
"Mbak Dara, mbak itu hebat dan cantik. Aku yakin, setelah ini akan ada yang berjuang untuk merebut cinta mbak, dia laki laki yang baik dan tampan loh. Selamat ya, yuk bahagia terus!" Riani juga mengucapkan kata kata yang semakin membuat Haris tak mengerti, wajahnya merah padam dengan mata melotot melihat reaksi orang orang di sekitarnya, yang terlihat bahagia dan antusias dengan apa yang baru saja terjadi.
"Apa apaan sih ini?
Kenapa kalian semua terlihat senang dan mendukung Dara. Apa hebatnya dia, hah?" Haris menatap tak suka ke arah semua orang.
Namun satupun tidak ada yang menanggapi kemarahan laki laki itu.
"Gak usah marah marah disini. Ini restoran bukan hutan!" herdik Rangga tajam, tak suka dengan pria yang duduk dihadapannya.
"Riani, kamu yakin berteman dengan orang seperti ini?
Tidak tau sopan santun sama sekali!" tatap Rangga tajam menyorot ke arah Haris yang langsung panik. Baru sadar kalau laki laki dihadapannya adalah kakak lelaki Riani, wanita yang akan dia perjuangkan untuk jadi istri.
"Entahlah, mas!
Aku kok jadi berpikir ulang, untuk berteman dengan Mas Haris. Takutnya dia akan kasar sama aku, seperti sikapnya sama mbak Dara!
Takut aku jadinya!" sahut Riani yang tau kemana arah maksud ucapan kakaknya.
"Maksud saya bukan begitu. Riani, tolong maafin mas ya!
Habisnya mas, emosi. Jangan berpikir untuk menjauhi mas. Kan aku sudah menjatuhkan talak ke Dara di depan kamu. Itu salah satu bukti, kalau mas punyai niat yang sungguh sungguh ke kamu.
Dan, mas, juga punya hadiah buat kamu. Mas yakin kamu pasti suka!" Haris menyodorkan paperbag ke arah Riani.
"Apa ini, mas?" tanya Riani dengan pura pura memasang wajah kesal.
"Hadiah ulang tahun, buat kamu. Spesial!" sahut Haris sambil tersenyum.
"Apa kamu iklas, mas?
Gak bakalan ungkit ungkit di kemudian hari?" tanya Riani memastikan.
"Ya gak lah, aku iklas kok ngasih ini ke kamu.
Coba deh kamu buka. Aku harap, kamu menyukainya." balas Haris, yang di jawab anggukan oleh Riani.
Riani mengambil kotak bludru yang ada di dalam paperbag, lalu membukanya.
Meskipun Riani tau harga perhiasan di depannya. Riani tetap memasang wajah biasa saja.
__ADS_1
"Apa kamu gak menyukai hadiahnya, Riani?" tanya Haris kecewa dan langsung lesu melihat reaksi gadis pujaannya.
Dara, hanya bisa menahan tawa melihat adegan yang afsdi hadapannya.
"Kalau perhiasan seperti ini, aku juga sudah punya mas. Kakakku juga sering membelikan perhiasan kayak begini. Kemarin kakakku juga ngasih aku perhiasan seperti ini, tapi yang lebih mahal sih dari ini.
Tapi gak papa deh, Makasih ya mas, sudah ngasih kado ke aku!" balas Riani yang bicara dengan ekspresi biasa saja, tidak ada senyum bahagia di wajahnya.
"Oh, aku kira kamu akan senang dapat kado ini. Tapi ternyata kamu sudah punya banyak y.
Baiklah, aku akan membelikan yang lebih mahal dari yang ini. Demi kamu, aku akan melakukan apapun." sahut Haris yang tak perduli, jika dirinya jadi perhatian semua orang.
"Yakin, mau kasih Dara barang mahal?
Sanggup, gitu?" sindir Tomi, dengan senyum meremehkan. Tomi menyodorkan kotak perhiasan berwarna merah ke arah Riani.
"Ini kado dari saya, semoga kamu menyukainya!" Tomi melirik Haris dan tersenyum senang, karena berhasil mengerjai Haris.
"Waaah, ini baru keren. Pasti harganya sangat mahal ya?
Aduh jadi gak enak, tapi makasih banget ya, mas Tomi. Aku suka sama berliannya. Elegan dan berkelas!" Riani menunjukkan wajah senang dan merona menatap Tomi. Membuat Haris tersinggung dan merasa tersaingi.
"Iya, sama sama. Alhamdulillah, kalau kamu menyukainya!" balas Tomi dengan senyuman hangat.
"Sanggup?
Itu hampir tiga ratus juta loh harganya?
Yakin, mau kasih yang lebih mahal dari itu?" tantang Tomi yang memang sengaja memancing emosi Haris, bertujuan untuk menguras uang Haris.
"Lihat saja besok. Akan aku pastikan, Riani menerima perhiasan yang jauh lebih bagus dan mahal dari yang anda berikan, pak Tomi!" tekan Haris menahan emosi didadanya yang meletup letup.
"Wouww, keren sih. Kita lihat besok!" Rangga ikut menimpali dengan tatapan sinis ke arah Haris.
"Tapi, mas Haris harus ingat ya?
Aku tidak pernah minta loh, semua mas Haris sendiri yang kasih ke aku. Jadi, aku gakau kalau nantinya akan ada drama mengungkit apa yang sudah diberikan." sahut Riani dengan wajah penuh selidik ke arah Haris.
"Aku bukan laki laki seperti itu, kamu tenang saja, Riani!
Aku memberikan semua itu iklas. Karena kamu memang pantas menerimanya." sahut Haris sok bersikap bijak. Tapi membuat muak bagi siapa saja yang mendengarnya.
__ADS_1
"Baiklah, aku tunggu, mas!" Riani tersenyum, membuat Haris merasa bahagia.
"Yasudah, sudahi ngobrolnya. Kita makan dulu hidangan yang ada. Mubasir dari tadi dianggurin." sambung Dina yang mulai ikut angkat bicara.
Dan di iyakan oleh semua.
"Rasain kamu, mas!
Sombong sih, jadi kena tipu kan!" Dara tersenyum sendirian, senang melihat Haris dipermainkan oleh semua teman temannya yang begitu apik memainkan sandiwara untuk menguras uang Haris.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
__ADS_1
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️