Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 35


__ADS_3

Dara tak lagi mau memikirkan tentang masih pernikahan yang sudah berantakan. Dara memilih kuat dan bangkit dari rasa sakit demi masa depan anaknya.


"Alhamdulillah, pesenan semakin banyak saja .


Sepertinya aku harus cari orang lagi untuk bantu bantu." gumam Dara saat melihat list pesenan di pembukuan.


Dara bertanya sama tetangga yang sudah bekerja dengannya, apa mereka punya rekomendasi siapa yang mau ikut bekerja lagi. Dan akhirnya mereka mengajak saudaranya yang juga membutuhkan pekerjaan.


Dara merasa lega, karena satu masalahnya teratasi.


"Tolong ya mbak, besok saudaranya diajak masuk langsung. Karena besok kita sedang banyak pesanan!"


"Iya mbak Dara, biar nanti sepulang dari sini, langsung saya kerumahnya. Insyaallah keponakan saya pasti mau, karena dia butuh banget pekerjaan buat menghidupi anak anaknya." Sahut Bu Wati, salah satu pegawai Dara.


"Alhamdulillah, terimakasih ya Bu Wati." Dara tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya membantu mengemas nasi dalam kotak, karena sebentar lagi pesanan harus terkirim.


Waktu terus berlalu, usaha yang digeluti Dara Semakin berkembang. Dan Dara sudah mulai bekerja di toko kue miliknya, dan toko itu juga tak kalah ramainya, tempat yang di desain aka anak muda, jadi tempat favoritnya anak anak kuliah nongkrong sambil menikmati kue juga kopi.


Sedangkan usaha catering Dara kini sudah pindah tempat di ruko miliknya Rangga, karena rumah Dara sudah tidak bisa menampung lagi, pesenan masuk semakin banyak.


"Alhamdulillah, aku bersyukur bisa sampai di titik ini. Titik dimana impianku bisa terwujud, Bu!


Dan besok adalah hari terakhir sidang, semoga berjalan lancar. Aku dan mas Haris akan resmi berpisah." lirih Dara saat duduk santai bersama ibunya di ruang tengah sambil mengawasi Hilya yang tengah bermain dengan bonekanya.


"Alhamdulillah, kesabaran dan keikhlasan insyaallah akan selalu membawa dalam kebaikan, nak!


Besok, bapak dan Bagas akan mengantarkan kamu ke pengadilan. Takutnya Haris akan berbuat yang aneh aneh. Dia kan kadang itu otaknya sedikit konsellet." sahut Bu Rohimah.


"Iya Bu, Alhamdulillah. Dara bersyukur punya keluarga yang begitu baik dan perduli sama Dara.


Makasih ya Bu!" sahut Dara yang berhambur memeluk ibunya.


"Oh iya, bagaimana itu Haris sama teman kamu itu, yang siapa namanya?


Yang dikejar kejar Haris itu loh!"


"Oh Riani?


Dia sudah mau menikah kok, soal mas Haris, kami sudah menghentikan niat mengerjainya. Dara juga gak enak sama Riani Bu, nanti takutnya dia terseret masalah sama mas Haris karena Dara." sahut Dara yang mengusap wajahnya.


"Iya nduk, jangan bermain api, takutnya nanti kebakar. Cukup serahkan sama Gusti Alloh. Biar Dia yang memberi balasan.


Dan untuk rejeki, insyaallah pasti ada jalan untuk kamu dan Hilya. Asal mau berusaha. Cari uang itu yang berkah saja dan tidak usah terlalu ambil resiko yang bisa membahayakan diri dan orang lain." Bu Rohimah menasehati putrinya, berharap kebaikan untuk anak perempuannya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Keesokan harinya, Dara yang ditemani bapak dan juga adiknya menuju pengadilan.


Saat mobil yang dibawa pak Husein, bapaknya Dara memasuki halaman kantor pengadilan. Disana sudah hadir Haris dan juga mamanya yang baru turun dari mobil barunya Haris.


"Tuh, kere saja belagu." sindir Bu Emi menatap tak suka ke arah Dara yang justru memperlihatkan senyuman manis ke arah Bu Emi.


"Sudahlah, ma!


Yang penting hari ini Haris resmi bercerai dari dia


Dan nanti bisa segera menikahi wanita yang cantik dan kaya." sahut harus dengan sombongnya.


Dara sama sekali tidak mau menanggapi celoteh Bu Emi dan Haris. Baginya, ingin segera mendapatkan kejelasan statusnya hari ini, yaitu resmi bercerai dari Haris.


"Tunggu!" teriak Bu Emi menghentikan langkah Dara dan juga pak Husein serta Bagas.


"Ada apa lagi sih, ma?


Kan aku sama mas Haris sudah gak ada apa apa lagi, jadi jangan buat ribet deh!" dara menatap jengah ke arah Bu Emi. Niat tak ingin menanggapi tpi seolah ibu mantan mertuanya itu memang sengaja ingin cari gara gara.


"Siapa yang mau ribet, aku cuma ingin memastikan apakah kamu menyesal karena tidak bisa mempertahankan Haris.


Dan perlu kamu tau ya Dara, Haris sudah kaya raya, karena ayah kandung Haris memberikan harta warisannya untuk Haris.


Kasihan ya kamu, saat Haris kaya eeh kamunya sudah jadi mantan!


Nyesel kan, gak bisa numpang hidup enak lagi?" sinis Bu Emi dengan bangganya, membuat pak Husein geleng geleng kepala dengan kelakuan besannya itu.


Namun Dara masih bersikap tenang.


"Maaf ya Bu Emi yang terhormat.


Saya Dara, mengatakan kalau saya sama sekali tidak menyesal sudah memilih bercerai dengan anak anda yang tidak bertanggung jawab itu.


Justru saya sangat menantikan hari ini, hari dimana saya terbebas dari ikatan pernikahan yang membuat saya men-deri-ta.


Dan satu lagi, soal kaya atau tidaknya anak ibu itu, itu juga gak penting buat saya, karena dari awal nikah bahkan anaknya lahir, mas Haris juga gak pernah tuh kasih nafkah yang layak untuk kami.


Jadi ya, bodoh amat!" sahut Dara santai.


"Jaga mulutmu, Ra!


Kamu gak pantas bicara sekasar itu sama mamaku!" bentak Haris tak terima.


"Dan kamu, juga tidak berhak bicara keras pada anakku!

__ADS_1


Ingat, Dara sudah menghindar dan gak ingin ribut dengan kalian. Tapi ibumu terus saja memancing dan sengaja mencari masalah.


Kalau tidak mau dibantah dan dihina, berhentilah berulah!" tekan pak Husein dengan wajah memerah.


"Dara, ayo masuk!


Tidak usah pedulikan mereka." sambung pak Husein yang menggandeng tangan putrinya memasuki area lorong pengadilan.


"Tuh lihat, anak sama bapak sama saja.


Sombong!" cebik Bu Emi.


"Ayo masuk, ma!


Biarkan saja, biar nanti Haris buktikan kalau Haris lelaki baik dan bertanggung jawab di hadapan banyak orang. Haris punya rencana untuk membungkam mulut mereka!" Haris menyeringai, membayangkan kalau akan mempermalukan Dara dihadapan banyak orang nantinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri

__ADS_1


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2