
"Aaah, ternyata aku tidak salah pilih menjadikan Edward kekasih, selain tampan dia juga sangat kaya. Yang terpenting dia tidak pelit dan selalu menuruti apa yang aku mau.
Kita lihat saja, pasti besok kalian akan kembali mendukungku karena aku punya kekasih kaya!" gumam Tika yang tersenyum bahagia dan bahkan lonjak lonjak diatas kasurnya sangking bahagianya.
Setelah dimarahi dan merasa tidak lagi dipedulikan, Tika mengurung dirinya di dalam kamar, hingga keesokan paginya.
Tika biasanya akan sarapan terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus.
Saat ini Tika masih mahasiswi semester satu, usianya masih delapan belas tahun.
"Tika,kamu gak sarapan dulu?" tegur Bu Emi saat melihat Tika akan berangkat tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"Gak usah, terimakasih.
Takutnya nanti Tika dianggap beban, bukannya semua sudah gak mau perduli lagi sama Tika?
Jadi lebih baik kita urus diri masing masing saja!" sahut Tika angkuh bahkan wajahnya terlihat tak bersahabat, padahal sedang bicara dengan ibunya sendiri.
"Apa apaan kamu, Tika?
Pagi pagi sudah berani bicara kasar sama orang tua, lama lama kamu kok gak bisa diatur!" bentak Haris yang mendengar ucapan Tika langsung tersulut emosi.
"Oh ya?
Lalu Tika harus bagaimana, mas?
Bukannya kalian sudah tidak mau tau soal hidupnya Tika?
Yasudah, jangan campuri urusan Tika!" sahut Tika ketus dan langsung pergi begitu saja, pesanan taksinya sudah menunggu diluar pagar rumahnya.
"Lama lama anak itu semakin kurang ajar.
Ini tidak bisa kita biarkan, ma!
Haris akan selidiki siapa laki laki yang berhubungan sama Tika. Sepertinya dia membawa dampak buruk dalam kehidupan Tika!" Haris mendudukkan diri di kursi meja makan.
Mengambil nasi goreng yang sudah disiapkan Bu Emi.
"Iya, mama juga setuju sama yang kamu bilang.
Sepertinya dia bukan laki laki baik, buktinya Tika sampai berani melawan kit seperti ini." sahut Bu Emi nampak sedih.
"Mama gak usah terlalu memikirkan masalah Tika. Biarkan Haris yang urus. Haris akan cari tau siapa laki laki itu, Haris pasti akan beri dia pelajaran agar menjauhi Tika." Haris menatap mamanya lekat, meyakinkan wanita paruh baya yang sudah melahirkan nya ke dunia ini.
__ADS_1
"Mama percaya sama kamu, nak!
Semoga setelah ini Tika segera sadar!
Mama takut kalau adikmu akan semakin terjerumus." lirih Bu Emi dengan wajah tak bersemangat.
"Ma!
Haris mohon, mama berhenti kencan sama berondong berondong mama itu.
Lebih baik, mama kembali sama ayah, dan jadi istri yang baik untuknya.
Bukankah ayah masih sangat mencintai mama dan ayah juga orang yang bertanggung jawab, Haris mohon!" Haris menatap penuh ke wajah Bu Emi yang terlihat pias.
"Ayah kamu sudah tua, mana mama selera.
Mama gak bisa!" sahut Bu Emi ketus.
"Ingat umur ma, sampai kapan mama seperti ini terus?" Haris membuang nafasnya kasar, mamanya memang sangat sulit dinasehati.
"Sudahlah, urus saja urusan kamu, biar mama mengurus urusan mama sendiri.
Lagian kamu juga semakin gila dengan wanita wanita murahan diluaran sana, apa bedanya kamu sama mama, yah?" sentak Bu Emi tak terima dengan ucapan Haris.
"Yasudah, terserah mama!
Selama Haris belum menemukan orang yang tepat untuk Haris jadikan istri, Haris ya hanya bisa melampiaskan semua itu sama perempuan perempuan itu. Mau gimana lagi!" balas Haris yang tak merasa berdosa sama sekali. Membuat Bu Emi mencebik tak suka dengan pembelaan anaknya.
"Haris berangkat dulu, ma!
Haris mau ke markas buat menyerahkan urusan bisnisnya ayah sama si Edward.
Setelah itu Haris akan mulai fokus memulai dengan bisnis barunya Haris." pamit Haris yang mencium punggung tangan ibunya.
"Iya, hati hati.
Mama akan dukung dan mendoakan yang terbaik buat kamu!"
Jangan lupa transfer ke rekening mama lima juta, mama mau keluar sama teman teman mama." sahut Bu Emi santai sambil mengunyah nasi goreng di mulutnya.
"Bukannya kemarin Haris sudah kasih ke mama sepuluh juta, masak sudah habis saja sih, ma?" balas Haris kesal namun sekuat hati menahannya.
"Habis lah, kan buat bayar arisan dan traktir gengnya mama makan di restoran mahal.
__ADS_1
Sudahlah, kamu gak usah banyak protes.
Kirimkan saja yang mama mau, toh kamu bisa begini semua juga berkat mama yang mempertemukan kamu sama ayah kandung kamu." sungut Bu Emi dengan wajah masamnya.
"Iya, iya. Haris akan transfer." Haris mengotak Atik ponselnya dan tak lama kemudian menyodorkan bukti transfer kepada mamanya.
"Sudah masuk ya, ma!
Haris berangkat!" sambung Haris yang langsung berjalan keluar menuju mobilnya.
Hari ini rencananya Haris mau bertemu Edwar dan menyerahkan bisnis haramnya pada anak angkat ayahnya itu.
Kalaupun ada masalah, biar Edward yang terseret dan menanggungnya. Haris ingin cari amannya saja dengan membuka usaha baru yang jauh dari urusan hukum.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
__ADS_1
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️