
Setelah diantar pulang oleh Kagami, Rei merebahkan dirinya di sofa ruang tamu dan memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Ucap sebuah suara.
Rei mengganti posisinya menjadi duduk dan melihat sekelilingnya, tapi ia tidak menemukan apa pun.
"Rin? Apa itu kau?" Ucap Rei.
Tiba-tiba, muncul sesosok anak perempuan dengan sayap yang berada di punggungnya. Rei pun terlonjak kaget karenanya.
"Sudah lama tidak bertemu, Rei." Ucap sosok itu.
"Rin?" Ucap Rei memastikan.
"Iya, ini aku." Ucap Rin. "Tadi apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Rin penasaran.
"Tidak ada, aku hanya sedang beristirahat sebentar."
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." Ucap Rin dengan wajah serius.
"Katakan saja."
"Ayahmu mengalami kecelakaan dan sekarang dia dalam kondisi koma."
Rei lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan dan berusaha untuk tidak menangis. Setelah berhasil menstabilkan emosinya, ia membuka kedua tangan yang ia gunakan untuk menutup mulutnya dan menatap Rin.
"Apa kau ingin kembali ke duniamu?" Tanya Rin.
Rei yang diberikan pertanyaan itu terdiam.
'Kembali? Apakah aku harus kembali? Bagaimana dengan mereka bertujuh jika aku pergi? Aku sudah berjanji pada Kuroko untuk tidak pergi. Apa yang harus kulakukan?' Batin Rei.
Setelah terdiam cukup lama dan berpikir, Rei akhirnya memutuskan.
"Aku akan kembali." Ucap Rei.
"Kau yakin? Jika kau kembali maka kemungkinan untuk kembali ke dunia ini sangatlah kecil." Ucap Rin.
Rei mengangguk sebagai jawaban, tidak ada keraguan di matanya.
"Aku akan membawamu kembali setelah kau menyelesaikan urusanmu dengan mereka." Ucap Rin lalu menghilang.
'Mereka?' Batin Rei. 'Apa yang dia maksud mereka bertujuh?'
Rei lalu ke dapur untuk minum sambil berpikir.
__ADS_1
'Kalau yang dia maksud mereka, apa yang harus kulakukan? Aku juga sudah berjanji pada Kuroko.' Batin Rei lalu berjalan ke kamarnya.
Ia lalu melihat tanggal yang terdapat di kamarnya.
'Tanggal 13 Februari? Berarti besok hari valentine.' Batin Rei lalu ia tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Astaga! Bagaimana aku bisa lupa?! Aku harus memberikan coklat pada orang kupilih. Bagaimana ini? Aku tidak bisa memilih diantara mereka." Ucap Rei.
"Kalau begitu, aku akan membuat coklat untuk mereka bertujuh." Rei akhirnya memutuskan lalu membuka kulkas dan mengeluarkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat coklat. Setelah itu, ia membuat coklat hingga larut malam.
Besoknya, ia segera bangun dan bersiap untuk ke sekolah tidak lupa membawa coklat yang telah ia buat. Ia juga berniat untuk mengurus surat kepindahannya dari sekolah untuk memudahkannya jika ia tidak bisa kembali nantinya. Memikirkan itu tiba-tiba membuatnya merasa sedih, tapi ia tidak bisa membiarkan ayahnya sendirian meskipun ayahnya tidak pernah peduli padanya.
Rei juga berangkat sekolah lebih pagi daripada biasanya, karena ia ingin memberikan coklat yang dibuatnya kepada mereka berdua dengan cara meletakkannya di laci meja mereka. Sedangkan untuk yang lain, ia akan memberikannya melalui Takao, Momoi, Kasamatsu, Himuro, dan Hayama. Tidak lupa, ia juga menitipkan pesan kepada mereka untuk bertemu di lapangan basket dekat SMP Teikou setelah pulang sekolah.
Karena harus ke berbagai tempat, Rei baru bisa kembali ke Tokyo pada sore hari. Setelah itu, ia menuju lapangan basket dekat SMP Teikou. Ia menunggu sekitar 1 jam dan hari juga sudah malam, lalu mereka datang secara bersamaan. Dari raut wajah mereka, jelas terlihat kalau mereka bingung kenapa Rei meminta bertemu disini.
"Apa maksudnya semua ini, Rei?" Tanya Akashi mewakili semuanya.
Rei lalu membungkuk 90 derajat di hadapan mereka semua.
"Gomen minna!" Ucapnya masih terus membungkuk.
Ia lalu berdiri tegak dengan pandangan mata serius.
"Kenapa Reicchi?" Tanya Kise dengan ekspresi ingin taunya.
"Aku...menyukai kalian semua." Ucap Rei lagi dengan wajah merah padam. Ia lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya.
Sedangkan Kiseki no Sedai dan Kagami lalu memandang satu sama lain. Setelah berhasil menetralkan jantungnya, ia kembali menatap mereka semua.
"Mungkin ini terdengar egois, tapi aku benar-benar menyukai kalian semua. Jantungku berdetak dengan cepat saat kalian memperlakukanku secara spesial, dan aku juga terus memikirkannya. Aku rasa, aku memang telah jatuh cinta pada kalian semua." Ucap Rei lagi.
Mereka semua terdiam cukup lama hingga Aomine bersuara.
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak masalah jika harus berbagi." Ucap Aomine.
"Aku juga tidak masalah asal bisa selalu bersama Reicchi." Ucap Kise.
"Asal bisa memakan masakan Rei-chin aku tidak masalah." Ucap Murasakibara sambil memakan maibounya.
"Apa boleh buat." Ucap Midorima. "Bukan berarti aku perlu."
"Aku bahagia asal Rei-san bahagia." Ucap Kuroko.
Akashi yang daritadi hanya diam, membuat mereka semua menatapnya.
__ADS_1
"Akashi, ada apa denganmu?" Tanya Kagami.
"Aku tidak suka berbagi dengan yang lain." Ucap Akashi yang membuat mereka semua terkejut.
"Jadi, kau hanya ingin Rei menjadi milikmu." Ucap Midorima sambil menatap Akashi tajam.
"Kau tidak bisa seenaknya, Akashi!" Ucap Aomine mulai tersulut emosi.
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Ucap Murasakibara dengan wajah serius.
"Akashicchi, kau tidak boleh egois seperti itu." Ucap Kise dengan wajah cemberut.
"Aku belum selesai bicara." Ucap Akashi sambil menatap mereka tajam. "Aku memang tidak ingin berbagi, tapi aku akan melakukannya jika Rei tidak masalah."
Mereka semua lalu menatap Rei dan menantikan jawabannya. Rei yang ditatap seperti itu menjadi salah tingkah. Ia akhirnya menguatkan dirinya dan menatap mereka semua.
"Sebenarnya, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan pada kalian." Ucap Rei sedangkan mereka semua diam menunggu apa yang akan ia katakan selanjutnya. Rei menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Aku akan kembali ke duniaku." Ucapnya yang membuat mereka semua terkejut.
"Kau akan kembali?!" Teriak Kise.
"Kenapa?" Tanya Akashi.
"Tidak bisakah kau tinggal disini saja?" Tanya Kagami.
"Gomen, tapi aku tetap harus kembali. Ayahku mengalami kecelakaan dan ia sekarang sedang koma. Dia membutuhkanku." Ucap Rei merasa bersalah.
"Bagaimana dengan janjimu?" Tanya Kuroko dengan wajah sedih.
"Gomen, aku tetap harus pergi. Tapi, aku pasti akan kembali bagaimana pun caranya. Aku janji." Ucap Rei.
"Kalau begitu, kembalilah secepatnya. Kami akan menunggumu." Ucap Midorima.
"Arigatou, minna." Ucap Rei lalu setetes air mata jatuh. "Aku pasti akan kembali."
Rin lalu muncul, tapi hanya Rei yang dapat melihatnya.
"Apa kau sudah siap?" Tanya Rin.
Rei hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu tubuhnya perlahan menghilang menjadi serpihan cahaya. Mereka yang melihatnya hanya terus memperhatikannya hingga ia benar-benar menghilang.
Jangan Lupa Like Favorit Dan Votenya
(Bersambung)
__ADS_1