
Setelah kedatangan Aomine, ia langsung dimasukkan ke lapangan. Aomine lalu menghampiri Kuroko.
"Yo, Tetsu. Lama tidak bertemu. Dari tadi aku membayangkan seperti apa raut wajahmu nanti. Raut wajah yang bagus. Sepertinya kau siap untuk bertanding." Ucap Aomine.
"Ya" Ucap Kuroko.
"Aku sudah cukup mengerti apa yang ingin kau katakan, tapi kau harus menunjukkannya dengan permainanmu. Lakukan saja sesukamu. Katakan itu setelah mengalahkanku."
"Baik"
"Kalau kau bisa, ya." Ucap Aomine sambil melewati Kuroko dan Kagami.
"Lihat saja! Akan segera kami tunjukkan padamu!" Ucap Kagami.
Pertandingan kembali dimulai. Aomine bermain dengan sangat cepat, tapi saat ia akan melakukan dunk, ia dihentikan oleh Kagami. Begitu juga sebaliknya, saat Kagami akan melakukan dunk, ia dihentikan oleh Aomine.
Quarter kedua pun telah selesai.
"Lumayan juga kalian." Ucap Aomine. "Karena tertinggal sepuluh angka, tadinya kupikir kalian sangat payah. Ternyata kalian lumayan juga, ya?"
Kedua tim sedang beristirahat di ruang ganti masing-masing sebelum babak kedua dimulai.
"Kerja bagus untuk babak pertama! Aku membuatkan ini agar kita bisa membalas mereka di babak kedua!" Ucap Riko menunjukkan sebuah kotak bekal. "Untuk mengisi energi kalian!"
Dia membuat lemon madu tapi sama sekali lemonnya tidak dipotong.
"Kali ini sudah kucuci kok, jadi kalian juga bisa makan kulitnya." Ucap Riko.
'Hah...aku tau ini akan terjadi, untung aku membuatnya.' Batin Rei.
"Ano...aku juga membuat lemon madu. Semoga kalian suka." Ucap Rei sambil membuka kotak bekal yang dibawanya. Lemon madu yang dibuat Rei sudah dipotong dan rasanya sangat enak. Mereka langsung memakannya. Rei yang melihat hal itu tersenyum.
Sedangkan Riko sedang murung dipojokkan karena tidak ada yang mau memakan lemon madu buatannya.
"Kuroko, kau nggak mau?" Tanya Kagami yang melihat Kuroko sama sekali tidak memakan lemon madunya.
"Maaf, aku tidak apa-apa." Ucap Kuroko.
'Pembohong! Kau pasti sedang memikirkan sesuatu kan?' Batin Rei.
"Kuroko-kun, kau sudah bermain penuh di babak pertama, jadi aku berniat untuk mengistirahatkanmu dulu. Karena itulah kau harus makan untuk mengisi tenagamu." Ucap Riko.
"Ano...bolehkah aku bermain di babak kedua?" Tanya Kuroko.
Riko terlihat tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Kuroko.
"Memang tanpa Kuroko Aomine akan sulit diatasi. Tapi apa kita bisa mengatasinya?" Ucap Hyuga.
"Bermain untuk dua babak berturut-turut, ya?" Ucap Riko sedang berpikir.
"Misdirection mu itu, tidak bisa digunakan selama satu pertandingan penuh, kan?" Ucap Hyuga.
"Aku juga tidak setuju. Aku sudah melihatnya dengan eagle eye, keefektifan kemampuanmu sudah sangat berkurang. Untuk sementara kau harus istirahat." Ucap Izuki.
"Aku bisa melakukannya. Tidak, aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apa pun demi mengalahkan Aomine-kun." Ucap Kuroko.
"Pelatih, boleh aku minta lemon yang tadi?" Ucap Kagami. Ia lalu memasukkan lemon itu ke mulut Kuroko. "Sudah, duduk dan makan saja, bodoh! Serahkan pada kami!"
Akhirnya diputuskan bahwa Kuroko diistirahatkan untuk sementara.
__ADS_1
"Kagami-kun" Panggil Kuroko saat mereka sedang berjalan menuju lapangan.
"Apa kau sudah lebih tenang?" Ucap Kagami.
"Ya, yang lebih penting, aku belum pernah melihat sejauh apa kemampuan Aomine-kun sejak bakatnya muncul. Selain itu, seperti Kise-kun dan Midorima-kun, dia mungkin juga telah berkembang. Karena itulah, aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Berhati-hatilah."
"Itulah yang kumau."
Aomine muncul di lapangan saat sudah selesai melakukan pemanasan.
"Ayo cepat kita mulai." Ucap Aomine.
"Yo, sudah selesai pemanasannya?" Ucap Kagami.
"Karenanya, cobalah terus bertahan sampai akhir. Itu juga kalau kau bisa."
Quarter ketiga pun dimulai. Setelah berhasil menggagalkan Aomine untuk mencetak angka, Seirin segera melakukan serangan balasan. Tapi, saat Kagami akan melakukan dunk, ia juga dihentikan oleh Aomine.
"Nggak akan kubiarkan. Kau kira, serangan balasan selambat itu akan berhasil?" Ucap Aomine.
Saat sedang dihadang oleh Kagami, tiba-tiba Aomine menyeringai.
"Membosankan. Basket yang biasa itu memang nggak cocok buatku." Ucap Aomine.
Setelah berhasil melewati Kagami, Aomine melakukan shoot dari belakang ring. Ia berhasil mencetak angka.
"Dasar Kiseki no Sedai itu, kalian semua memang sinting!" Ucap Kagami.
Aomine terus saja mencetak angka dan membuat Seirin kesulitan untuk mengejar ketertinggalan.
'Tidak ada bentuk yang pasti bagi Aomine untuk melakukan dribble atau shoot. Gerakannya tak terbatas, mustahil untuk ditahan. Seorang unstoppable scorer. Dialah ace Kiseki no Sedai. Aomine Daiki.' Batin Rei.
"Kemampuan tim kalian, tidak hanya ini, kan? Yang bisa mengalahkan ku hanyalah aku seorang. Kalau cuma kau, tidak akan cukup melawanku." Ucap Aomine lalu mendekati bench tim Seirin. "Ayo main, Tetsu. Kita selesaikan sekarang juga."
"Kuroko-kun..." Ucap Riko.
"Tidak apa-apa. Istirahatku sudah cukup. Aku akan bermain." Ucap Kuroko lalu berdiri.
"Tunjukkanlah padaku, kekuatan kombinasi cahaya dan bayangan baru kalian." Ucap Aomine.
Akhirnya, karena keadaan yang genting. Riko memasukkan Kuroko kembali ke pertandingan. Kuroko lalu berjalan mendekati Kagami.
"Maaf, kalau sendiri ternyata lebih sulit dari yang kukira." Ucap Kagami.
"Maaf, aku tidak mengerti kenapa kau meminta maaf. Bukankah sejak awal seharusnya kita memang bertarung bersama? Kalau bisa menang semudah itu, maka tidak akan ada yang berusaha." Ucap Kuroko.
"Berisik. Aku tau!" Ucap Kagami.
Mereka lalu melihat kearah Aomine.
"Ayo mulai!" Ucap Kagami.
"Ya, ayo maju." Ucap Aomine.
Meski Kuroko sudah dimasukkan, Seirin masih mengalami kesulitan dalam menghadapi Aomine.
"Menyedihkan sekali. Kau sama sekali tidak berubah dari saat SMP. Kemampuanmu itu sama sekali tidak berkembang, kan? Memang, yang dikatakan Akashi itu benar. Basket mu itu sama sekali tidak berguna." Ucap Aomine.
Saat itu ada sesuatu yang aneh terjadi pada Kagami. Riko yang menyadari hal itu segera mengganti Kagami.
__ADS_1
"Kenapa lagi? Kalau sudah di tapping seharusnya baik-baik saja, kan?" Ucap Kagami.
"Sudah segeralah duduk." Ucap Tsuchida.
"Aku baik-baik saja kok! Selain itu, pertandingan masih berlangsung! Mana bisa aku.." Ucap Kagami.
"Sudah, cepat duduk!"
Karena menghindari menggunakan kakinya yang cedera, secara tidak sadar Kagami membebani kaki yang satunya.
Seirin sudah tertinggal jauh sebanyak 40 angka dari Touou.
"Lebih cepat dari dugaanku, ya? Hasilnya sudah jelas. Akulah yang menang, Tetsu." Ucap Aomine.
"Masih belum berakhir. Kemungkinan menang akan jadi 0%, saat para pemain sudah menyerah. Mau situasinya terlihat mustahil sekalipun, aku tidak akan mau menjadikannya 0%. Karena itulah, aku tidak akan pernah menyerah!" Ucap Kuroko.
Ucapan Kuroko membuat semangat tim Seirin kembali bangkit.
'Tidak ada yang menyerah. Semua terus berjuang hingga akhir. Walaupun demikian, perbedaan angka semakin besar. Tidak ada, yang meneteskan air mata. Pada hari itu, kami...untuk pertama kalinya setelah sekian lama...dikalahkan.' Batin Rei. 'Aku tau ini akan terjadi. Tidak akan ada yang berubah.'
Di ruang ganti.
"Sial!" Ucap Kagami sambil memukul loker didekatnya.
"Semuanya! Kita masih punya dua pertandingan lagi. Melawan Meisei dan Seishinkan! Tidak ada waktu untuk terus murung!" Ucap Riko.
Setelah itu, tinggal Kuroko dan Kagami di ruang ganti.
"Hei. Kurasa, inilah batas kita. Sejujurnya, kukira kita bisa lebih dari ini. Tapi, ternyata berakhir seperti ini. Sepertinya, bila berhadapan dengan kekuatan mutlak, kerja sama saja tidak cukup untuk mengalahkannya." Ucap Kagami lalu pergi.
'Di dua pertandingan berikutnya, Kagami tidak diturunkan. Selain itu, terjadi keanehan pada permainan Kuroko. Pass yang selama ini selalu menyelamatkan kami, menjadi dipenuhi banyak kesalahan. Berusaha keras sekalipun, tidak semua penantang bisa menjadi pemenang. Kami kalah. Perjuangan SMA Seirin menuju Inter High telah berakhir. Namun, bukan berarti semuanya telah berakhir. Kekalahan juga berarti, tanda menuju awal yang baru. Dengan kata lain, Perjalanan menuju babak yang baru.' Batin Riko.
Setelah Seirin gagal di Inter High, Rei pulang ke rumah dengan wajah yang lesu. Saat di perjalanan pulang, ia ternyata diikuti oleh seseorang dengan warna rambut biru gelap tanpa disadarinya.
'Kenapa aku jadi mengikutinya? Bahkan aku baru mengenalnya beberapa hari lalu. Apalagi, akulah yang sudah menghancurkan mereka.' Batin Aomine yang merasa bingung juga merasa bersalah.
Rei lalu menatap langit dan tanpa sadar air matanya yang telah ia bendung dari tadi telah tumpah.
"Kenapa?! Kenapa aku masih berharap?! Padahal aku sudah tau ini akan terjadi, tapi kenapa?!" Teriaknya di tengah jalan yang sepi.
Aomine sontak terkejut dengan teriakan Rei. Rei mulai menangis sekencang-kencangnya. Aomine mulai mendekat dan menepuk pundaknya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Wajahmu jadi jelek saat menangis." Ucap Aomine.
Rei terkejut dengan kemunculan Aomine, tapi ia tetap menangis.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Rei dengan sesengukan.
"Aku hanya kebetulan lewat saja. Jangan salah paham." Ucap Aomine.
Rei terlihat masih sesengukan, Aomine tanpa sadar tergerak untuk memeluknya. Rei membenamkan wajah di dada bidang Aomine dan terus menangis.
Setelah selesai menangis, ia menatap mata Aomine.
"Kau ternyata tidak jahat seperti yang kupikirkan. Arigato." Ucap Rei dengan senyumannya.
Wajah Aomine terlihat bersemu merah dan ia terlihat salah tingkah. Akhirnya, ia mengantar Rei pulang ke rumahnya.
Jangan Lupa Like
__ADS_1
(Bersambung)