Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 24


__ADS_3

"Baiklah, aku tunggu, mas!" Riani tersenyum, membuat Haris merasa bahagia.


"Yasudah, sudahi ngobrolnya. Kita makan dulu hidangan yang ada. Mubasir dari tadi dianggurin." sambung Dina yang mulai ikut angkat bicara.


Dan di iyakan oleh semua.


"Rasain kamu, mas!


Sombong sih, jadi kena tipu kan!" Dara tersenyum sendirian, senang melihat Haris dipermainkan oleh semua teman temannya yang begitu apik memainkan sandiwara untuk menguras uang Haris.


Acara makan makan selesai, Haris dengan terpaksa pulang lebih dulu, karena sedari tadi mamanya terus menelpon.


Setelah kepergian Haris, Riani menyerahkan kotak yang berisi perhiasan yang tadi diberikan oleh Haris untuknya, sebagai hadiah ulang tahunnya.


"Kok diberikan ke aku?


Ini kan kado buat kamu, Ri!


Aku gak berhak menerima ini, perhiasan ini diberikan sebagai kado ulang tahun kamu sama mas Haris." Dara merasa keberatan dan juga sungkan kalau harus menerima hadiah yang memang diberikan pada Riani untuk kado ulang tahunnya.


"Gak kok mbk, lagian aku juga ogah Nerima kado dari mas Haris. Perhiasannya buat mbak Dara saja, simpan atau dijual lagi. Bisa buat tabungan mbak Dara!" sahut Riani yakin.


"Iya, mbak!


Lagian aku juga gak mau, Riani terima hadiah dari laki laki lain, apalagi laki laki itu Haris. Duh bikin emosi jiwa." sambung Tomi yang mendukung niat calon istrinya untuk memberikan pada Dara yang menurutnya lebih berhak menerimanya.


"Apa yang dikatakan Riani dan Tomi itu benar, Ra!


Kamu lebih berhak menerima barang itu. Gunakan buat simpanan kebutuhannya Hilya. Aku yakin, Haris gak bakalan mau bertanggung jawab menafkahi anaknya. Jadi ya, anggap saja itu nafkah buat Hilya dari bapaknya." Dina ikut menimpali dan disetujui oleh semua orang yang mengelilingi Dara.


"Baiklah. Aku tidak tau lagi, bagaimana caranya berterimakasih sama kalian. Kalian sudah terlalu banyak membantuku." sahut Dara terharu.


"Itulah fungsi seorang teman. Tidak akan membiarkan temannya berjuang dan menderita sendirian." sahut Sintia sambil memeluk Dara dari samping.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sedangkan di lain tempat, Haris menggerutu dengan wajah tak sedap di pandang.


Kesenangannya sudah diganggu dengan kehebohan mamanya.


"Kenapa sih, ma,


Telpon Haris terus menerus?


kan Haris lagi sama Riani." sungut Haris kesal.


"Ini ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan. Bantuin mama, Ris!

__ADS_1


Cuma kamu Harapan mama!" Bu Emi menatap sedih pada anak lelakinya.


Kening Haris mengerut, bingung ada apa dengan mamanya, kenapa begitu terlihat kuyu dan menyedihkan.


"Ada apa sama mama?


Kenapa mama kayak sedih gitu?" tanya Haris penuh selidik.


"Papa kamu, Ris!


Ternyata, papa kamu sudah selingkuh dari mana.


Pantesan, selama ini dia selalu perhitungan dan pelit sama mama, ternyata dia lebih rela mencukupi keluarganya yang lain." huhuhuuuu


Bu Emi tergugu, hatinya sangat sakit saat mengetahui kebenaran tentang suaminya.


"Maksud nama?


Papa selingkuh sudah lama?


Mama tau dari mana?" Haris memberondong banyak pertanyaan pada mamanya yang tergugu.


"Mama baru tau dari teman arisan mama.


Dia tetanggaan sama istri muda papa kamu.


Mereka tinggal di perumahan elit di kota ini." lanjut Bu Emi dengan pandangan kosong, hatinya benar benar sakit. Karena selama ini, suaminya selalu pelit dan perhitungan padanya, hingga Bu Emi harus memenuhi kebutuhan rumah dan anaknya anaknya dari hasil usahanya sendiri.


Berusaha memaklumi keadaan suaminya yang kerja diluar kota. Tapi kenyataannya, justru dia di bohongi habis habisan sama suaminya. Hatinya benar benar sakit.


"Mama tau, dimana alamat papa dan istrinya itu?


Kita kesana sekarang.


Haris akan beri pelajaran pada mereka. Selama ini kita sudah di tipu dan disuruh menerima keadaan yang berbanding terbalik dari keadaan yang sesungguhnya." sahut Haris yang tak kalah emosi dan sakit hati dari mamanya.


"Ya, mama tau alamatnya.


Tadi mama sudah dikasih sama teman mama yang tetanggaan sama istri papa kamu itu." balas Bu Emi menahan rasa sesak di dadanya.


"Yasudah, kita berangkat sekarang.


Kita minta penjelasan sama papa, dan menuntut keadilannya sebagai kepala keluarga yang dzalim pada anak istri sah!" sungut Haris yang sudah mengeras wajahnya karena sangking emosinya.


Berbekal alamat dari temannya, Bu Emi pergi dengan anak laki lakinya untuk mencari rumah selingkuhan suaminya, yang katanya sangat kaya itu.


Tidak butuh lama, Haris sudah menemukan alamat tersebut, karena memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, hanya tiga puluh menit sudah sampai di gerbang perumahan kaum elit yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga keamanan.

__ADS_1


"Maaf, mau kemana pak?" sapa salah satu penjaga dengan wajah tegas tapi masih bersikap ramah.


"mau kerumah pak Abdul, pak!


Kami saudara nya yang baru datang dari luar kota." sahut Haris yang memang sudah menyiapkan diri sebelum berangkat.


"Bisa lihat tanda pengenalnya. Maaf, sudah jadi prosedur semua tamu yang akan memasuki area perumahan ini, demi kenyamanan dan keamanan bersama." balas penjaga keamanan masih dengan sikap ramahnya.


"Baiklah, ini!" Haris menyodorkan KTP miliknya, lalu membuka ponsel dan menunjukkan beberapa foto saat bersama papanya, agar tak lagi banyak pertanyaan dari para penjaga gerbang itu.


"Baiklah!


Silahkan masuk, lurus saja. Ada gang ketiga masuk ke arah kanan, rumah pagar coklat nomor seratus tujuh. Itu rumah pak Abdul!" jelas salah satu petugas keamanan memberi arahan.


Harus tersenyum, lalu kembali melajukan mobilnya menuju arah yang sudah di tunjukkan padanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2