
Setelah pertandingan, anggota tim Seirin berencana untuk pulang tapi Kagami menyadari ada sesuatu yang hilang. Jadi ia kembali lagi ke bench yang sebelumnya tim Seirin gunakan.
Disana, ia bertemu Midorima yang menemukan kalungnya. Kuroko dan Rei yang berniat menyusul Kagami melihat Midorima dan Kagami yang sedang berbicara.
Mereka tidak jadi mendekatinya dan memutuskan untuk berdiri beberapa meter dari mereka agar tidak mengganggu pembicaraan mereka.
"Jadi kau melawan Kise, ya?" Ucap Midorima.
"Hah? Y-Ya." Ucap Kagami.
Midorima terlihat tersenyum.
"Kenapa?" Tanya Kagami.
"Jangan berpikir kau sudah seimbang dengan Akashi! Kau bahkan tak bisa jadi budaknya." Ucap Midorima.
"Apa maumu?" Tanya Kagami yang kesal. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?"
"Entahlah. Aku masih belum menentukannya." Ucap Midorima.
"Apa maksudmu? Memangnya tidak apa-apa mengatakan ini untuk pertandingan besok?" Ucapnya Kagami.
"Tak masalah." Ucap Midorima lalu membetulkan letak kacamatanya. "Saat ini, sudah tak ada yang bisa diubah. Ingatlah! Dibandingkan hari ini, kau tak akan bisa membayangkan apa yang akan kau hadapi!"
"Heh, maksudmu rekan setim Akashi?" Ucap Kagami.
"Kau benar-benar bodoh!" Ucap Midorima.
"Hah?" Ucap Kagami yang kembali kesal.
"Dia bahkan tak perlu mengandalkan rekan setimnya. Akashi itu kuat!" Ucap Midorima.
"Aku tau itu, tapi kami tak akan tau sebelum mencobanya." Ucap Kagami.
Kuroko dan Rei yang sejak tadi memperhatikan Midorima dan Kagami dikejutkan dengan kedatangan Takao.
"Yo! Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Takao.
"Takao-kun..." Ucap Kuroko.
__ADS_1
"Heh? Shin-chan bersama dengan Kagami?" Ucap Takao tidak percaya melihat Midorima bersama Kagami lalu ia tertawa cukup keras. "Bagaimana mungkin? Yah, tapi apa yang kalian lihat hari ini bukan main-main! Aku harus pergi. Berjuanglah di pertandingan besok!" Lanjutnya lalu pergi sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang.
"Ha'i" Ucap Kuroko.
Takao menghampiri Midorima dan mengajaknya pergi.
"Kagami, kuberi tau kau satu hal." Ucap Midorima yang membuat Kagami kembali melihat kearahnya. "Akashi mempunyai dua kepribadian." Lanjutnya.
"Apa yang kau katakan? Apa maksudnya?" Tanya Kagami yang terkejut.
"Tanyakan saja masalah itu pada Kuroko. Sampai Jumpa! Berjuanglah sebaik mungkin!" Ucap Midorima lalu pergi bersama Takao.
Midorima sempat melirik kearah Rei yang berdiri tidak jauh darinya.
"Kalian mendengar apa yang kami bicarakan tadi, kan?" Tanya Kagami yang berjalan bersama dengan Kuroko dan Rei. "Apa yang dia maksud?" Lanjutnya.
Kagami menyadari saat mereka berdiri tidak jauh dari nya dan Midorima dan pasti mendengar pembicaraan mereka.
"Akan ku jelaskan nanti!" Ucap Kuroko.
"Jangan membuatku penasaran!" Ucap Kagami.
Rei hanya diam, ia merasa tidak perlu menanggapi. Setelah berkumpul bersama yang lain, mereka pun memutuskan untuk berkumpul di rumah Kagami.
Kuroko mulai bercerita tentang masa lalunya. Mereka memperhatikan dengan serius.
Kuroko mulai bercerita dari janjinya pada teman masa kecilnya, pertemuannya dengan anggota Kiseki no Sedai, Akashi yang menemukan bakatnya, ia yang menjadi anggota keenam bayangan, hingga anggota Kiseki no Sedai yang berubah menjadi lebih kuat dan bermain sendiri.
'Akashi mendapatkan kemampuan Emperor Eyes nya waktu itu, saat itu juga dirinya yang lain muncul.' Batin Rei.
Kuroko juga menceritakan saat ia melihat pertandingan tim Seirin dan pertandingan terakhir sebelum ia menghilang saat janjinya dan temannya hancur.
'Kuroko saat itu...pasti sangat menderita.' Batin Rei.
"Lalu apa? Bukannya itu salahmu? Sia-sia saja kalau aku mencemaskan mu. Yang membuatku terkejut adalah Akashi yang ada dua." Komentar Kagami. "Jika kau pikir mereka salah, kau seharusnya memukul mereka. Pikirkan semuanya nanti! Yang penting kau cepat bertindak. Tapi kau malah menjadi ragu." Lanjutnya.
"Kau benar, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena aku, Ogiwara-kun berhenti bermain basket." Ucap Kuroko.
"Sudah kubilang, jangan bersikap seperti itu lagi!" Ucap Kagami yang kesal.
__ADS_1
"Kuroko-kun, kau harus bisa belajar memaafkan dirimu sendiri. Aku yakin Ogiwara-kun juga tidak akan senang jika melihat mu seperti ini." Ucap Rei dengan senyumannya.
"Ha'i" Ucap Kuroko.
Setelah itu mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Kuroko mengantar Rei pulang karena sudah larut dan bahaya bagi perempuan untuk pulang sendirian.
"Kuroko-kun, apa kau percaya waktu itu saat aku mengatakan kalau aku berasal dari dunia lain?" Tanya Rei.
"Ya, aku percaya." Jawab Kuroko.
"Arigatou, sudah percaya padaku." Ucap Rei.
"Apa kau tidak berencana untuk memberitahu yang lain?" Tanya Kuroko.
Rei terdiam dan berhenti melangkah. Kuroko juga ikut berhenti. Rei melihat lurus kedepan, ia terlihat merenung.
"Aku rasa aku tidak perlu memberitahu yang lain, cukup kalian bertujuh saja yang tau." Ucap Rei lalu melihat langit malam. "Lagipula, aku sudah bahagia disini. Disini lebih baik dari duniaku." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Memangnya, seperti apa dunia Rei-san?" Tanya Kuroko.
"Duniaku itu...sama seperti duniamu. Hanya saja, disini aku tidak sendiri. Aku memiliki kalian semua. Kalau di duniaku..." Ucap Rei yang masih melihat langit. Sorot matanya yang awalnya terlihat bahagia, kini berubah memancarkan kesedihan. "Ayahku bahkan tidak ingin mengakui ku sebagai anaknya. Ibuku meninggal karena kecelakaan saat aku masih kecil. Ayah menganggap, akulah penyebab ibu meninggal. Semenjak itu, aku jadi hidup mandiri dan ayah hanya mengirimkan uang untuk biaya hidupku. Ia tidak pernah sekalipun mengunjungiku hanya untuk sekedar memeriksa keadaanku." Lanjutnya.
"Gomen, Kuroko-kun. Aku jadi menceritakan hal yang sedih." Ucap Rei lagi.
"Ie, Rei-san pasti sangat kesepian. Hidup sendiri seperti itu sejak kecil pasti sangat sulit. Rei-san adalah wanita yang kuat." Ucap Kuroko.
"Arigatou, Kuroko-kun." Ucap Rei yang tersenyum pada Kuroko.
Kuroko juga membalas Rei dengan senyuman. Mereka kembali melangkahkan kaki menuju rumah Rei. Saat sampai di rumah Rei, Rei segera masuk ke rumahnya setelah mengucapkan terima kasih lagi pada Kuroko.
Setelah melihat Rei masuk ke rumahnya, Kuroko pun pergi.
Rei segera masuk ke kamarnya seperti biasa. Ia merebahkan diri di kasurnya sambil melihat langit-langit.
'Apa Kise baik-baik saja? Kakinya pasti masih sakit, bahkan mungkin lebih parah dari yang sebelumnya.' Batin Rei.
Rei perlahan menutup matanya dan masuk ke alam mimpi.
Jangan Lupa Like Favorit Dan Votenya
__ADS_1
(Bersambung)