Menjadi Gundik Suami Sendiri

Menjadi Gundik Suami Sendiri
episode 50


__ADS_3

"Dasar kamu ya, Tik!


Kalau Haris tau, pasti kena marah kamu!" Nita berusaha mengingatkan, namun Tika sama sekali tidak perduli.


Tika justru meneruskan langkahnya menuju parkiran dan berniat mau pergi ke mall, belanja apapun yang diinginkan. Karena uang kini tak jadi masalah lagi baginya.


Saldo di rekeningnya benar benar sedang banyak menurutnya.


Tika sepanjang jalan merasa gelisah, karena Edward sama sekali tidak bisa dihubungi sedari tadi.


Pikirannya kacau, meskipun sudah berusaha untuk berpikir positif, tapi tetap saja merasa cemas.


"Apa yang terjadi sama Edward, kenapa hapenya sama sekali tak bisa dihubungi, biasanya dia tidak pernah menonaktifkan ponselnya." Tika terus bertanya tanya di dalam hatinya hingga membuat dadanya sesak. Tika benar benar sudah dibuat jatuh cinta pada Edward.


Tika membelokkan mobilnya di salah satu cafe, yang menunya berbagai macam kue yang sedang viral, karena terkenal rasanya yang enak dan harganya yang terjangkau.


Tika tidak tau, kalau toko itu tempat usahanya Dara, mantan kakak iparnya.


"Itu kan mobilnya Edward, ternyata dia ada di sini juga. Kalau jodoh ya, memang tidak akan kemana mana. Ada saja jalan untuk bertemu merajut asmara. Aah, aku kenapa jadi lebay begini?" Tika bicara sendiri sambil senyum senyum menatap mobil milik Edward yang sering dipakai untuk kencan dengannya.


Dengan hari yang berbunga bunga, dan langkah ringan, Tika berjalan memasuki cafe yang terlihat begitu apik dekorasinya itu.


Matanya menyapu seluruh ruangan mencari sosok yang dia rindukan, Edward kekasih hatinya.


"Itu kan Edward, kenapa sama si Dara?


Apa jangan jangan mereka ada hubungan?


Awas saja kamu Dara, aku akan buat perhitungan karena sudah berani mengusik kebahagiaanku." gumam Tika dengan wajah memerah, menatap benci pada sosok wanita cantik yang tengah duduk didepan Edward.


"Ada hubungan apa kalian?


Apa kamu selingkuh, mas?" tiba tiba Tika hadir diantara Edward dan Dara yang tengah membicarakan bingkisan buat Hilya dari kakeknya.


"Maksudnya?" sahut Dara tak mengerti, menatap Tika dan Edward bergantian.


"Halah, pura pura bodoh. Edward itu pacarku, calon Suamiku, mbak Dara gak usah kegatelan ngerayu calon suamiku ya. Ingat umur dan status dong. Jangan jadi janda kegatelan gini!" seru Tika dengan meninggikan suaranya. Membuat Dara menahan rasa malu, karena semua pengunjung cafe sudah memperhatikan dirinya dengan suara bisik bisik yang bikin sakit hati.


Dara menghembuskan nafasnya dalam, menatap tajam ke arah Tika, tak terima dengan apa yang dia tuduhkan.


"Jaga mulut kamu, Tika!


Sebelum memfitnah dan bicara ngawur, lebih baik tanya baik baik, kan bisa!


Jaga etika kamu, masak anak kuliahan sikapnya kayak gini, kalah sama yang lulusan SMP, tapi tau bagaimana cara menghormati orang lain." sahut Dara yang sudah sangat emosi dengan tingkah mantan adik iparnya itu, dari dulu Tika memang suka sekali bicara pedas dan seenaknya, tanpa mau mencari kebenarannya lebih dulu.


"Tika, lebih baik kamu diam. Jaga sikapmu!


Jangan buat aku ilfil dengan sikap kamu yang seperti ini!" sambung Edward yang menatap tajam ke arah Tika.


Membuat gadis itu akhirnya diam dengan wajah masam.

__ADS_1


"Duduklah, aku akan menyelesaikan urusanku dengan mbak Dara lebih dulu.


Jangan ikut campur, karena ini bukan ranah kamu.


Dan satu lagi, aku tekankan sama kamu, aku sama mbak Dara tidak ada hubungan apa apa, jadi stop kamu memfitnahnya dengan pikiran kotormu itu!


Paham?" tekan Edward yang jengah dengan kelakuan wanita dihadapannya.


"Kenapa kamu jadi marah marah ke aku mas?


Wajar dong aku marah, lihat calon suamiku ketemuan dan duduk berdua dengan wanita lain. Apalagi dia janda. Rendah sekali selera kamu, mas!" sahut Tika yang masih belum puas menghina dan merendahkan Dara.


"Kalau kamu tidak bisa diam dan terus bicara kasar sama mbak Dara. Aku tidak akan Sudi mengenalmu lagi. Jujur, aku tidak suka dengan perempuan berhati kotor sepertimu, Tika.


Jaga sikap dan mulutmu!" bentak Edward yang sudah tak bisa menahan emosinya.


Sedangkan Dara memilih diam, meskipun hatinya sangat kesal dengan kelakuan Tika.


"Iya, iya!


Jahat kamu, mas!" Tika memanyunkan bibirnya dan menatap tak suka ke arah Dara, namun Dara sama sekali tak ingin perduli.


Percuma meladeni orang seperti Tika, bisa ikut gila sendiri.


"Kalau sudah selesai, lebih baik aku pergi dulu.


Kalian selesaikan urusan kalian.


"Tunggu mbak Dara.


Masih ada satu lagi yang belum saya sampaikan.


Ada amanat dari pak Suganda yang harus saya sampaikan pada mbak Dara untuk Hilya."


Edward mengeluarkan map warna merah, lalu menyerahkannya pada Dara.


Dara mengerutkan wajahnya tak mengerti.


"Mbak baca dulu, itu untuk Hilya dari kakeknya.


Karena, sudah jadi kebiasaan pak Suganda memberikan semua cucu cucunya jaminan untuk masa depan mereka. Dan itu, bagian untuk Hilya.


Selama Hilya masih belum berumur sembilan belas tahun, mbak Dara berhak mengelolanya." sambung Edward dengan senyum ramah.


Dara membuka map merah yang disodorkan oleh Edward dan membacanya.


Terkejut sudah pasti, tapi Dara berusaha untuk bersikap biasa saja, agar tidak terkesan gila harta dan norak Dimata anak muda dihadapannya.


"Apa ini benar buat Hilya?


Ini sangat berlebihan. Aku tidak bisa menerima nya!" Dara kembali menyodorkan mapnya kepada Edward.

__ADS_1


"Terima saja, mbak!


Ini hak nya Hilya untuk masa depannya.


Pak Suganda sudah terbiasa seperti ini. Ini adalah salah satu bentuk bukti kasih sayangnya pada cucunya.


Terima dan simpan baik baik.


Mulai besok, mbak sudah bisa mengelolanya.


Nanti sudah ada orang yang akan membimbing mbak. Alamatnya sudah saya tulis di dalam map itu juga." sahut Edward serius. Membuat Tika penasaran dengan yang dikatakan kedua orang di depannya.


"Kalian membicarakan apa sih, pak Suganda?


Bukannya pak Suganda itu ayahnya mas Haris?" celetuk Tika ikut menimpali.


"Tolong, kamu diam dulu, Tika!


Ini bukan ranahmu, jangan ikut campur." tekan Edward tak suka, membuat Tika berdecak kesal karena Edward begitu tegas padanya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


#Kasih sayang yang salah (Tamat)


#Cinta berbalut Nafsu ( ongoing )


New karya :


#Karena warisan Anakku mati di tanganku


#Ayahku lebih memilih wanita Lain


#Saat Cinta Harus Memilih


#Menjadi Gundik Suami Sendiri


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.

__ADS_1


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


__ADS_2