
"Dara sudah bahagia dengan pilihannya.
Lebih baik kamu buang keinginan kamu itu, karena Dara tidak akan pernah mau kembali padamu lagi." sahut Bu Rohimah enteng bahkan tanpa beban sama sekali. Sebagai seorang ibu, bu Rohimah juga ikut sakit hati melihat putrinya diperlakukan tidak baik bahkan direndahkan oleh suaminya sendiri, Haris sudah melakukan kesalahan yang fatal, hingga menutup hati Dara dan keluarganya untuk menerimanya kembali.
Haris terdiam, kecewa dan juga menyesal. Dulu pasti dia akan melawan dan berteriak, tak perduli dirinya salah atau benar.
Namun kini, Haris tak lagi berbuat seperti itu.
Cukup dua melakukan kesalahan yang membuat hidupnya tak lagi bahagia.
"Baiklah, Haris paham, Bu!
Tapi ijinkan Haris bertemu dengan Dara. Haris mau bicara sebentar dengannya." sahut Haris dengan mata yang mengembun.
"Ada apa, mas?
Apa ada yang harus kita bicarakan lagi?
Aku rasa semuanya sudah jelas." tiba tiba Dara muncul dan menatap tajam ke arah Haris dengan rona wajah tak sukanya.
"Dara!" Haris menoleh, menatap dalam perempuan yang dulu selalu dihinanya, bahkan direndahkan harga dirinya dihadapan banyak orang. Lantaran Dara terlihat kusam dan bertubuh sedikit gemuk. Padahal semua itu juga salah dirinya yang tak mau perduli dengan hati dan kebutuhan istrinya. Haris terlalu pelit dan mendengarkan ucapan ibunya. Sekarang penyesalan yang ada, tanpa bisa meraih apa yang seharusnya membuatnya bahagia. Hilya dan Dara.
"Apa benar kamu mau nikah lagi, Ra?" Haris menatap lekat wajah cantik mantan istrinya yang semakin bersinar.
"Iya!
Dia Minggu lagi, aku akan menikah dengan mas Rangga. Pasti kamu tau siapa dia, kakak Riani, wanita yang membuatmu tergila gila karena dia cantik." jawab Dara dengan senyuman miring dan tatapan sinis.
Haris tak bisa menjawab dan memilih diam.
Hatinya ada perasaan yang sulit dia jelaskan.
"Aku tidak akan membatasi kamu untuk bertemu Hilya.
Mas Rangga tau itu dan dia setuju.
Tapi kamu juga harus ingat, mas!
Saat aku sudah jadi istri dari laki laki lain, tolong kamu pun juga harus menghargai keberadaan suamiku, mintalah ijinnya dan bersikaplah ramah padanya saat kamu berkunjung menemui Hilya." Dara bicara sangat tegas, membuat Haris begitu sesak. Dara benar benar sudah membuangnya dari dalam hatinya.
"Baiklah, aku mengerti.
__ADS_1
Terimakasih sudah mengijinkan aku tetap bertemu dengan anakku.
Semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu.
Aku permisi dulu, Asalamualaikum!" Haris memutuskan pergi, karena tak sanggup menahan rasa perih di dadanya. Saat sudah berada di dalam mobilnya Haris meluapkan rasa yang sudah membuatnya sesak. Air matanya seketika luruh membasahi wajahnya.
Harian untuk bisa hidup bersama dengan dara dan Hilya pupus sudah.
"Semoga ini yang terbaik. Aku tidak lagi berhak mengatur dan melarangnya.
Semoga kamu bahagia bersama Rangga.
Aku akan benahi diriku jadi lebih baik. Semoga aku bisa menjalani hariku setelah ini dengan baik baik saja." gumam Haris sambil mengusap air matanya dan pergi meninggalkan halaman rumah Dara. Rumah yang dulu menjadi tempatnya pulang dan saksi dari perbuatan kejamnya pada istri dan anaknya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari yang di nanti pun tiba.
Dara dan Rangga sah menjadi pasangan suami istri, pesta mewah yang diadakan keluarga Rangga, membuat Dara merasa di hargai dan di cintai.
Rangga dan keluarganya menerima dirinya apa adanya, pun dengan Hilya. Semua menyayangi anak balita itu dengan tulus. Bahkan orang tua Rangga tak mau lepas dari Hilya. Tidur pun mereka ingin bersama Hilya.
Mama merasa bahagia dekat dengan cucunya, apa kamu gak lihat gimana mama dan papa berebut menggendong Hilya?
Mereka sudah lama menginginkan cucu, sekarang Hilya hadir di keluarga ini, jelas mama dan papa bahagia dan gak mau pisah sama cucunya itu.
Kamu tenang saja, mama pasti bisa menjaga dan mengurus Hilya dengan baik." Rangga menenangkan istrinya yang cemas kalau nanti Hilya membuat kedua mertuanya repot oleh tangisnya.
"Tapi mas, aku sungkan.
Gak enak sama mama dan papa!" sahut Dara dengan wajah cemas.
"Sudahlah, biarkan Hilya sama mama.
Toh yang menginginkan Hilya tidur dengan mereka kan mama sendiri, jadi kamu tenang saja.
Biar mama puas puasin ngasih Hilya selama kita masih dirumahnya. Kalau kita sudah pindah kerumah sendiri. Kamu bisa sepuasnya menghabiskan waktu dengan anak kita.
Sekarang fokus saja padaku, iya kan?" Rangga menggoda istrinya dengan menaik turunkan alisnya, Dara yang hafal dengan maksud suaminya hanya bisa tertawa dan pasrah dengan keinginan laki laki yang sudah halal baginya.
Terkadang perpisahan membuat kita larut dalam kesedihan, menyalahkan takdir yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun kita lupa, perpisahan tak selamanya duka.
__ADS_1
Bisa jadi itu jalan untuk menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Kita hanya cukup mengimani dan memasrahkan takdir pada sang pemilik kehidupan.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurutNYA. Jadi tetaplah berprasangka yang baik baik dengan takdir yang menghampiri.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (Tamat)
#Coretan pena Hawa (Tamat)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (Tamat)
#Sekar Arumi (Tamat)
#Wanita kedua (Tamat)
#Kasih sayang yang salah (Tamat)
#Cinta berbalut Nafsu ( Tamat )
#Karena warisan Anakku mati di tanganku (Tamat)
#Ayahku lebih memilih wanita Lain (Tamat)
#Saat Cinta Harus Memilih ( Tamat)
#Menjadi Gundik Suami Sendiri [ On going ]
#Bidadari Salju [ On going ]
#Wanita Sebatang Kara { New karya }
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1