Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
bab 7


__ADS_3

"Ide bagus itu Bu, pasti nyaman tinggal dirumahnya si Dara. Besar dan bagus. Aku bisa bawa teman temanku main kerumah nantinya.


Kenapa gak sekarang saja, Bu?


Besok kelamaan." sahut Vita bersemangat.


"Sudah malam, besok saja.


Ibu masih capek habis bersih bersih tadi.


Besok kamu tidak perlu masuk sekolah, jam sembilan pagi kita kerumah Dara, sekalian ajak mbakmu, biar Dara tidak banyak melawan." sahut Bu Emi dengan senyum lebar, membayangkan akan tinggal dirumah miliknya Dara.


"Nduk, firasat ibu kok gak enak ya, apa sebaiknya biar Adikmu tidur disini, biar kamu ada yang nemenin?" Bu Rohimah mengungkapkan kecemasannya, sedari tadi ada perasaan yang gak enak terus mengusik hatinya.


"Boleh Bu, asal Bagas gak keberatan saja. Lagian kalau Bagas tinggal disini aku kan jadi ada temannya."


"Yasudah, habis ini ibu mau pulang. Kasihan bapakmu. Nanti biar ibu minta Bagas untuk tidur disini. Dan besok pagi setelah ibu masak, ibu kerumah kamu lagi, jagain Hilya. Ibu jadi semangat, punya aktifitas baru jagain cucu, tau gak kamu, ibu itu seneng banget. Anakmu itu pinter, gak rewelan dan lucu banget.


Kalau dia gak *****, pasti sudah ibu bawa kerumah, biar tidur sama ibu dan bapakmu." Bu Rohimah menatap cucunya uang tengah tidur lelap.


"Ibu kan tiap hari bisa kesini.


Terimakasih ya Bu, sudah mau jagain Hilya. Maaf kalau Dara jadi merepotkan ibu."


"Ngomong apa to kamu itu, nduk!


Gak ada yang direpotkan. Justru ibu senang banget, bisa bareng cucu setiap hari.


Yasudah ibu pulang dulu ya, biar Bagas yang nanti gantiin temeni kamu."


"Njih, buk. Matursuwun!


Hati hati loh buk, sudah malam."


"Iya, iya!


Duh ibu kayak anak kecil saja, wong rumahnya Deket situ aja kok. Yowes ibu pulang. Asalamualaikum!" pamit Bu Rohimah dan menghilang di gelapnya malam.


Tak berselang lama, Bagas sudah datang dirumah kakaknya.


"Mbak, kata ibuk, aku diminta temani mbak Dara."


"Iya, kamu tidur sini saja, dek.


Lagian rumah ini besar, mbak sedikit ngeri kalau tinggal sendirian."


"Yasudah, Bagas akan temani mbak Dara.


Sudah malam, mbak dara gak tidur?"

__ADS_1


"Tadi mbak kan masih nunggu kamu, sekarang kamu sudah disini.


Mbak mau tidur dulu ya, besok sudah mulai ada pesenan, lumayan sih.


Kamu kalau lapar, ada makanan di dapur dan cemilan di kulkas, ambil saja mana yang kamu mau. Mbak tidur duluan ya?"


"Iya, mbak. Terimakasih.


Bagas juga mau tidur, sudah ngantuk."


"Oh yasudah, kamu bisa tidur di kamar sebelahnya Hilya. Sudah mbak bersihkan kok.


Sudah kamu kunci kan pagar sama pintu depan?"


"Sudah mbak!" jawab Bagas singkat dan masuk ke dalam kamarnya.


Dara menikmati waktu tanpa adanya Haris. Entah kenapa, tidak ada perasaan sedih apalagi kehilangan. Justru hatinya merasa lega dan nyaman. Tak ada lagi yang bermulut pedas menghinanya.


Dara bisa tidur nyenyak dan makan enak tanpa beban pikiran yang membuat dadanya sesak.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi-pagi sekali Dara sudah bangun, menunaikan kewajiban dua rakaat. Hilya masih tertidur pulas setelah tadi minum asi dari ibunya.


Dara mulai sarapan, dan dilanjutkan dengan membuat pesenan beberapa kue dari tetangga dan juga sahabatnya.


Untuk sementara, Dara akan mengerjakan sendiri, karena pesanan juga belum begitu banyak, Dara masih bisa mengatasinya.


Dengan cekatan, Dara memandikan putri kecilnya, menyuapinya dengan bubur bayi.


"Asalamualaikum. Duh cucunya nenek sudah harum, Cantik banget lagi." Bu Hananiah mencium pipi gembul cucunya penuh cinta.


"Kamu sudah sarapan, nduk?"


"Sudah, Bu. Hanum tinggal mandi dulu ya. Sama nitip open. Barangkali nanti, Dara kelamaan mandinya."


"Kamu bikin kue kering?


Apa sudah ada yang pesen?"


"Iya, Bu. Alhamdulillah, sudah ada yang pesen.


Ada dua puluh pesenan kue.


Itu sudah dapat sepuluh toples. Masih sepuluh lagi.


Dara sudah gerah, mau mandi dulu." sahut Dara dengan wajah berseri. Dara memang dari dulu hobi memasak. Mengolah makanan apa saja dan membuat kue kering juga basah.


"Alhamdulillah, nduk!

__ADS_1


Bismillah ya, semoga ini jadi jalan rejeki mu sama Hilya. Aamiin." balas Bu Hanna menatap anak perempuan iba. Tak menyangka jika rumah tangganya harus berakhir. Namun demi kebaikan anak dan cucunya, Bu Hanna berusaha untuk terus memberi dukungan dan semangat. Karena Haris memang bukanlah suami yang baik sehingga pantas di tinggalkan.


Saat Dara masih sibuk dengan kue pesenan nya, dan Bu Hana tengah menemani Hilya bermain di ruang tengah. Terdengar suara wanita yang memasuki rumah tanpa salam.


"Dara, keluar kamu. Dasar menantu kurang ajar.


Bisa bisanya suami sendiri di usir." teriak Bu Emi yang membuat Bu Hanna keluar dengan wajah tak suka pada besannya itu, sedangkan Dara yang kaget dengan suara makian ibu mertuanya, langsung meninggalkan pekerjaannya dan berlari ke arah depan, yang ternyata sudah ada ibunya yang tengah menggendong Hilya dengan wajah memerah.


"Jaga mulut kamu Bu Emi.


Kalau namu itu yang sopan, beri salam dan duduk lalu bicaralah baik baik dengan tujuan anda datang kerumah anakku. Bukan teriak teriak kayak di hutan saja." sahut Bu Hanna dengan wajah gusar.


Dasar Bu Emi yang memang tidak punya sopan santun, tanpa di persilahkan sudah duduk dengan angkuh di sofa empuk milik Dara.


"Heleh, dasar anakmu saja yang tidak tau Toto kromo. Bisa bisanya dia ngusir Haris dari rumahnya. Jadi perempuan kok kejam banget, kayak gak punya hati saja." sungut Bu Emi dengan wajah sinisnya.


"Heh, Bu Emi. Sebelum ngomong itu ngaca dan di pikir dulu. Ini rumahku, bukan rumahnya Haris. Enak saja ngaku ngaku rumahnya Haris. Kapan dia beli rumah ini, semua isi dirumah ini saja, suamiku yang membelinya untuk Dara. Mikir itu pakai otak, jangan sama dengkul. Gak tau malu!" bantah Bu Hanna dengan mata melotot tajam, emosinya sudah benar benar tak bisa di bendung. Menghadapi Perempuan serakah kayak besannya, harus dengan keberanian yang lebih dan kesombongan, agar tidak di injak-injak seenaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2