
Pada akhir pekan, Momoi tiba-tiba menghubungi Rei di pagi hari.
"Moshi moshi."
"Moshi moshi Momoi-san, ada apa meneleponku?" Tanya Rei.
"Rei-chan, aku ingin mengajakmu jalan-jalan hari ini. Apa kau ada waktu?"
Rei lalu mengingat-ingat jadwalnya hari ini. Kebetulan ia sedang tidak sibuk.
"Kurasa aku bisa." Jawab Rei.
"Kalau begitu aku akan menunggumu di pusat perbelanjaan jam 1 siang. Jangan sampai terlambat."
"Ha'i ha'i."
Setelah itu, Momoi mematikan sambungan teleponnya.
SKIP TIME
15 menit sebelum jam 1 siang, Rei sudah menunggu Momoi di pusat perbelanjaan.
Ia menggunakan dress selutut berwarna putih, tas selempang berwarna hitam, dan sepatu kets berwarna putih.
Tidak lama kemudian, terlihatlah sosok Momoi yang menghampirinya dengan sedikit terburu-buru dengan diikuti Aomine di belakangnya yang berjalan dengan santai tidak seperti Momoi.
'Momoi tidak mengatakan Aomine akan ikut.' Batin Rei.
"Gomenne Rei-chan. Apa kau sudah menunggu lama?" Ucap Momoi begitu tiba di depan Rei.
"Ie, aku juga baru sampai." Ucap Rei sambil tersenyum.
"Ayo jalan." Ucap Momoi bersemangat.
Mereka lalu masuk ke sebuah toko baju, sedangkan Aomine hanya mengikuti mereka saja.
Momoi memilih beberapa baju untuk dirinya, ia lalu mengambil sebuah dress dan diberikannya pada Rei.
"Rei-chan, cobalah. Aku yakin akan cocok untukmu." Ucap Momoi sambil memberikan dress tadi kepada Rei.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, dicoba saja." Ucap Momoi.
Rei melihat dress itu cukup lama.
"Isoide Rei-chan." Ucap Momoi sambil sedikit mendorong Rei.
"Ha'i ha'i." Ucap Rei pasrah lalu memasuki ruang ganti.
Tidak lama kemudian, Rei keluar dari ruang ganti.
"Ano...Momoi-san, bagaimana?" Ucap Rei meminta pendapat.
Momoi langsung tersenyum senang begitu melihat Rei, sedangkan wajah Aomine memerah karenanya.
Rei menggunakan dress berwarna hitam yang sangat cocok dengan tubuhnya. Dress itu menambah kesan cantik dan imut pada dirinya.
"Kau sangat cantik, Rei-chan. Iya kan, Dai-chan?" Puji Momoi lalu melihat Aomine yang hanya diam.
__ADS_1
"E-Eh, iya cantik." Ucap Aomine dengan gugup dan suara yang memelan.
Wajah Rei pun bersemu merah karenanya, sedangkan Momoi tersenyum lebar melihat sikap mereka berdua.
'Aku memang sudah menyerah pada Tetsuya-kun, tapi karena Dai-chan sangat mencintai Rei-chan, aku akan mendukung mereka.' Batin Momoi.
Setelah selesai berbelanja, mereka pun keluar dari toko itu. Aomine tiba-tiba berjalan menjauh, Rei dan Momoi hanya mengikutinya dibelakang. Mereka berhenti saat menyadari bahwa Aomine sedang berjalan menuju toilet.
"Mou...dia seharusnya bilang saja kalau mau ke toilet." Ucap Momoi kesal karena tidak akan bisa dibayangkan jika mereka berdua tidak sengaja memasuki toilet pria karena mengikuti Aomine.
"Momoi-san, kalau boleh tau...kenapa Aomine-kun juga ikut dengan kita? Aku pikir hanya ada kita berdua." Ucap Rei sedikit ragu untuk bertanya.
"Dia yang memaksa ikut saat kubilang aku akan pergi denganmu." Ucap Momoi.
"Ehh?! Hontou?" Ucap Rei terkejut.
Momoi mengangguk dengan pasti.
"Ano ne...Rei-chan, sebenarnya sejak bertemu denganmu dia kembali latihan seperti dulu. Meski itu karena memiliki rival seperti Kagamin, itu juga berkat dirimu. Dia pasti ingin terlihat keren di depanmu." Ucap Momoi.
'Apa itu benar?' Batin Rei.
"Kau tau Rei-chan, aku bahkan sudah tidak melihatnya membaca majalah Mai-chan kesayangannya lagi." Lanjutnya.
'Apa aku tidak salah dengar? Aomine tidak membaca majalah itu lagi? Sulit sekali dipercaya.' Batin Rei.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Aomine tiba-tiba setelah ia keluar dari toilet.
"I-Ie, nandemonai." Ucap Momoi sedikit gugup. "Aku ingat ada sesuatu yang harus kulakukan, jadi aku pergi dulu. Nikmati waktu kalian berdua, ja ne."
Rei berniat menghentikan Momoi, tapi ia sudah tidak terlihat lagi.
'Tunggu sebentar...dengan Aomine...' Rei lalu melirik Aomine yang berdiri disampingnya. 'Aku harus bagaimana?'
"Apa ada tempat yang ingin kau datangi?" Tanya Aomine.
"E-Eh? Tempat yang ingin ku datangi?" Ucap Rei lalu berpikir.
'Tempat yang ingin ku datangi...' Batin Rei berpikir.
Tiba-tiba suatu tempat terbersit dipikirannya begitu saja.
"Taman bermain!" Ucap Rei bersemangat.
Mereka pun pergi ke sebuah taman bermain. Mereka bermain berbagai macam permainan, roller coaster, rumah hantu, dan lain sebagainya hingga mereka kelelahan dan hari juga sudah malam.
Mereka saat ini sedang duduk di sebuah kursi panjang untuk beristirahat.
"Aomine-kun, setelah ini ayo naik bianglala!" Ucap Rei bersemangat meskipun dia sendiri juga sudah lelah.
"Lagi?" Ucap Aomine yang sudah lelah.
Aomine sedang menyandarkan punggungnya di kursi panjang, terlihat jelas kalau dia sudah sangat lelah.
'Kasian dia, dia pasti sangat lelah.' Batin Rei.
"Kita pulang saja." Ucap Rei lalu berdiri.
"Bianglalanya?" Tanya Aomine yang bingung.
__ADS_1
"Lain kali saja." Ucap Rei dengan senyuman di wajahnya.
Aomine lalu ikut berdiri, ia lalu menarik tangan Rei dan membawanya menuju bianglala. Rei hanya bisa diam dan bingung dengan yang dilakukan Aomine.
Mereka bisa langsung masuk ke bianglala karena tidak ada yang mengantri. Mereka lalu duduk berhadapan di dalam bianglala.
"Kenapa kau menarikku dan membawaku menaiki bianglala?" Tanya Rei heran.
"Aku tau kau ingin naik permainan ini jadi aku membawamu untuk naik." Ucap Aomine.
"Arigatou, Aomine-kun." Ucap Rei sambil tersenyum, sedangkan Aomine tidak menanggapinya dan memilih melihat pemandangan yang terlihat sangat cantik saat bianglala naik semakin tinggi.
Setelah beberapa menit mereka menaiki bianglala, mereka lalu turun dan keluar dari taman bermain. Saat mereka keluar, hari sudah gelap dan cuaca semakin dingin.
Aomine hanya mengikuti Rei dan berjalan disampingnya. Ia lalu melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Rei.
"Pakailah, cuaca semakin dingin." Ucap Aomine sambil menyodorkan jaketnya pada Rei.
"Arigatou." Ucap Rei lalu menerima jaket milik Aomine dan memakainya.
Karena memberikan jaketnya pada Rei, Aomine saat ini hanya menggunakan baju kaos yang tipis.
"Apa kau tidak kedinginan?" Tanya Rei.
"Aku masih bisa menahannya. Aku tidak selemah itu." Ucap Aomine.
Rei lalu menggenggam tangan Aomine.
"Ini akan membuatmu lebih hangat." Ucap Rei sambil tersenyum.
Wajah Aomine sudah bersemu merah, begitu juga dengan Rei, tapi Rei berusaha mengalihkan perhatiannya. Ia tidak berani menatap Aomine.
Mereka terus berpegangan tangan hingga mereka tiba di rumah Rei. Rei melepaskan jaket milik Aomine lalu mengembalikan nya.
"Arigatou, sudah menemaniku jalan-jalan hari ini." Ucap Rei sambil tersenyum.
Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.
"Ngomong-ngomong, apa kau sudah memutuskan siapa yang akan kau pilih?" Ucap Aomine.
"Itu..." Rei hanya bisa menunduk dalam.
"Pikirkanlah baik-baik. Siapa pun yang akan kau pilih, aku akan mendukung keputusanmu." Ucap Aomine lalu berbalik. Tapi kemudian ia berbalik menghadap Rei lagi. " Satu lagi, aku ingin minta hadiah untuk hari ini." Lanjutnya.
"Hadiah?" Ucap Rei tidak mengerti.
Aomine lalu mencium Rei begitu saja di bibirnya, Rei hanya bisa melotot karena terkejut. Aomine lalu menyudahi ciumannya dan berbisik di telinga Rei.
"Aku memang akan mendukungmu, tapi aku juga tidak akan menyerah padamu." Ucap Aomine berbisik lalu memundurkan kepalanya. Ia menyeringai lalu pergi begitu saja meninggalkan Rei yang terdiam seperti patung karena perbuatannya tadi.
Wajah Rei memerah, ia segera masuk ke rumahnya begitu ia berhasil mengembalikan kesadarannya.
Rei berbaring di sofa dan menatap langit-langit rumahnya sambil memeluk bantal sofa.
'Aku memerah karena Ahomine. Ini gila!!' Batin Rei lalu menutupi wajahnya sendiri dengan bantal dan berusaha menghilangkan Aomine dari pikirannya.
Jangan Lupa Like Favorit Dan Votenya
(Bersambung)
__ADS_1