
Setelah sampai di dimensinya, Rei segera berkemas dan menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh Rin.
Setelah sampai di rumah sakit, Rei segera menuju kamar tempat ayahnya dirawat. Disana, ayahnya terbaring lemah dengan menggunakan berbagai macam alat medis untuk membantunya bertahan hidup. Rei merasa ingin menangis melihat kondisi ayahnya yang memprihatinkan.
Ada seorang pria dewasa sedang duduk di kursi dekat ranjang ayahnya, seperti sedang menunggu ayahnya sadar. Pria itu lalu menoleh dan tersenyum melihat Rei yang sedang berdiri di dekat pintu kamar rawat inap. Pria itu adalah seorang pengacara sekaligus tangan kanan ayahnya. Rei lalu mendekati pria itu.
"Pak Hermanto, bagaimana keadaan ayah?" Tanya Rei dengan mata berkaca-kaca.
"Dokter bilang tidak tau kapan bapak akan sadar. Mungkin akan butuh waktu lama atau mungkin tidak akan pernah bangun lagi." Ucap Pak Hermanto.
Rei yang mendengar hal itu berusaha menguatkan dirinya agar tidak menangis. Meskipun ayahnya tidak pernah peduli padanya, tapi ia tetap menyayangi ayahnya. Pak Hermanto lalu membawa Rei untuk duduk disofa.
"Ada surat wasiat untuk nona Rei dari bapak." Ucap Pak Hermanto lalu menyerahkan sebuah dokumen kepadanya.
Rei lalu menerima dan membacanya. Didalam surat itu tertulis bahwa sebagian besar saham milik ayahnya diserahkan kepada.
"Apa maksudnya ini pak?" Tanya Rei tidak mengerti.
"Bapak meninggalkan warisan untuk nona Rei dan berharap anda bisa mengurus perusahaannya setelah beliau tidak ada. Beliau percaya, nona Rei mampu memimpin perusahaan meskipun nona Rei masih sangat muda." Ucap Pak Hermanto.
"Beliau juga menitipkan surat ini untuk nona." Ucap Pak Hermanto lagi sambil memberikan sebuah surat. Rei lalu membuka dan membacanya.
Untuk Rei,
Maafkan ayah yang selama ini tidak mempedulikanmu apalagi memperhatikanmu. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan ayah dan menjadikannya sebagai pelarian agar ayah tidak mengingat ibumu yang sudah tiada. Ayah sudah gagal menjadi ayah yang baik untukmu. Ayah berharap kamu bisa bahagia meskipun tanpa ayah disampingmu.
Dari Ayah.
Rei merasa tidak percaya, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah. Ia menangis sejadi-jadinya. Ayah yang selama ini dia kira tidak peduli padanya ternyata masih mempercayai dan menyayanginya.
SKIP TIME
Tak terasa, sudah 6 bulan berlalu sejak ayahnya koma. Rei terus menjenguk ayahnya disela-sela kegiatan sekolah dan kesibukannya mengurus perusahaan menggantikan ayahnya dibantu oleh Pak Hermanto selaku tangan kanan ayahnya. Ia terus berharap agar ayahnya bisa sadar dari koma.
Rei saat ini sedang duduk di kursi dekat ranjang ayahnya dan menatap ayahnya yang masih dalam keadaan koma.
"Ayah, cepatlah bangun. Aku ingin kita bisa bersama lagi." Ucap Rei.
Tiba-tiba alat pendeteksi detak jantung menunjukkan garis lurus, Rei dengan panik menekan bel untuk memanggil dokter dan suster. Setelah dokter dan suster datang, mereka langsung memeriksa ayahnya.
Dokter yang memeriksa ayahnya lalu menoleh pada Rei dan menggeleng. Sedangkan kedua suster yang tadi datang menutup wajah ayahnya dengan kain putih lalu membawa brankar ayahnya ke ruang mayat.
Rei yang tadi berdiri di pojok ruangan seketika kakinya lemas dan tidak bisa menopang tubuhnya. Ia terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.
'Kenapa ayah harus pergi?! Kenapa?!' Batin Rei masih menangis.
Cerita bersambung di bawah ini
Setelah menangis beberapa saat akhirnya Rei memutuskan untuk menelpon Pak Hermanto dan memintanya mengurus pemakaman ayahnya.
Rei lalu memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Ia segera naik ke lantai dua menuju kamarnya, anehnya ia mendengar suara berisik yang datang dari kamarnya.
"Aominecchi, apa yang kau lakukan?" Ucap sebuah suara yang terdengar familiar di telinganya.
"Aku hanya memeriksa kamarnya."
"Hentikan Daiki, kau seharusnya tidak sembarangan memeriksa kamar seorang gadis."
Rei lalu membuka kamarnya dan ia terkejut melihat siapa yang ada di kamarnya.
"Bagaimana kalian bisa ada disini?!" Ucap Rei tidak percaya.
Mereka semua lalu menoleh dan melihat Rei. Mereka langsung memeluk Rei erat. Mereka berpelukan cukup lama. Saat mereka sudah melepaskan pelukannya, Rei menatap mereka tajam meminta penjelasan.
__ADS_1
"Jelaskan padaku bagaimana kalian bisa berada disini." Ucap Rei dengan nada memerintah.
Flashback on
Kiseki no Sedai dan Kagami sedang berkumpul di rumah Akashi. Mereka saat ini sedang berada di ruang tamu rumah Akashi. Mereka saling memandang satu sama lain, menunggu seseorang memulai pembicaraan.
"Jadi, kita berkumpul disini untuk membahas tentang Rei." Ucap Akashi. Mereka semua memperhatikannya berbicara dengan serius.
"Kita sudah enam bulan tidak melihatnya. Aku ingin bertemu dengannya, bagaimana dengan kalian?" Tanya Akashi lalu melihat mereka satu persatu meminta pendapat.
"Aku sudah kangen dengan Reicchi, aku ingin bertemu dengannya." Ucap Kise.
"Aku juga, bukan berarti aku kangen padanya." Ucap Midorima sambil menaikkan kacamatanya.
"Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Aomine.
"Aku juga. Aku ingin tau keadaannya." Ucap Kagami.
"Aku ingin makan kue yang Rei-chin buat." Ucap Murasakibara sambil memakan maibou nya.
"Aku juga ingin bertemu dengan Rei-san, tapi dia sudah bilang untuk menunggunya kembali kan?" Ucap Kuroko.
"Ini sudah cukup lama Tetsuya. Bagaimana jika kita yang pergi menemuinya?" Ucap Akashi.
"Bagaimana caranya?" Tanya Kagami.
"Aku juga tidak tau, tapi pasti ada caranya." Ucap Akashi.
Mereka terdiam dalam keheningan cukup lama hingga ada sebuah suara yang berbicara.
"Kalian sungguh ingin bertemu dengannya?" Tanya suara itu.
Mereka bertujuh lalu mencari darimana suara itu berasal.
"Tidak perlu mencariku, aku sudah ada dihadapan kalian." Ucap suara itu lagi lalu Rin muncul dihadapan mereka.
"A-Apa kau hantu?" Tanya Kise yang gemetar.
"Tidak sopan sekali menyebutku hantu." Ucap Rin cemberut. "Perkenalkan namaku Rin, akulah yang membawa Rei ke dunia kalian."
Akashi lalu maju kedepan dan berdiri dihadapan Rin.
"Jadi, kau yang membawanya ke dunia kami. Kenapa sekarang kau muncul di hadapan kami?" Tanya Akashi.
"Kalian ingin bertemu dengannya kan?" Tanya Rin memastikan.
Mereka semua mengangguk sebagai jawaban.
"Aku bisa membawa kalian bertemu dengannya." Ucap Rin.
"Bagaimana caranya?" Tanya Akashi.
"Tentu saja dengan melewati ruang antar dimensi tuan Akashi yang terhormat." Ucap Rin menyindir Akashi.
Akashi yang disindir berusaha menahan amarahnya. Hanya Rin lah satu-satunya cara agar mereka bisa pergi menemui Rei.
"Kau benar-benar bisa membawa kami menemuinya?" Tanya Akashi memastikan.
"Tentu saja bisa." Ucap Rin yakin.
Akashi lalu menoleh, mereka semua mengangguk sebagai jawaban.
"Bawa kami menemuinya." Ucap Akashi mewakili semuanya.
__ADS_1
Flashback off
Setelah mendengarkan cerita mereka, Rei terdiam cukup lama.
'Aku harus bicara pada Rin.' Batin Rei.
"Rin, kau dimana?!" Teriak Rei tapi tidak ada suara yang menjawab.
Kiseki no Sedai dan Kagami hanya memperhatikan apa yang dilakukan Rei.
"Rin, keluar sekarang atau aku akan sangat marah!" Teriak Rei lagi sambil menahan amarahnya yang hampir meledak. Mereka yang melihatnya begitu terkejut dengan sifat Rei yang satu ini.
"Apa kau tidak bisa tidak teriak? Suaramu bisa saja mengganggu tetangga." Ucap Rin jengkel.
"Aku ingin bertanya padamu. Ini sangat penting." Ucap Rei serius.
"Tanyakan saja." Ucap Rin.
"Apa tidak masalah jika mereka meninggalkan dunia mereka?"
"Sebenarnya tidak masalah. Lagipula, mereka yang ingin untuk bertemu denganmu."
"Siapa kau sebenarnya? Sudah lama aku ingin menanyakan tentang ini padamu, tapi kau tidak pernah muncul."
"Aku? Aku adalah peri kebahagiaan. Tugasku adalah membawakan kebahagiaan untuk orang-orang sepertimu."
"Orang-orang sepertiku? Apa maksudmu?" Tanya Rei lagi tidak mengerti.
"Singkatnya, seorang yang tidak pernah merasakan kebahagiaan selama 17 tahun hidupnya dan selalu kesepian, kurang lebih begitulah. Karena itu aku datang membawakan kebahagiaan untukmu dan sekarang tugasku sudah selesai." Jelas Rin.
"Lalu, kenapa waktu itu kau mengatakan kemungkinan ku kembali ke dunia mereka sangatlah kecil?"
"Waktu itu aku sedang mengujimu, apakah kau akan bersikap egois dan memilih kebahagiaan mu sendiri atau kembali dan merelakan kebahagiaanmu." Jelas Rin. "Kau telah lulus dari ujian yang kuberikan. Kau pantas mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan."
Rei lalu memeluk Rin cukup lama, lalu ia mengendurkan pelukan dan menatap Rin.
"Arigatou, Rin. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu." Ucap Rei dengan senyum tulus.
Rin juga ikut tersenyum. Rei lalu melepaskan pelukannya.
"Rin, boleh aku minta satu hal lagi?" Tanya Rei.
"Tentu saja boleh." Jawab Rin.
"Bisakah kau buatkan pintu antar dimensi untuk kami gunakan kapan pun?"
"Tentu saja." Ucap Rin lalu mulai membuat pintu antar dimensi di dinding kamar Rei.
"Kenapa harus membuat pintu antar dimensi lagi?" Tanya Kise yang penasaran.
"Tentu saja kalian harus kembali." Jawab Rei yang membuat mereka semua terkejut.
"Kenapa kami harus kembali?" Tanya Kise
"Kami tidak masalah jika harus tinggal disini selamanya." Ucap Aomine.
Rei lalu memijit keningnya.
"Kalian tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan dunia kalian. Kalian juga masih harus menyelesaikan sekolah kalian." Ucap Rei menjelaskan. "Kita masih bisa bertemu lagi dengan pintu antar dimensi yang dibuat Rin. Kalian bisa datang setiap akhir pekan."
"Sudah selesai!" Ucap Rin senang.
"Kembalilah dulu untuk sekarang. Datanglah lagi minggu depan. Masih ada hal yang harus kuurus disini." Ucap Rei.
__ADS_1
Mereka semua terlihat tidak rela. Rei lalu menghela nafas. Ia lalu mendekati mereka satu persatu dan mencium kening mereka. Mereka lalu memeluk Rei sebelum akhirnya menggunakan pintu antar dimensi untuk kembali ke dunia mereka.
The End