Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 25


__ADS_3

"Baiklah, ini!" Haris menyodorkan KTP miliknya, lalu membuka ponsel dan menunjukkan beberapa foto saat bersama papanya, agar tak lagi banyak pertanyaan dari para penjaga gerbang itu.


"Baiklah!


Silahkan masuk, lurus saja. Ada gang ketiga masuk ke arah kanan, rumah pagar coklat nomor seratus tujuh. Itu rumah pak Abdul!" jelas salah satu petugas keamanan memberi arahan.


Haris tersenyum, lalu kembali melajukan mobilnya menuju arah yang sudah di tunjukkan padanya.


"Ini rumahnya, Ris?


Besar banget, dan terlihat mewah. Gak sebanding dengan yang kita tempati selama ini.


Pantesan, papa kamu gak betah dirumah, paling cuma sehari dua hari saja." lirih Bu Emi sedih, matanya kini sudah basah sebab menangis.


"Keterlaluan memang. Papa harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Haris, menghentikan mobilnya, dengan langkah lebar menggedor pagar rumah yang menjulang tinggi dan terlihat kokoh.


Tak butuh waktu lama, terlihat scurity membuka pintu gerbang.


"Maaf, nyari siapa ya, mas?" tanya scurity dengan wajah ramah.


"Pak Abdul?


Apa dia ada dirumah?" jawab Haris menahan gejolak amarah di dalam hatinya.


"Oh, pak Abdul. Iya, beliau ada di dalam.


Maaf, ini dengan siapa?


Biar saya sampaikan!" kembali scurity yang memiliki nama Supri itu menyahuti ucapan Haris.


Tanpa banyak bicara lagi, Haris yang sudah terbakar amarah, langsung melangkahkan kakinya lebar memasuki halaman yang sangat luas menuju rumah papanya dengan wanita lain.


Melihat, Haris yang terus berjalan dengan penuh amarah, Bu Emi langsung turun dari mobil dan menyusul anaknya.


"Mas! Mas! Tunggu, jangan masuk sembarangan!" pak Supri berusaha mencegah Haris, Namun tak dihiraukan sama sekali oleh Haris.


Justru, Haris terus meneriaki nama papanya untuk keluar.


"Papa, Pa!


Keluar! Keluar, Pa!" teriak Haris dengan suara menggelegar.


Pak Abdul yang tengah duduk santai bersama istri keduanya, penasaran mendengar suara gaduh dari luar. Dengan rasa penasaran, pak Abdul keluar. Dan matanya melotot saat melihat keberadaan putra dan istri pertamanya.


"Ha-ri-s!" pak Abdul tak percaya, akhirnya apa yang dia simpan selama ini, terbongkar juga.

__ADS_1


"Mas!" lirih Emi dengan wajah sendu dan air mata yang terus mengalir deras, memendam luka yang begitu dalam di dalam hatinya.


"Kamu tega, mas!


Bertahun tahun membohongiku, ternyata, seperti ini kehidupan kamu diluar. Kamu membiarkan aku sudah payah sendirian membesarkan anak anak kita, tapi justru kamu hidup bergelimang harta dengan wanita sundal ini!


Kejam kamu, mas!


Aku benci kamu, benci!" teriak Bu Emi yang terus menangis meluapkan kemarahannya.


Pak Abdul yang tadinya shock, berlahan bisa mengendalikan dirinya lagi.


"Masuklah!


Kita bicara di dalam!" dingin dan datar, seketika menyelimuti wajah laki laki paruh baya yang begitu dibenci oleh Haris saat ini.


Tanpa bicara, Haris dan Bu Emi masuk ke dalam dan duduk di sofa mewah yang ada diruang tamu.


"Katakan, kenapa papa tega melakukan ini pada kami?


Lihatlah, kehidupan papa disini dengan kehidupan kami disana, sangat jauh berbeda. Apa maksud anda pak Abdul?" tekan Haris yang sudah begitu kecewa dengan perlakuan papanya.


"Baiklah, papa akan jelaskan.


Menatap ke arah istri keduanya dengan wajah cemas, dan berganti mengalihkan pandangan ke arah istri pertamanya dengan wajah penuh sesal.


"Maksud kamu, apa mas?


Mereka ini siapanya kamu?" tanya Bu Santi bingung, karena selama ini, dia mengira adalah istri satu satunya Abdul.


"Mereka anak dan istri pertamaku, ma!" sahut Abdul yang membuat Bu Santi shock, membekap mulutnya dengan tangan, matanya menatap satu persatu wajah asing di depannya.


"Maksudmu, mas?


Kamu menikahiku, saat kamu sudah punya istri?


Benar begitu, mas?


Ya Alloh! Jahat kamu, mas!" Bu Santi tak lagi mampu menahan tangisnya, benar benar dibuat tercengang dengan kenyataan yang ada.


"Iya!


Maafin aku, Ma!


Aku mencintaimu, dan aku tidak mau kehilangan kamu lagi. Hingga aku berpikir untuk menyembunyikan pernikahan ku darimu.

__ADS_1


Saat aku menikahi kamu, aku sudah menikah dengan Emi, dan punya anak perempuan bernama Susi, kakaknya Haris.


Dia, Haris! Anak keduaku bersama Emi!" sahut Pak Abdul dengan wajah serius.


Sedangkan Bu Emi dan Haris masih memilih bungkam. Menata hati agar sedikit lebih tenang.


"Keterlaluan kamu, mas!


Bertahun tahun kamu sudah membohongi kami.


Ya Alloh!" Bu Santi menutup wajahnya dengan kedua tangan, tergugu mendengar pengakuan suaminya. Sakit pasti, kecewa juga pastinya, hingga dadanya langsung sesak dengan kenyataan yang tersaji di depan mata.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


__ADS_2