
[Yasudah, besok kamu share lokasi ya dan mas pasti datang. Sudah gak sabar pingin nikahi kamu]
[Makanya, cepet urus perceraian kamu, mas!
Biar ceper beres!]
[Iya, paling Minggu depan mas akan urus di pengadilan. Kamu yang sabar ya!]
[Oke]
Dan Dara tak lagi membalas pesan Haris, lalu menunjukkan percakapannya barusan pada Riani dan yang lainnya.
"Gila bener ya suami mbak Dara, bisa bisanya ngatain istri sendiri, tanpa berkaca bagaimana perlakuan dia ke istri. Laki laki kayak gitu memang pantasnya di basmi." Tomi ikut kesal saat membaca isi pesan Haris. Dan Rangga hanya memilih diam, namun matanya menatap Dara dengan dada berdebar. Sejak pertemuan pertama waktu di cafe, Rangga merasakan sesuatu di dalam hatinya, namun berusaha di tepis karena Dara masih sah istri orang.
Namun hari ini, Rangga akan berusaha untuk meraih wanita yang sudah disia siakan oleh suaminya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, Dara yang datang bersama dengan Sintia dan Dina terlihat sangat anggun dan cantik, dalam balutan gamis berwarna Sage, wajahnya dipoles natural tapi terlihat sangatlah cantik. Wajah Dara tidak sekusam dulu, nampak cerah dan bersih, pun dengan kulitnya yang mulai kembali putih. Itu semua karena Dara kembali rajin melakukan perawatan.
"Saat Dara sampai, ternyata Haris sudah datang dan nampak Tomi juga Rangga sudah ada disana.
Haris menatap tak percaya ke arah wanita yang selalu dia hina dengan tatapan tajam. Namun Dara tak mau memperdulikannya. Berusaha bersikap biasa saja dan tak menganggap keberadaan Haris.
"Kamu undang dia juga, RI?" tanya Haris tak suka, dan matanya melirik sinis pada Dara.
"Iya, kan mbak Dara sekarang kerjasama sama kakakku, mereka buka bisnis bareng loh." sahut Riani yang seolah menunjukkan rasa kagumnya pada Dara.
"Bisnis? Bisnis apaan?
Dara bisa apa coba, hati hati mas, nanti justru kamu merugi karena sudah kerja sama dengan orang yang salah." Haris menimpali dan tersenyum miring ke menatap Dara, seolah meremehkan wanita yang kini duduk tak jauh darinya.
"Rugi dan untung itu urusanku. Jadi anda tidak perlu ikut campur. Saya yakin dengan kemampuan mbak Dara. Dia perempuan hebat dan berbakat." Sahut Rangga tajam dan menunjukkan rasa tak sukanya pada Haris.
"Baiklah! Yang penting aku sudah mengingatkan!
Aku saja yang sudah jadi suaminya selama tiga tahun rugi, bisanya cuma habisin uang saja, gak bisa apa apa lagi." masih dengan niat merendahkan, Haris terus mencari alasan agar Dara dipandang buruk.
"Oh iya? Habisin uang kamu ya mas?
Uang sejuta sebulan itu ya?
Duh, sampai sampai aku saja bingung gimana bagi uang itu, sangking banyaknya loh!
Bayar listrik saja empat ratus ribu kan ya?
__ADS_1
Terus bayar uang sampah dan iuran RT seratus lima puluh ribu. Bayar air dua ratus lima puluh ribu.
Belum lagi buat beli beras dan teman temannya untuk makan kamu. coba deh hitung kembali uangmu yang satu juta itu, masih sisa gak, atau bahkan kurang banyak?
Malu dong, teriak teriak istri habisin uang, eeeh nyatanya makan saja masih numpang ke istri. Iya kan?" sahut Dara santai dan terkesan cuek dengan gaya dibuat setenang mungkin, namun Haris serasa dilempari kotoran di wajahnya, malu!
Karena Dara sukses menjatuhkan harga diri dan kesombongannya.
"Dasar wanita gak tau bersyukur, kalau uang itu kurang ya kamu saja yang kurang pinter mengelolanya. Masih untung aku kasih jatah, kalau enggak, kamu mau makan apa? Gak usah sombong!" sungut Haris tak terima dan masih tak mau mengakui kesalahannya.
"Alhamdulillah sih, sekarang kita sudah pisah. Rejeki makin lancar ke dompet ku, dan hidupku bahagia tuh!
Jadi wajarlah kalau aku sombong. Sombong dengan orang sombong itu gak dosa loh!" sahut Dara dengan memamerkan senyuman manisnya. Membuat Haris semakin kesal karena ulah Dara.
"Kamu ya!
Baiklah!
Dihadapan semuanya, mulai detik ini, aku jatuhkan talaq satu padamu Dara Anggraini, mulai sekarang kamu sudah bukan istriku dan lepas tanggung jawabku atasmu." ucap Haris tegas tanpa berpikir apapun lagi.
"Alhamdulillah, terimakasih, mas!
Aku tunggu surat cerainya ya, biar statusku jelas di mata hukum." sahut Dara sangat santai, bahkan tidak terlihat sedih sama sekali. Matanya masih bening dan bersinar tanpa ada air mata disana.
"Kamu sehat, Ra?" tanya Haris melongo tak percaya melihat ekspresi Dara setelah dia menjatuhkan talak.
Kenapa?
Apa aku kudu nangis pas kamu jatuhkan talaq barusan?
Kamu salah, mas!
Justru aku bersyukur dan lega, karena bebas dari laki laki kayak kamu!" sahut Dara santai tanpa perduli dengan reaksi mantan suaminya itu.
"Selamat ya, mbak!
Semoga ini jadi awal yang indah untuk kehidupan mbak selanjutnya. Sekali lagi selamat, selamat untuk status barunya!" tiba tiba Rangga berkata sesuatu yang membuat semua menatap aneh ke arah Rangga, namun detik berikutnya, semua paham dengan maksudnya Rangga berkata demikian, kecuali Haris, dia merasa direndahkan dan diremehkan oleh ucapan itu.
"Terimakasih, mas Rangga!
Aamiin, Alhamdulillah ini yang terbaik untuk kewarasan jiwa saya!" sahut Dara dengan senyuman manis di berikan untuk Rangga.
"Selamat, Ra!
Aku ikut senang, tanpa harus ribet, akhirnya kamu bebas juga dari suami se ons kamu ini. Aku ikut senang deh!" Sintia juga ikut memberi selamat dengan wajah bahagia.
__ADS_1
"Selamat, Ra!
Yuk semangaat, setelah ini aku yakin akan ada yang menyesal melihat kesuksesan kamu!" Dina pun juga tak kalah bahagia dan mengucapkan kata sindiran untuk Haris.
"Aku gak tau harus ngomong apa, yang pasti semangat mbak. Kamu hebat dan tangguh. Insyaallah akan bahagia setelah ini." Tomi pun juga ikut memberikan semangat dengan senyuman hangat untuk Dara.
"Mbak Dara, mbak itu hebat dan cantik. Aku yakin, setelah ini akan ada yang berjuang untuk merebut cinta mbak, dia laki laki yang baik dan tampan loh. Selamat ya, yuk bahagia terus!" Riani juga mengucapkan kata kata yang semakin membuat Haris tak mengerti, wajahnya merah padam dengan mata melotot melihat reaksi orang orang di sekitarnya, yang terlihat bahagia dan antusias dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa apaan sih ini?
Kenapa kalian semua terlihat senang dan mendukung Dara. Apa hebatnya dia, hah?" Haris menatap tak suka ke arah semua orang.
Namun satupun tidak ada yang menanggapi kemarahan laki laki itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️