
"Apa benar kamu meminta buktinya, Emi?
Siapkan jantungmu, karena aku memiliki begitu banyak bukti.
Apa kamu sadar, kalau aku sudah memasang cctv tersembunyi didalam rumah itu, bahkan di kamar kamu. Sudah sangat banyak bukti yang aku pegang, Emi!
Bahkan surat DNA ketiga anak kamu juga sudah aku genggam dari bertahun-tahun lalu. Harusnya kamu berpikir, kenapa aku tak Sudi memberikan nafkah pada mereka, karena mereka bukan darah dagingku?
Paham?" pak Abdul menatap tajam pada Bu Emi yang terlihat membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Kebenaran yang dikatakan pak Abdul membuatnya shock.
"Apa ini, kenapa kalian membuatku gila dengan ucapan kalian. Ma, katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?
Aku anaknya siapa?
Katakanlah ma!" tekan Haris yang mulai gerah dengan adu mulut kedua orang tuanya.
"Kamu bukan darah dagingku, Haris.
Sejak mama kamu hamil Susi dan aku memergoki perselingkuhannya, sejak saat itu, aku enggan menyentuh mama kamu lagi.
Tapi dasarnya mamamu, dia bukannya insaf, dan memperbaiki diri, tapi justru semakin gila, aku yang sudah tidak pernah menyentuhnya, tapi dia bisa hamil kamu dan Vita, pikirkanlah.
Bagaimana bisa dia hamil sedangkan aku tidak lagi berhubungan badan dengannya?
Kalau dia tidak menyerahkan tubuhnya dengan laki laki lain, itu tidak akan pernah terjadi, kamu dan Vita tidak pernah ada.
Aku diam dan tidak menggugat cerai, karena kami punya kesepakatan untuk tidak saling mengusik hidup masing masing, dan demi menjaga kesehatan almarhum orang tuaku yang begitu menyayangi Emi.
Dan mereka sampai rela menyerahkan berhektar-hektar sawah untuk Emi.
Tapi hari ini, sawah itu sudah kembali menjadi milikku, dan kamu, Emi!
Kamu sudah tidak berhak atas sawah orang tuaku!" jelas pak Abdul panjang lebar, membuat Haris terpaku dengan kenyataan yang ada, sedangkan Bu Emi, terlihat mengepalkan kedua tangannya.
"Licik!
Licik kamu, Abdul!
Kamu sudah menipuku, hah?" teriak Bu Emi tak terima.
"Aku tidak pernah menipu kamu, Emi!
Dari awal, aku sudah bilang, baca dulu isi surat itu, tapi kamu justru langsung menandatanganinya, dan lagian, sawah itu milik orang tuaku, aku jauh lebih berhak dengan sawah itu." tekan pak Abdul dengan wajah tegas dan sedikitpun tidak takut dengan kemarahan Emi.
Melihat suara gaduh, Bu Santi dan Tomi kembali keluar untuk melihat apa yang terjadi.
"Tomi, tolong kamu fotocopy surat ini, kaku berikan pada mereka.
Yang asli, simpanlah ke dalam brankas!" titah pak Abdul yang menyerahkan kertas pada Tomi.
Tanpa banyak bertanya, Tomi melakukan apa yang papa nya suruh.
__ADS_1
"Gara gara kamu, hidupku hancur!
Kamu sudah merebut suamiku juga hartanya.
Dasar perempuan sialan!" Bu Emi hendak menyerang Bu Santi yang berdiri tak jauh darinya.
Namun dengan sigap, pak Abdul menghadangnya.
Menghempaskan tangan Bu Emi hingga terhubung.
"Jangan pernah sentuh dia, Emi!
Bukan salahnya kalau aku lebih memilih Santi.
Dia perempuan terhormat, tau caranya menjaga harga dirinya dan juga harga diriku, suaminya.
Tidak sepertimu yang begitu murah mengobral tubuhmu pada banyak pria. Menjijikkan!" tekan pak Abdul yang murka karena Emi mau main kasar pada istrinya.
"Aku tak perduli, dia itu pelakor tidak tau malu, perempuan terhormat tidak akan mau menikahi suami perempuan lain. Dia sama sama menjijikkan, Dan kamu, Abdul!
Segera lunasi kekurangan uang yang aku minta tadi, persetan dengan hidup kalian. Aku hanya butuh uang untuk membalas orang orang seperti kalian!" teriak Emi yang sudah terbakar amarah.
"Hahahaaa, uang?
Baiklah, aku sudah kasih seratus juta di dalam amplop, berati masih kurang dua ratus juta lagi. Pas tiga ratus juta, cukup untuk mengganti uang belanja kamu selama ini!" Pak Abdul merogoh ponselnya dan mengotak atiknya.
"Dua ratus juta, sudah aku kirim ke rekening kamu. Lunas!
"Apa, tiga ratus juta?
Bukannya perjanjiannya tadi tiga milyar?
Jangan bercanda kamu, Abdul.
Berikan hak kami yang sudah kalian curi selama ini" bentak Bu Emi semakin emosi.
"Tomi, berikan kertas itu pada bu Emi!
Suruh baca lagi yang teliti isi surat itu. Biar dia paham dan tidak lagi banyak menuntut!" pak Abdul melihat Tomi sudah keluar dari ruang kerjanya, dan memintanya untuk menyerahkan fotocopy surat perjanjiannya pada Bu Emi.
"Ini, silahkan dibaca!" Tomi menyerahkan keras kembaran putih pada Bu Emi, wanita setengah baya itu kembali membacanya pelan pelan, dan mulutnya menganga seketika.
"Apa?
Kamu sudah menipuku Abdul!
Jahat kamu, keterlaluan!" herdik Bu Emi yang wajahnya sudah memerah, tangannya mengepal sangking emosinya.
"Aku tidak menipu, kamu saja yang terlalu ceroboh. Harusnya kamu bersyukur, karena aku masih mau memberikan uang tiga ratus juta pada kamu yang nyata nyata bukan tanggung jawabku.
Dan ingat, sawah yang diberikan orang tuaku, sudah aku ambil kembali.
__ADS_1
Pergilah dan urus hidupmu juga anak anak jamu dengan baik. Jangan ajari mereka seperti apa yang kamu lakukan selama ini. Taubatlah selagi masih ada kesempatan." tekan pak Abdul yang masih bersikap sangat santai.
Haris hanya bisa diam menyaksikan pertengkaran orang tuanya, masih shock dengan apa yang baru saja ia ketahui.
"Haris, kita pulang sekarang.
Semoga mereka mendapatkan karma atas perlakuannya pada mama!" Bu Emi berjalan dengan langkah lebar, dadanya turun naik sangking kesalnya, Haris tak lagi banyak bertanya apa lagi bicara, dengan sisa tenaganya, ia mengikuti langkah mamanya meninggalkan rumah yang dia sebut sebagai papa, tapi kenyataannya, dia bukan anak seorang Abdul. Miris.
"Apa yang papa katakan itu benar?
Haris bukan anak kandung papa?" Tomi menatap dalam pada manik mata papanya.
"Iya, itu benar!
Kalau mereka anak kandungku, tidak mungkin aku memilih hidup dengan mama kamu, dan setia padanya.
Bagaimanapun papa juga tau caranya menghargai perempuan." sahut pak Abdul yang menatap penuh damba kada sang istri yang masih setia berdiam diri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )
New karya :
#Karena warisan Anakku mati di tanganku
#Ayahku lebih memilih wanita Lain
#Saat Cinta Harus Memilih
#Menjadi Gundik Suami Sendiri
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1