Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 31


__ADS_3

[Papaku sudah menikah lagi tanpa kami tahu dari bertahun tahun lalu. Dia punya anak dengan perempuan selingkuhannya itu, dan anaknya itu adalah Tomi, atasan kita di kantor.


Rasanya sakit dan kecewa saat tau dibohongi seperti ini. Bahkan mereka selama ini hidup bahagia dan mewah, sedangkan aku dan keluargaku harus mati matian berjuang sendirian untuk bisa bertahan hidup, aku tidak terima, dan pasti akan membalas mereka. Toh papa kandungku adalah orang yang sangat kaya raya, baru saja mama memberitahu tentang ayahku!] tulis Haris panjang lebar dan membuat Dara semakin kaget jika ternyata Pak Abdul bukan ayah kandung Haris dan sudah memiliki keluarga lain, bahkan Tomi adalah anak dari mantan mertuanya itu.


Dara meletakkan ponselnya, berpikir sejenak dan berniat ingin mengakhiri permainannya dengan Haris.


Entah kenapa firasatnya tiba tiba berubah tak enak.


Dara menghubungi Riani dan meminta bertemu besok, Dara ingin menyampaikan maksud untuk mengakhiri semuanya.


Uang yang Haris berikan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Hilya hingga nanti dewasa. Dan Dara juga sudah punya pekerjaan bersama Rangga, membuka bisnis toko kue dan catering.


"Ya, aku harus akhiri semuanya. Jangan sampai nanti membuat Riani kesandung masalah dengan mas Haris. Entah kenapa firasat ku tak enak begini." Dara berbicara sendiri di dalam hatinya.


Ponselnya terus berbunyi, panggilan masuk dan sederet pesan dari Haris. Namun Dara memilih mengabaikannya, mencari cara untuk mengakhiri semuanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Keesokan harinya, Dara bertemu dengan Riani dan Dina dirumahnya. Awalnya Dara mengajak mereka bertemu di salah satu restoran sambil menikmati hidangan.


Namun, Riani justru mengajak bertemu dirumahnya Dara saja, sekalian akan mengajak Rangga agar kakaknya itu tau tempat tinggal rekan bisnisnya, sekaligus melakukan pendekatan.


"Masuk!


Maaf rumahnya masih berantakan begini!" sambut Dara saat tamunya datang.


"Gak papa kali mbak, namanya juga ada anak kecilnya. Mbak Dara apa masih sibuk?" sahut Riani yang mengekor di belakang Dara diikuti oleh Rangga dan Dina dibelakangnya.


"Gak kok, pesenan sudah beres semua, yang nggak masukin kotak saja, kan sudah ada tetangga yang bantu bantu disini.


Oh iya, tadi aku sudah masak buat kita makan bareng.


Aku sudah bikin rendang, sambel ijo, sambel Pete, juga ikan nila goreng.


Yuk makan dulu, mumpung masih hangat semuanya." ajak Dara yang langsung menggandeng Riani dan Dina untuk masuk kedalam rumahnya, tempat di dapur.


Diatas meja makan sudah tersaji menu menu yang tadi disebutkan Dara.


"Ini semua kamu sendiri yang masak, Ra?" tanya Dina yang menatap makanan di atas meja yang tentu saja sangat menggugah selera.


"Gak sih, tadi dibantuin mbak Lasmi kok.


Yuk kita makan dulu, baru lanjut ngobrol." sahut Dara yang langsung duduk dan mengambil piring lalu memasukkan nasi di atasnya, diikuti oleh Riani, Dina juga Rangga.


Rangga yang sedari tadi memilih diam, penasaran dengan rasa semua masakan Dara, dengan cekatan Rangga mengambil beberapa menu lalu memasukkan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Enak banget masakannya Dara, dia memang perempuan tangguh yang harus diperjuangkan." batin Rangga sambil menyiapkan makanan ke dalam mulutnya.


Tak terasa, Rangga sudah nambah sampai tiga kali sangking enaknya.


Membuat Riani dan Dina melongo menatap Rangga yang makan dengan sangat lahap nya.


"Kenapa sih, kalian lihatin aku segitunya. Ada yang salah?" tanya Rangga menatap ke arah Dina dan Riani bergantian.


"Gak ada yang salah sih, cuka heran saja.


Sejak kapan mas Rangga makan sangat lahap begitu, bahkan sampai nambah tiga kali!" sahut Riani menatap lekat ke arah kakaknya yang langsung terlihat salah tingkah.


"Apa?


Nambah tiga kali?


Enggak kok, jangan ngawur ah!" elak Rangga yang tak sadar kalau memang dirinya sudah nambah hingga tiga kali.


Sontak saja, Dina dan Riani tertawa melihat kekonyolan Rangga.


"Ya ampun, Rangga!


Bisa bisanya kamu gak sadar kalau sudah nambah sampai tiga kali. Lihat tuh sampai masakannya habis. Enak banget ya masakan Dara, sampai sampai kamu sangat lahap makannya?" balas Dina sambil tersenyum menggoda ke arah sepupunya itu.


"Iya sih, enak banget.


Nanti aku pikirkan konsepnya dan cari tempat yang strategis. Kita juga akan kerja sama di bidang makanan, aku yakin masakan kamu pasti akan sangat disukai pembeli." sahut Rangga sangat antusias, membuat Dara tersipu dan sangat bersyukur, jalan rejekinya seolah terus terbuka setelah hubungannya dengan Haris berakhir.


"Alhamdulillah, terimakasih mas Rangga!" sahut Dara terharu dan terus mengucapkan rasa syukur di dalam hatinya.


Setelah semua menyelesaikan makannya.


Dara mengajak ketiga tamunya untuk ngobrol santai diruang tamu.


Dara mengungkapkan niatnya dan juga kegelisahannya.


"Baiklah, kalau memang itu sudah jadi keinginannya mbak Dara.


Kita akan akhiri drama mengerjai mantan suaminya mbak itu. Aku harap setelah ini, hidup mbak Dara semakin berkah, bahagia dan baik baik saja. Aamiin!" sahut Riani dengan senyuman hangatnya, juga diiyakan oleh Dina.


"Memang sebaiknya, kalian berhenti dari main main gak jelas ini. Karena aku lihat, Haris itu orangnya nekad, takutnya terjadi apa apa di kemudian hari.


Lagian, mbak Dara sudah punya pekerjaan yang insyaallah Mamou mencukupi kebutuhan Mbak Dara dengan anaknya.


Insyaallah saya akan bantu modal buat kerja sama kita nantinya. Bismillah ya mbak dara?" Rangga ikut menimpali dan memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah urus surat cerai Ra?" tanya Dina dengan wajah serius.


"Sudah!


Aku sudah mengurusnya.


Ini surat panggilan sidang untuk besok hari Senin.


Datanglah, karena aku tidak ingin proses perceraiannya ribet. Biar aku juga segera bebas dari perempuan level rendah kayak kamu, Ra!" herdik Haris yang menatap sengit ke arah Dara yang justru memperlihatkan wajah tenangnya.


"Alhamdulillah, aku juga ingin segera lepas dari manusia tak berhati kayak kamu, mas!


Jadi kamu tenang saja, lagian hidupku jauh lebih baik dan beruntung sejak berpisah darimu." sahut Dara dengan senyum simpul dan tatapan data ke arah Haris yang masih berdiri di depan pintu rumah Dara.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2