Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 46


__ADS_3

"Iya, iya. Haris akan transfer." Haris mengotak Atik ponselnya dan tak lama kemudian menyodorkan bukti transfer kepada mamanya.


"Sudah masuk ya, ma!


Haris berangkat!" sambung Haris yang langsung berjalan keluar menuju mobilnya.


Hari ini rencananya Haris mau bertemu Edwar dan menyerahkan bisnis haramnya pada anak angkat ayahnya itu.


Kalaupun ada masalah, biar Edward yang terseret dan menanggungnya. Haris ingin cari amannya saja dengan membuka usaha baru yang jauh dari urusan hukum.


Edward menemui Tika di kampusnya, menyerahkan kunci mobil yang dia bawa pada Siska. Mobil Yaris warna merah.


Tika tidak pernah tau darimana asal mobil itu, yang Tika tau, Edward membelikan mobil itu untuknya.


"Wah, mobil ini untukku mas?" Tika menatap kagum pada mobil yang terparkir cantik di parkiran kampus.


"Iya, ambillah. Semoga kamu senang!" sahut Edward santai sambil menghisap rokoknya.


"Aku ingin nanti malam kita ketemu lagi, di tempat biasa, oke?" sambung Edward menatap lekat ke arah Tika yang tengah tersenyum bahagia karena Edward memberikan dia mobil yang menjadi impiannya, padahal mobil itu, adalah salah satu mobil hasil selundupan.


Edward hanya mengganti cat mobilnya, plat nomor dan STNK palsu. Buat Edward itu sesuatu yang mudah. Karena sudah jadi pekerjaan dia selama ini.


Edward melihat layar ponselnya, dan membaca pesan yang dikirim Haris untuk memintanya bertemu di markas.


"Aku pulang dulu ya, ada yang harus aku urus!


Nanti malam jangan lupa, temui aku ditempat biasa." Edward langsung meninggalkan Tika Tania menunggu jawaban gadis itu.


Namun Tika tak mempermasalahkannya, Tika sudah terbiasa dengan sikap dingin Edward, Tika pikir itu memang sudah jadi wataknya lelaki itu.


Asal semua keinginannya terpenuhi, yang lainnya Tika tidak perduli.


"Darimana saja kamu Edward?


Aku sudah menunggumu sedari tadi, hampir satu jam!" sambut Haris menatap lekat laki laki gondrong dihadapannya, Edward memiliki wajah yang cukup tampan dan usianya tak beda jauh dari Haris.


"Biasalah, urusan anak muda tak jauh dari wanita.


Ada apa?" sahut Edward santai dan mengambil duduk di sebelah Haris lalu menyalakan rokoknya.

__ADS_1


"Aku ingin keluar, dan menyerahkan semuanya sama kamu!" balas Haris menatap ke arah Edward yang langsung mengerutkan dahinya.


"Maksudnya?" Edward masih belum paham dengan yang Haris maksud.


"Aku mau keluar dari mengurus bisnis disini, kemarin aku sudah bicara sama ayahku dan beliau gak keberatan.


Lagian, aku juga gak begitu paham dan sepertinya juga gak sanggup meneruskan bisnis ayahku ini.


Kamu lebih cocok dan pantas memegang semua ini. Karena ayahku sudah mendidik dan mengajari kamu dari kamu masih kecil.


Jadi, mulai hari ini, aku menyerahkan semuanya sama kamu.


Dan untuk apa apanya dan yang berkaitan dengan bisnis disini, kamu langsung lapor saja sama ayahku. Aku ingin benar benar lepas.


Duniaku bukan disini, aku menyerah dan mengakui ini berat sehingga aku merasa tidak mampu!" balas Haris panjang lebar dan menatap lekat pada wajah Edward yang masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulutnya Haris.


"Apa kamu yakin ingin melepas ini semua?


Bukankah bisnis ini bisa membawa kamu jadi orang yang sangat kaya raya?" sahut Edward mencoba menelisik keseriusan Haris.


"Aku tau itu, tapi aku memang tidak mampu mengurusi bisnis seperti ini.


Aku gak mau menghancurkan apa yang sudah ayah bangun selama ini, karena aku tidak mampu mengurus nya.


Kamu yang lebih pantas dan mampu meneruskannya. Aku percaya sama kamu, Edward. Lagian kamu juga sudah ayahku anggap anaknya juga. Jadi it's okelah, aku yakin kamu tidak akan mengkhianati ayah kan?" balas Haris dengan tatapan serius, Haris memang benar benar merasa tidak sanggup dan tidak mau berurusan dengan polisi, Haris ingin berdiri dan berusaha sendiri dengan usaha yang dia rasa mampu mengelolanya.


"Baiklah, nanti aku akan temui ayah untuk membicarakan ini!" sahut Edward masih belum benar benar percaya dengan keputusan Haris barusan. Karena Haris adalah tipe orang yang gila harta dan sombong, jadi seperti mustahil kalau dia ingin menyerahkan bisnis yang menjanjikan kekayaan itu.


"Yasudah, aku pergi dulu ya!


Temui lah ayah, karena aku sudah meminta ijin nya sebelum menemui kamu untuk membicarakan ini." Haris meninggalkan Edward yang masih terpaku, entah kenapa dirinya masih meragukan Haris.


Karena Edward sedikit banyak paham Haris tipe orang yang seperti apa.


"Bos!


Ada apa tuh Haris, kayaknya serius banget?"


Tiba tiba Bandi datang menghampiri Edward karena penasaran dengan kedatangan Haris yang langsung mencari Edward.

__ADS_1


"Haris mundur dan memintaku untuk menggantikannya!" sahut Edward santai namun otaknya masih terus berpikir dengan keputusan yang tiba tiba Haris putuskan.


"gak salah bos?


Serius?" Bandi langsung membulatkan kedua matanya tak percaya.


Tiba tuba suara hening, mereka larut dalam pikirannya masing masing, saling menerka nerka maksud dibalik mundurnya Haris.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2