
Saat ini, tim basket Seirin sedang berada di SMA Kaijou untuk melakukan latih tanding.
"Kagami-kun, apa kau tidak tidur semalaman?" Tanya Rei yang melihat kantung mata Kagami dan sedikit lingkaran hitam di matanya.
"Sepertinya aku terlalu bersemangat." Ucap Kagami.
"Apa kau ini anak kecil? Kau seharusnya menjaga kesehatan mu. Kalau kau sakit bagaimana?" Ucap Rei.
"Kalau aku sakit, kau kan bisa merawat ku manajer." Ucap Kagami sedikit menyeringai.
Wajah Rei bersemu merah melihat seringaian Kagami, ia pun memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Dari kejauhan, Kise berlari menghampiri mereka dengan senyum khasnya.
"Tempat ini sangat luas, jadi kupikir sebaiknya aku menjemput kalian." Ucap nya setelah berhenti didepan mereka.
"Doumo (terima kasih)" Ucap Riko.
Kise segera menghampiri Rei.
"Reicchi, setelah kau menolak tawaranku untuk bergabung dengan kami, aku terus menangis dibalik bantalku setiap malam." Ucap Kise.
"Orang itu kenapa sih?" Ucap Hyuga.
"Cepat tunjukkan kami jalannya!" Ucap Kagami.
"Padahal belum pernah ada cewek yang menolakku loh." Ucap Kise yang sama sekali tidak menggubris ucapan Kagami.
Rei lalu berjinjit dan mengelus kepala Kise.
"Jangan sedih Kise-kun. Lagipula, kau bisa menghubungiku kapan pun." Ucap Rei masih mengelus kepala Kise.
Kise sedikit terkejut dengan perlakuan yang diberikan Rei. Tapi ia merasa sangat senang diperlakukan seperti itu. Sedangkan anggota tim basket Seirin juga terkejut dengan perlakuan Rei terhadap Kise.
'Awas kau, Kise! Aku akan mengalahkan mu hari ini!' Batin Kagami yang sangat kesal.
'Kise semakin menyebalkan saja.' Batin Kuroko.
Setelah Rei menghentikan elusannya. Kise pun membawa mereka ke gym. Pemandangan yang mereka lihat adalah lapangan basket yang setengahnya digunakan untuk latihan anggota tim basket Kaijou dan setengahnya lagi kosong.
"Kita main setengah lapangan? Setengahnya dipakai untuk latihan?" Ucap Riko bingung.
"Oh, kalian sudah datang. Selamat datang. Aku pelatih disini, Takeuchi." Ucap Takeuchi saat melihat kedatangan tim basket Seirin. "Ngomong-ngomong, pelatih kalian dimana?" Tanya Takeuchi.
"Ah, itu aku." Ucap Riko.
"Hah? Kamu? Kamu bukan manajer?" Ucap Takeuchi yang kaget.
"Saya pelatih tim basket SMA Seirin, Aida Riko. Lalu, ini adalah manajer tim kami, Rei Nabila. Mohon kerja samanya untuk hari ini!" Ucap Riko memperkenalkan Rei lalu membungkuk 90 derajat.
"Ah, iya." Ucap Takeuchi.
"Jadi...eh...ini..." Ucap Riko yang ragu untuk bertanya.
"Seperti yang kau lihat. Kami hanya membuat sedikit persiapan untuk latih tanding hari ini." Ucap Takeuchi.
"Persiapan?" Ucap Riko.
"Tidak akan ada yang layak untuk dipelajari oleh anggota lain dari menonton pertandingan ini." Ucap Takeuchi yang membuat Riko kesal.
__ADS_1
"Oh...begitu." Ucap Riko yang berusaha menahan kekesalannya.
"Agar tidak menyia-nyiakan waktu, kami biarkan anggota yang lain tetap berlatih. Walaupun persiapannya seperti ini, kalian akan melawan tim inti. Tolong jangan sampai kami menang tiga kali lipat skor kalian." Ucap Takeuchi lalu pergi.
Cerita bersambung di bawah ini
Riko pun menjadi sangat kesal tapi ia berusaha menahannya.
"Mereka meremehkan kita. Jadi artinya kita ini hanya 'lawan untuk mengisi waktu latihan', begitu?" Ucap Kagami yang juga ikut kesal.
Pelatih Takeuchi lalu menghampiri Kise yang sudah berganti pakaian.
"Kise, kenapa kau memakai seragammu? Kau tidak akan ikut bermain. Walau sekolah kita ini mengumpulkan para pemain basket dari berbagai daerah, level mu itu benar-benar berbeda." Ucap Takeuchi.
"Pelatih, jangan bicara begitu! Kumohon jangan bicara seperti itu lagi!" Ucap Kise memohon.
"Kalau kau sampai ikut bermain, sudah bukan pertandingan lagi namanya." Ucap Takeuchi lalu pergi.
Kise lalu melihat wajah para anggota tim basket Seirin. Mereka semua terlihat kesal dengan ucapan pelatih Takeuchi itu yang terlalu merehkan kemampuan mereka. Sedangkan, Rei masih memasang wajah datar meskipun dalam hati Rei ia juga sangat kesal seperti yang lain. Kise pun segera menghampiri anggota tim Seirin dan meminta maaf.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Tapi, aku akan duduk dibangku cadangan. Kalau kalian bisa membuat orang itu kesal, mungkin aku akan diturunkan untuk bermain." Ucapnya sambil menunjuk kearah pelatih Takeuchi.
"Hei, tunjukkan pada mereka dimana ruang gantinya!" Perintah Takeuchi pada Kise.
"Tidak perlu. Tetaplah bersiap. Karena kau tidak akan menunggu terlalu lama." Ucap Kuroko lalu pergi menuju ruang ganti bersama anggota tim Seirin.
Mendengar ucapan Kuroko, Kise pun menyeringai. Sedangkan Riko dan Rei sedang mempersiapkan berbagai macam hal untuk anggota tim basket seperti handuk, botol minuman, dan lain sebagainya.
Latih tanding pun dimulai. Riko memperhatikan anak-anak dari tim basket Kaijou. Berdasarkan data yang ia dapat, anggota tim basket Seirin kalah dalam kekuatan fisik. Hal itu membuat Riko cemas.
"Pelatih, aku sarankan kau untuk mengkhawatirkan hal lain daripada mengkhawatirkan kekurangan anggota tim kita." Ucap Rei yang membuat Riko menoleh padanya. "Karena sebentar lagi, Kagami akan melakukan hal gila." Ucapnya lagi.
"Pelatih akan segera tau." Ucap Rei lalu memperlihatkan senyuman misterius.
Tim Seirin berhasil mencetak skor terlebih dahulu. Tapi, akibat dunk yang dilakukan Kagami membuat salah satu ring basket menjadi rusak.
"Kami minta maaf!" Ucap Riko sambil membungkuk 90 derajat.
"Maaf, kami telah merusak ringnya." Ucap Kuroko melakukan hal yang sama seperti Riko. "Karena kalau begini kita tidak akan bisa bertanding, apa boleh kalau kita memakai seluruh lapangan?" Ucapnya lagi.
Pelatih Takeuchi terlihat sangat marah. Akhirnya, mereka pun menggunakan seluruh lapangan.
"Haha, kalian benar-benar membuatnya marah." Ucap Kise yang tertawa melihat ekspresi pelatihnya.
"Hah?" Ucap Kagami yang tidak mengerti.
"Baru pertama kali aku melihat wajah pelatih sampai seperti itu." Ucap Kise.
"Bilang padanya, itulah yang kau dapat kalau meremehkan kami!" Ucap Kagami.
"Ring itu, kira-kira harganya berapa ya?" Ucap Kuroko lalu pergi berkumpul bersama anggota yang lain.
"Apa?! Kita harus ganti rugi?" Ucap Kagami kaget.
Permainan pun kembali dilanjutkan. Kali ini, Kise ikut masuk dalam pertandingan.
"Maaf sudah menunggu." Ucap Kise.
"Akhirnya keluar juga dia." Ucap Kagami.
__ADS_1
"Saat dia serius, siapa yang bisa menyangka kalau dia juga seorang model?" Ucap Hyuga.
"Bukan hanya penampilannya yang berubah, sikapnya juga." Ucap Kuroko.
Seketika, saat Kise memasuki lapangan. Para siswi SMA Kaijou sudah berkumpul dan menyemangatinya.
"Hah? Apa-apaan mereka?!" Ucap Hyuga yang kaget melihat kerumunan siswa tersebut.
Kise pun melambaikan tangan pada mereka.
"Oh, itu? Tiap kali dia main selalu seperti ini. Selain itu..." Ucap Kasamatsu lalu berlari mendekati Kise dan menendangnya. "Sampai kapan kau akan melambai pada mereka! Akan kuhajar kau!"
Kise kemudian bangkit berdiri sambil memegang bagian tubuhnya yang sakit. Dari bench, Rei yang melihat keakraban Kise dan Kasamatsu pun tertawa kecil.
'Mereka sangat lucu.' Batin Rei.
Kedua tim terus saja menyerang dan mencetak skor tanpa melakukan pertahanan. Tim Seirin kemudian melakukan time out. Tim Seirin sedang beristirahat di bench, sedangkan tim Kaijou terlihat sedang dimarahi oleh pelatih mereka.
"Yang pertama, kita harus menghadapi Kise-kun." Ucap Riko.
"Tak bisa kupercaya Kagami tidak bisa menahan orang itu sendirian. Apa kita perlu menambah orang untuk menahannya?" Ucap Hyuga.
"Tidak, ada cara untuk menghadapinya." Ucap Rei yang membuat mereka semua menoleh padanya. "Karena, dia memiliki kelemahan."
"Kelemahan?" Ucap Riko.
"Tapi, bukan hanya itu masalahnya. Karena aliran permainan yang cepat tadi, membuat kemampuan Kuroko lebih cepat berkurang daripada biasanya." Ucap Rei. "Kemampuan misdirection tidak bisa digunakan dalam waktu lebih dari 40 menit. Semakin ia sering menggunakannya, maka mereka akan semakin terbiasa menghadapinya lalu kemampuan itu akan menjadi tidak berguna."
"Kenapa kau tidak memberitahu hal sepenting ini dari tadi?!" Ucap Riko yang sangat kesal.
"Maaf pelatih, ini sungguh diluar prediksiku." Ucap Rei dengan kepala menunduk.
Waktu time out pun telah selesai. Pertandingan kembali dilanjutkan.
"Kenapa kau tidak menyerah saja? Masih terlalu cepat sepuluh tahun bagimu untuk mengalahkan Kiseki no Sedai." Ucap Kise.
"Apa kau bilang?" Ucap Kagami.
"Dalam pertandingan ini, walau selisih angkanya tidak akan membesar, sudah pasti tidak akan mengecil. Perbedaan kekuatan antara tim mu dengan tim kami terlalu besar. Walau kau satu-satunya yang bisa mengimbangi kami, tapi aku sudah tau seberapa kuat dirimu sekarang. Kuakui, kau memiliki bakat, tapi kemampuanmu masih jauh dibawahku. Berjuang sekuat apapun, kau tidak akan bisa mengalahkanku." Ucap Kise.
Kagami lalu tertawa sangat keras yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
"Maaf, maaf. Aku hanya merasa senang." Ucap Kagami.
"Senang?" Ucap Kise tidak mengerti.
"Soalnya sudah lama tidak ada yang berkata seperti itu padaku. Kukira ketika kemari, bermain disini bakalan membosankan. Tapi kata-katamu membuatku bersemangat. Hidup itu, memang untuk menghadapi tantangan! Apa asiknya hidup, kalau tidak ada orang yang bisa diajak bersaing? Kalau bisa kalah maka akan semakin menarik bukan?" Ucap Kagami.
"Pertandingan masih baru saja dimulai. Bukankah masih terlalu cepat bila kau menganggap dirimu sudah menang? Selain itu, aku sudah tau kelemahanmu." Kagami lalu mendekati Kuroko.
"Ke-Kelemahan?" Ucap Kise
"Kalau melawan orang yang tidak bisa dilihat, kau pasti tidak akan bisa menirunya. Tak peduli seberapa kuat dirimu, kau tidak akan bisa meniru permainan basket yang tidak terlihat. Dengan kata lain..." Kagami lalu menekan kepala Kuroko sedikit. "Orang ini, adalah kelemahanmu!" Setelah mengucapkan itu, Kagami pun tertawa.
'Jadi, dia sudah menyadarinya.' Batin Rei lalu menyeringai. 'Permainan baru saja dimulai.'
"Kau ini sedang apa sih?" Ucap Kuroko yang sedikit jengkel dengan perlakuan Kagami padanya.
Jangan Lupa Like
__ADS_1
(Bersambung)