
Pagi hari yang cerah, Rei yang baru saja bangun dari tidurnya, ia mengucek matanya sedikit lalu menguap kecil. Ia meregangkan tubuhnya lalu membuka tirai jendela.
Rei segera mengambil pakaian dan masuk ke kamar mandi. Ia berniat menemui Kise sebelum final.
Setelah mandi, ia menuju meja riasnya lalu mengikat rambutnya pony tail dan menggunakan sedikit bedak untuk menghias wajah cantiknya. Ia menatap dirinya yang dipantulkan oleh cermin.
'Hari ini adalah final melawan Rakuzan. Sebelum itu, aku harus menemui Kise.' Batin Rei.
Rei lalu meninggalkan kamarnya dan bersantai di ruang tamu. Ia mengajak Kise bertemu sebelum pertandingan berlangsung. Rei sebelumnya sudah meminta izin pada Riko.
Sore harinya, di depan stadion mereka bertemu. Rei sudah tiba terlebih dahulu. Tidak lama kemudian, Kise datang menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan.
"Gomen, Reicchi. Apa kau menunggu lama?" Ucap Kise masih berusaha menstabilkan nafasnya.
"Ie. Daripada itu, kau tidak seharusnya berlari. Kakimu masih belum sembuh." Ucap Rei menasihati.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Ucap Kise sambil nyengir.
"Bagaimana aku tidak khawatir? Kemarin saja kau bahkan dibantu Kasamatsu-senpai untuk jalan." Ucap Rei menunjukkan wajah khawatir.
"Aku sangat senang Reicchi mengkhawatirkan ku." Ucap Kise sambil tersenyum senang. "Gomen, aku tidak bisa menepati janjiku. Jika aku menang, kau pasti sekarang sudah jadi pacarku." Lanjutnya dengan wajah sedih.
Kise ingin agar Rei menjadi pacarnya, tapi saat pertandingan melawan Seirin kemarin ia justru kalah. Saat Rei mengajak bertemu dengannya ia sangat senang.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku tidak mengatakan kalau kau kalah kau harus menjauhiku atau hal semacam itu, kan?" Ucap Rei dengan senyumannya.
Kise menyadari ia masih memiliki harapan untuk bisa bersama Rei dan menjadikannya pacarnya. Ia lalu tersenyum senang.
Kise langsung saja memeluk Rei saking senangnya.
"Arigatou, Reicchi! Itu artinya aku masih bisa menemuimu lagi, kan?!" Ucap Kise masih memeluk Rei.
Rei yang sedang dipeluk hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Ia juga ikut tersenyum.
Setelah itu, Kise melepaskan pelukannya. Mereka lalu kembali masuk ke stadion dan bersiap untuk pertandingan masing-masing.
SKIP TIME
Saat babak pertama antara Kaijou melawan Shutoku selesai, Seirin dan Rakuzan dipersilahkan untuk melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Anggota tim Seirin memperhatikan pemanasan yang dilakukan oleh anggota tim Rakuzan.
'Mereka sangat kuat, mau dilihat berapa kali pun. Semoga kami masih bisa menang. Tapi, yang paling kucemaskan adalah...' Batin Rei lalu melihat kearah Akashi. 'Akashi Seijuro...'
__ADS_1
Ada sebuah bola yang menggelinding pada Akashi. Ia pun mengambilnya.
"Hari ini akhirnya datang juga, ya." Ucap Akashi sambil melemparkan bola itu pada Kuroko. "Jujur saja, aku terkejut! Kukira kemampuanmu terlalu rendah untuk sampai disini. Tunjukkanlah padaku, permainan basketmu." Lanjutnya.
"Ie, yang akan kutunjukkan padamu bukanlah permainan basketku. Tapi, permainan basket kami!" Ucap Kuroko.
"Begitu...kuterima tantangan mu!" Ucap Akashi.
Cerita bersambung di bawah ini
Saat melakukan pemanasannya, Akashi sempat melihat kearah Rei setelah ia berbicara pada Kuroko. Rei juga sedang melihat kearahnya.
Rei yang menyadari sedang dilihat oleh Akashi segera memalingkan wajahnya.
'Apa dia melihat padaku? Ini tidak salah, kan?' Batin Rei.
Rei lalu kembali melirik pada Akashi dan ternyata, Akashi masih melihat kearahnya.
'Gawat! Dia benar-benar melihat kearah ku! Auranya juga sangat mengintimidasi.' Batin Rei yang gelisah karena Akashi terus memandanginya.
Akashi lalu menunjukkan seringaian nya saat melihat kearah Rei. Akashi lalu dipanggil oleh teman setimnya sehingga ia berhenti melihat kearah Rei. Akhirnya, Rei bisa bernafas lega.
Pertandingan antara Kaijou melawan Shutoku kembali dilanjutkan. Kise sama sekali tidak masuk ke pertandingan dan hanya duduk di bangku cadangan. Akhirnya, Shutoku lah yang memenangkan pertandingan dan menjadi juara ketiga Winter Cup.
'Kise pasti tidak bisa masuk ke pertandingan karena kakinya. Kuharap dia baik-baik saja.' Batin Rei yang melihat kearah Kise yang masih duduk di bangku cadangan.
"Kise, pertandingan kita terpaksa tertunda. Selanjutnya kerahkan seluruh kekuatanmu!" Ucap Midorima.
"Bukankah sudah jelas? Kalau aku main, sudah pasti kami yang akan menang!" Ucap Kise.
"Kau...diamlah atau kuhajar kau!" Ucap Midorima yang kesal mendengar ucapan Kise.
"Yah, apa boleh buat. Meskipun aku juga tidak menyukainya, hari ini kita hanya pemanasan! Bintang hari ini adalah mereka!" Ucap Kise lalu pergi bersama anggota timnya begitu juga dengan Midorima.
Rei yang melihat interaksi antara Midorima dan Kise pun menghela nafas lega.
'Sepertinya aku terlalu khawatir.' Batin Rei.
Kedua tim yang akan bertanding di final pun mempersiapkan diri sebelum pertandingan dimulai.
Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim juga diperkenalkan kepada penonton.
Terdengar sorak sorai dari penonton yang mendukung kedua tim. Ada juga keluarga dari anggota tim dan lawan yang pernah dikalahkan oleh kedua tim datang untuk menonton pertandingan.
__ADS_1
'Kagami terlihat sangat tenang. Matanya juga memancarkan semangat bertempur. Saat ini, dia dalam kondisi yang baik.' Batin Rei yang memperhatikan Kagami lalu tersenyum. 'Jangan mengecewakan ku, Kagami.'
Pertandingan pun dimulai. Seirin mencetak angka terlebih dahulu karena Kagami yang memasuki zone dan melakukan meteor jam.
'Kau memang luar biasa, Kagami.' Batin Rei lalu menyeringai.
Kuroko lalu langsung diganti dengan Mitobe untuk memperkuat pertahanan. Sedangkan Kagami melakukan serangan.
"Padahal aku sudah sangat bersemangat." Ucap Kuroko sedikit depresi.
"Jangan depresi seperti itu. Sebentar lagi kau pasti bisa bermain." Ucap Rei sambil memberikan handuk pada Kuroko.
"Ha'i!" Ucap Kuroko sambil menerima handuk yang diberikan Rei dan menggunakannya.
Kagami terus menyerang dan memperbesar selisih angka. Kagami lalu dihadang oleh Akashi. Kagami berhasil melewati Akashi yang menggunakan emperor eyes nya, tapi meteor jam nya gagal.
"Melewati emperor eyes? Akan repot jika kau meremehkan ku. Aku sengaja membiarkan mu lewat." Ucap Akashi yang membuat Kagami terkejut.
Terjadi one on one lagi antara Kagami dan Akashi. Akashi menggunakan ankle break nya dan membuat Kagami terjatuh.
'Akashi sungguh mengerikan. Mau berapa kali pun aku melihatnya, dia memang berbahaya.' Batin Rei sambil mencengkram clipboard nya.
Kagami lalu keluar dari zone untuk menghemat tenaganya. Kuroko kembali masuk ke pertandingan. Tapi sayangnya Kuroko belum menyadari tentang dirinya yang sudah kehilangan kemampuan nya sebagai bayangan.
'Aku harus melakukan sesuatu!' Batin Rei.
Rei lalu mendekati Riko.
"Pelatih, begini..." Ucap Rei yang membuat Riko menoleh padanya. "Kemampuan Kuroko telah lenyap sebagai bayangan. Dia tidak akan bisa lepas dari penjagaan lagi. Kita harus menggantinya." Lanjutnya dengan wajah serius.
Riko pun menyetujuinya dan segera mengganti Kuroko dengan Tsuchida. Kuroko yang kembali ke bench terlihat lesu.
Riko lalu menyuruh Kuroko duduk disebelahnya. Ia lalu merangkul Kuroko.
"Jangan menyerah! Kau akan segera masuk lagi!" Ucap Riko.
Kuroko terlihat tidak mengerti. Ia lalu dimasukkan lagi ke pertandingan di tiga menit terakhir quarter pertama.
Kuroko terus saja dihentikan. Ia kembali digantikan. Kagami lalu memberinya semangat.
Kuroko yang melihat gerakan pemain nomor 5 dari tim Rakuzan, Mayuzumi Chihiro begitu terkejut. Mayuzumi berhasil lolos dari penjagaan Mitobe seperti menghilang sama halnya dengan Kuroko.
'Ini semakin gawat. Ditambah lagi dengan adanya 3 raja tak bermahkota di tim Rakuzan. Kuroko harus segera memulihkan kemampuannya, kalau tidak ini bisa jadi game over jika terus dibiarkan.' Batin Rei.
__ADS_1
Jangan Lupa Like Favorit Dan Votenya
(Bersambung).