Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 52


__ADS_3

"Datang datang makan, kebiasaan!


Mbok sekali kali, kamu itu bawakan mama makanan gitu, jangan selalu datang bisanya makan dan pulang masih bawa lagi. Kapan sih, kamu itu bisa perduli dan gak pelit sama mama kamu sendiri?" sungut Bu Emi tak suka, Susi yang lagi menikmati makanannya, tak perduli dengan ucapan mamanya, yang penting kenyang. Diomeli Bu Emi sudah hal biasa baginya.


Sehingga Susi tak pernah ambil pusing dan bersikap masa bodoh saja.


"Punya anak perempuan, dua duanya tidak ada yang bisa di andalkan!" sungut Bu Emi yang melepaskan kekesalannya.


Susi yang sudah menebalkan telinganya diam saja dan justru mencari wadah untuk membawa rendang buat makan dirumahnya.


"Putri susah makannya?


Kalau sudah, piringnya di cuci sekalian, biar tidak dimarahin nenek!" Susi menatap anaknya dan tangannya sibuk memasukkan kotak makan berisi rendang ke dalam tasnya.


"Kalau sudah, kira langsung pulang ya!Ama sudah kenyang!" sambung Susi yang berjalan menuju ruang tamu, mamanya sudah tak terlihat, sepertinya sudah kembali masuk kamar.


Susi mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi warna biru, melihat Vidio Vidio lucu.


"Eh, Tika!


Kenapa tuh sama mata kamu, kok bengep semua? kamu habis nangis ya?" tegur Susi saat melihat Tika keluar dari dalam kamarnya.


"Sejak kapan kamu perduli sama aku, mbak?" sahut Tika dengan wajah tak bersahabat.


Tika mengambil duduk tak jauh dari kakak perempuannya, menyenderkan tubuhnya di bahu kursi empuk mewah diruang tamu.


"Jangan nyolot gitu, kalau gak perduli mana mau aku menegur kamu?


Apa kamu lagi putus cinta ya?" sahut Susi dengan wajah masam menatap adik perempuannya.


"Gak tau, aku lagi kesal banget sama pacarku.


Bisa bisanya dia memutuskan aku dan mau menikah sama perempuan lain pilihan orang tuanya. Kesel gak sih?" sahut Tika yang mengeluhkan sikap Edward sama Susi.


"Tapi bukannya kalian sudah melakukan itu?


Kok bisa sih?


Kamu jangan mau dong, habis manis sepah dibuang. Enak saja!" balas Susi mengompori adiknya.


"Aku akan cari tau, siapa perempuan yang dijodohkan sama pacarku itu, mbak.


Aku akan bikin perhitungan sama dia, enak banget dia mau rebut calon suamiku cuma modal restu orang tua." sungut Tika yang terlihat memijit pelipisnya, pikirannya benar benar sedang kacau.


"Terus, mobil yang diluar itu mobilnya siapa?


Kamu minjem teman kamu ya?" kembali Susi melontarkan pertanyaan yang membuatnya dari tadi penasaran.


"Bukan!


Itu mobilku, pemberian Edward, pacarku!


Tadi dia kasih mobil itu, katanya sebagai permintaan maafnya!" balas Tika dengan wajah sembab dan terlihat sedih.


"Wah, untung dong kamu!

__ADS_1


Dapat mobil mewah, yasudah biarin saja sih kalau dia memang gak bisa di pertahankan.


Cari saja laki laki yang lebih kaya lagi.


Lagian kamu juga sudah memang banyak!" balas Susi dengan santainya.


"Kamu ya mbak!


Aku itu cinta mati sama pacarku, aku mau dia jadi suamiku. Selain ganteng dia itu juga kaya raya.


Kalau aku jadi istrinya, pasti nasibku terjamin, gak bakal kekurangan apapun, dia saja kalau ngasih uang jajan gak tanggung tanggung.


Sekali transfer mesti diatas dua puluh juta.


Kalau aku jadi istrinya, betapa uang nafkahku, pasti bisa lima puluh juta lebih!" sahut Tika dengan bangganya, membuat Susi langsung mangap, tak percaya dengan apa yang diucapkan adiknya.


"Yang bener kamu, Tik?


Wah, kaya banget dong pacar kamu.


Kamu harus bisa melakukan sesuatu agar dia tidak jadi nikah.


Mbak akan bantuin kamu, tapi ada syaratnya!" balas Susi dengan wajah sumringah dan akan mencari keuntungan dari adiknya.


"Yakin mbak Susi mau bantuin aku?" sahut Tika menatap kakaknya tak percaya.


"Yakin banget, asal kamu nanti kalau sudah kaya, jangan lupa sama mbak!" balas Susi dengan menaik turunkan alisnya.


"Kalau itu sih gampang mbak, aku gak bakal lah lupa sama keluarga.


"Nah, kan kalau begini jadi makin semangat.


Kapan kita mulai penyelidikannya?" Susi tersenyum senang, belum apa apa sudah dapat lima juta dari adiknya, lumayan bisa buat nge mall.


"Besok saja, hari ini aku masih malas keluar, kepalaku pusing. Besok mbak ikut aku nyari informasi tentang Edward dan siapa calon istrinya itu. Aku akan buat perhitungan dengan wanita itu." sahut Tika dengan senyuman kecut.


"Mbak punya ide!


Tapi ya itu, kamu harus keluar uang lebih sih.


Kamu mau nggak?" sambung Susi yang otak liciknya langsung bekerja, kalau sudah berurusan dengan uang, Susi paling pintar masalah ide.


"Ide apa?


Soal uang aku gak masalah, asal Edward jadi milikku. Apapun akan aku lakukan untuk bisa bersama dengan dia." sahut Tika menatap penasaran pada kakaknya yang langsung tersenyum lebar.


"Pura pura hamil, kamu sama dia kan sudah melakukan itu, iya kan?


Kalau kamu hamil, pasti dia gak bisa menghindar dan orang tuanya juga pasti menerima mau tidak mau. Bener gak?" sahut Susi dengan senyum sumringah.


"Edward itu sulit di bohongi, bagaimana buat dia percaya kalau aku hamil?" balas Tika bingung, ragu dengan rencananya Susi.


"Gampang!


Asal ada uang semuanya beres!" sahut Susi dengan percaya diri.

__ADS_1


"Caranya?" Tika semakin penasaran dengan rencana kakaknya.


"Kamu bisa tunjukkan hasil testpack yang sudah garis dua, itu artinya kamu positif hamil dan kamu harus siap siap bawa serepan testpack yang positif saat ketemu sama pacar kamu.


Buat jaga jaga kalau dia gak percaya gitu." balas Susi mengatakan idenya.


"Gimana sih mbak kok aku gak paham?


Aku kan gak hamil, bagaimana bisa garis dua tuh testpack nya?


Jangan aneh aneh deh!" sahut Tika masam.


"Dasar kamu itu, Tik!


Diajak ngomong kok gak pinter pinter!


Gini loh, kamu tinggal bayar atau beli ke orang yang hamil buat dia kasih testpack yang sudah garis dua sebanyak tiga lah buat jaga jaga gitu.


Tapi kamu jangan lupa juga beli testpack yang masih baru.


Temui tuh pacar kamu, kasih ke dia testpack yang sudah garis dua sambil masang wajah sedih biar dia iba, bilang sama dia kalau gak percaya kamu test saja lagi, tunjukkan testpack yang masih baru, nah pas kamu keluar kamar mandi, tuh kasih testpack cadangan yang garis dua, gampang kan?" balas Susi panjang lebar, membuat Tika langsung tersenyum senang, ide kakaknya benar benar cemerlang.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)


#Coretan pena Hawa (Tamat)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)


#Sekar Arumi (Tamat)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )


#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)


#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)


#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)


#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]


#Bidadari Salju [ On going ]


#Wanita Sebatang Kara { New karya }


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2