
"Keterlaluan kamu, mas!
Bertahun tahun kamu sudah membohongi kami.
Ya Alloh!" Bu Santi menutup wajahnya dengan kedua tangan, tergugu mendengar pengakuan suaminya. Sakit pasti, kecewa juga pastinya, hingga dadanya langsung sesak dengan kenyataan yang tersaji di depan mata.
"Sekarang, katakan padaku, mas!
Apa kamu mencukupi dan lebih mementingkan perempuan ini dan anak anaknya, dari pada aku dan anak anakku?
Karena, selama ini kamu selalu mengeluh kehabisan uang, sehingga aku harus mencukupi sendiri kebutuhanku dengan anak anakku!
Katakan, dimana kurangnya aku?
Katakan, dimana letak kesalahanku?
Selama menjadi istri kamu, aku selalu diam dan nurut denganmu, lalu kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku, katakan padaku! Katakan!" teriak Bu Emi dengan dada bergemuruh.
Sakit, sakit sekali. Perbedaan yang begitu jelas Dimata. Dirinya yang harus rela hidup apa adanya, sedangkan perempuan lain yang menikmati hasil kerja suaminya, hingga hidup nyaman dan kaya raya.
Pak Abdul terdiam, tapi tak bisa berkutik.
Apa yang dikatakan Bu Emi memang semuanya benar adanya. Selama ini, ia selalu enggan memberikan uang kepada istri pertamanya itu.
Dan lebih memilih memanjakan Santi dan anak anaknya.
"Maafkan aku!
Tapi perlu kalian tau, selama ini aku bekerja karena kebaikan keluarga Santi.
Aku diberikan posisi bagus semua berkat Santi.
Pemilik perusahaan tempatku bekerja, adalah paman Santi.
Itulah kenapa, aku selalu memberikan uang gaji ku padanya, dan memberimu uang ala kadarnya.
Maafkan aku.
Sekarang kalian sudah tau kebenarannya, silahkan putuskan apapun yang kalian inginkan, tapi yang jelas, aku tidak akan melepaskan Santi, karena aku sangat mencintainya." pak Abdul bicara dengan wajah tanpa bersalah, membuat Bu Emi maupun Haris seperti tak dianggap keberadaan mereka.
Pak Abdul tanpa sekali mau perduli dengan perasaan Bu Emi dan Haris. Terlihat jelas bagaimana pria itu begitu menjaga dan mengutamakan istri keduanya itu.
Haris yang sudah sakit hati, yang sudah menahan amarah sedari tadi. Langsung berdiri dan melayangkan pukulan pada papanya.
"Aku sudah tidak sanggup lagi menahannya, papa!"
bugh! bugh!
"Rasanya tak pantas kamu dihormati sebagai orang tua!
Keterlaluan! Di hadapan kami, anda begitu santai mengucapkan kalimat kalimat yang menghancurkan hati kami.
Begitu bangga dengan selingkuhanmu dan anak hasil selingkuh kalian!"
__ADS_1
Arrrg!
Bugh! Bugh!
Haris meluapkan emosinya dengan memukuli papa nya sendiri, hatinya benar benar hancur, apalagi teringat, seperti apa perjuangan hidupnya dengan sang mama selama ini.
"Hentikan! Tolong hentikan!" Teriak Santi yang tak tega melihat suaminya sudah babak belur.
Sedangkan Emi tetap diam dan menyaksikan Haris memberikan pelajaran untuk papanya dengan ekspresi dingin.
Air matanya kering sudah, saat mendengar pengakuan dari suaminya yang seolah tak menganggap perjuangan dan kesetiaannya selama ini.
"Ada apa ini?" tiba tiba ada suara laki laki yang sangat Haris kenal. Dan benar saja, saat Haris memalingkan wajahnya, Tomi, atasannya di kantor sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu?" Haris menatap heran ke arah Tomi dengan mengerutkan wajahnya, pun dengan Tomi yang nampak bingung melihat keberadaan Haris dirumahnya, dan terlihat papanya sudah memar wajahnya.
"Apa yang terjadi, sampai sampai kamu memukuli papaku?" kembali, Tomi mengeluarkan suara dengan ekspresi datarnya.
"Papa kamu?" Haris tak lagi menghormati pria muda yang kini ada dihadapannya, panggilan pak saat di kantor karena posisi lebih tinggi, kini tak lagi Haris gunakan. Hatinya semakin panas oleh kenyataan yang sama sekali tidak dia duga selama ini.
Haris tertawa, matanya nyalang menatap benci kepada tiga orang yang sudah menghancurkan hatinya dan mamanya.
"Waow, tidak kuduga, ternyata kita saudara!
Dan yang lebih parahnya atasanku di kantor adalah pencuri papaku, merampas kebahagiaan kami dan mengambil apa yang harusnya jadi hak kami, keterlaluan!
Aku tidak mau tau, ganti semua penderitaan kami selama ini, kami juga ingin hidup nyaman seperti yang kalian rasakan selama ini.
"Apa maksud semua ini?
Istri yang lain?
Selingkuhan?" Tomi menatap bingung pada semua orang, meminta jawaban atas apa yang Haris ucapkan.
"Kamu mau jawaban, hah?
Tanya pada laki laki yang kalian sebut sebagai papa itu?
Tanya padanya, tanya seperti apa dia memperlakukan istri pertamanya dan bagaimana dia mengabaikan kami anak anaknya!" tatap Haris nyalang, kebencian dan sakit hati yang begitu dalam telah membuatnya lepas kendali.
"Jadi, kamu anak dari papaku juga?
Istri pertama?
Pa! Ma! tolong jelaskan apa maksud dari semua ini?" Tomi masih tak percaya dengan kenyataan yang Haris ucapkan.
Akhirnya, pak Abdul mengatakan semuanya, dan itu membuat Tomi langsung shock dan sangat kecewa dengan kebohongan papanya.
"Aku tak menyangka, papa bisa melakukan ini pada kami!
Tuhan! Kenyataan apa ini?" lirih Tomi yang langsung terduduk lemas di lantai. Orang yang dia benci, ternyata masih memiliki hubungan darah, anak lain dari papanya.
"Tidak perlu memainkan drama sedih kalian.
__ADS_1
Kami datang kesini, untuk meminta keadilan dan hak kami yang kalian rampas.
Pak Abdul yang terhormat, saya tunggu niat baik anda sekarang juga!
Kalau tidak, terpaksa saya akan melaporkan perbuatan anda dengan pasal perselingkuhan dan perzinaan, karena membangun hubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuan istri sah anda!
Dan saya juga gak akan segan segan untuk menyebarkan kebusukan keluarga ini, biar kita sama sama hancur sekalian!" tekan Haris yang tak terima diperlakukan tak adil oleh papanya sendiri.
"Apa yang kamu mau, Haris?" pak Abdul membuka mulutnya setelah sekian menit hanya diam membisu.
"Berikan kami rumah yang sama seperti yang kalian tempati saat ini. Dan berikan hak kami yang selama ini kalian rampas." sahut harus tegas dengan wajah yang mengeras.
"Berapa yang kamu minta?" tanya Bu Santi yang langsung membuka mulutnya.
Wanita itu sangat merasa bersalah meskipun kecewa dengan kebohongan suaminya.
Bu Santi lahir dari keluarga yang kaya, bahkan rumah yang kini ditempati adalah warisan dari orang tuanya. Itulah kenapa Pak Abdul enggan untuk meninggalkannya dan memilih bertahan hidup dengan Bu Santi.
Selain kaya, Bu Santi juga memiliki sifat baik dan lembut. Bahkan jauh lebih cantik dari Emi istrinya yang memang patuh tapi mulutnya selalu suka berkata keras.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1