aku mas Haris!" Sherly meneteskan air mata, dadanya begitu sakit oleh perlakuan kejam Haris.
Dan meskipun bibirnya berkaki kali memohon maaf, tapi hatinya menyimpan dendam untuk membalas perlakuan Haris padanya.
Dan Sherly tau apa yang harus dilakukan setelah ini. Edward, Sherly akan mendatangi lelaki itu dan memanfaatkan kebencian Edward pada Haris untuk membalas sakit hatinya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1