Menjadi Manajer Di Kuroko No Basket

Menjadi Manajer Di Kuroko No Basket
Chapter 7


__ADS_3

Kise sedang membasuh wajahnya sedangkan pemain yang lain sedang mengantarkan kepergian Seirin.


"Menurut horoskop untuk Gemini mu, hari ini memang adalah hari sialmu, tapi tak kusangka kau benar-benar akan kalah." Ucap pria berambut hijau.


"Kau datang untuk menonton ya, Midorimacchi?" Ucap Kise.


"Siapapun yang menang, pertandingan barusan sama sekali tidak menyenangkan. Monyet juga bisa melakukan dunk seperti tadi. Wajar saja bila takdir tak berpihak padamu." Ucap Midorima.


"Ini pertama kalinya kita bertemu sejak SMP, ya? Lama tak bertemu. Seperti biasa kau suka melakukan tapping pada jari-jarimu, ya? Lagipula, mau dunk atau apa saja, tidak masalah asalkan masuk, kan?" Ucap Kise.


"Karena itulah kau kalah. Tentu saja bolanya masuk kalau sedekat itu. Shoot memiliki nilai tersendiri jika dilakukan dari jauh. Aku selalu membawa benda keberuntunganku setiap hari, karena itulah lemparanku tidak pernah meleset." Ucap Midorima.


'Dia memanglah shooter nomor satu di Kiseki no Sedai.' Batin Kise.


"Lagipula, bukankah sebaiknya kau bicara dengan Kurokocchi daripada denganku?" Tanya Kise.


"Itu tidak perlu. Aku tidak akan akur dengannya. Aku tidak hanya mengakui gaya permainannya, tapi juga mengaguminya. Tapi, aku tidak bisa menerima keputusannya melanjutkan ke sekolah baru seperti Seirin. Aku kesini hanya karena kami akan bertanding melawan mereka di babak penyisihan. Sejujurnya, mereka bahkan tidak pantas untuk dibicarakan." Ucap Midorima.


Datanglah seorang pria berambut hitam dengan sepeda beserta gerobaknya


"Sialan kau, Midorima! Meninggalkanku begitu saja ditengah kemacetan! Malu-maluin banget, tahu?!" Ucap pria berambut hitam.


"Hari ini aku hanya datang untuk melihat pertandingan. Tapi, sebaiknya aku minta maaf terlebih dahulu. Takdir bahwa kami akan dikalahkan oleh Seirin itu tidak akan terjadi. Sayang sekali, sebaiknya kau menyerah saja soal balas dendam mu." Ucap Midorima.


Tim Seirin kebetulan melewati tempat mereka sedang berbicara. Rei pun menoleh kearah mereka.


'Midorima' Batin Rei.


Setelah pergi dari SMA Kaijou, Tim Seirin segera menuju rumah sakit untuk memeriksa keadaan Kuroko. Rei pun menemani Kuroko untuk diperiksa sedangkan anggota yang lain menunggu di luar.


"Tidak ada masalah." Ucap Rei pada anggota yang lain setelah mereka keluar dari rumah sakit.


Mereka semua pun bernafas lega. Kemudian, mereka pun pergi makan steak ukuran jumbo di sebuah kedai makan. Jika mereka tidak bisa menghabiskan steak itu, mereka harus membayar. Tapi, jika mereka bisa menghabiskan steak itu, mereka tidak perlu membayar sepeser pun.


Mereka tidak ada yang bisa menghabiskannya kecuali Kagami. Akhirnya, sisa steak yang mereka makan, mereka berikan pada Kagami. Kuroko pun pergi keluar kedai dan bertemu dengan Kise yang sudah menunggu nya diluar.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" Ucap Kise.


Kise pun membawa Kuroko pergi. Rei yang menyadari kepergian Kuroko bersama Kise pun segera menyusul mereka tetapi tetap menjaga jarak. Mereka lalu berhenti disebuah taman. Rei pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam semak-semak yang tidak jauh dari mereka untuk menguping.


"Ngomong-ngomong, sudah lama ya kita tidak ngobrol seperti ini. Lukamu tidak apa-apa?" Ucap Kise.


"Ya, aku tidak apa-apa." Ucap Kuroko.


"Oh iya, tadi aku bertemu dengan Midorimacchi."


"Sejujurnya, aku tidak terlalu akrab denganya."


"Oh iya, benar juga. Tapi, tangan kirinya itu bukan main-main. Terlebih lagi di hari keberuntungan untuk cancer."


"Ya"


"Sepertinya dia hanya datang untuk menonton pertandingan hari ini. Ngomong-ngomong, Kurokocchi menolak tawaranku, lalu aku kalah bertanding. Rasanya tiba-tiba kehidupanku jadi kacau sejak masuk SMA. Walaupun aku kalah, tapi aku benar-benar serius saat mengajakmu."


"Maafkan aku."


"Cuma bercanda kok. Lagipula yang ingin kutanyakan mengenai alasanmu. Mengapa setelah pertandingan final turnamen SMP, kau tiba-tiba menghilang?"

__ADS_1


"Aku juga tak tau. Memang benar aku mulai mempertanyakan prinsip SMP Teikou segera setelah final turnamen SMP berakhir. Saat itu, aku merasa kita kehilangan sesuatu yang penting."


"Dalam olahraga itu, yang penting adalah menang, kan? Apa ada yang lebih penting dari itu?"


"Tentu saja ada yang lebih penting." Ucap Rei yang muncul dari semak-semak.


Kise dan Kuroko terkejut dengan kemunculan Rei.


"Maaf, aku sudah menguping pembicaraan kalian." Ucap Rei.


"Sejak kapan?" Tanya Kise.


"Sejak tadi, sekali lagi aku minta maaf." Ucap Rei lalu membungkuk 90 derajat. "Tapi, jujur aku sangat penasaran dengan apa yang kalian bicarakan. Karena itu aku mengikuti kalian."


"Ngomong-ngomong Reicchi, apa sesuatu yang lebih penting itu?" Tanya Kise.


"Kerja sama tim. Saat kalian di SMP, kalian selalu menang dengan kemampuan sendiri dan melupakan kerja sama tim." Ucap Rei.


"Aku tak mengerti." Ucap Kise.


"Suatu saat kau akan mengerti, Kise-kun." Ucap Rei lalu tersenyum.


"Bagaimana kau bisa mengetahui tentang kami yang dulu, Rei-san?" Tanya Kuroko.


"Itu..."


"Hoi!! Kalian berdua" Teriak Kagami dari kejauhan lalu menghampiri mereka.


"Dasar, kemana saja kalian? Kami dari tadi mencari kalian." Ucap Kagami.


"Maaf, Kagami-kun. Tadi kami jalan-jalan sebentar." Ucap Rei berbohong.


"Halo, Kagami-kun. Apa kau sudah menemukan mereka?" Ucap Riko ditelepon


"Iya, aku sudah menemukan mereka. Mereka bersama ku sekarang. Kami sedang berada didekat taman." Ucap Kagami.


"Kalau begitu, kau pulang lah bersama mereka dan beristirahat. Aku akan menghubungi yang lain." Ucap Riko di telepon.


"Baik." Ucap Kagami lalu mematikan sambungan telepon.


"Lain kali jangan menghilang lagi seperti tadi." Ucap Kagami.


Tidak jauh dari tempat mereka, ada para berandal yang sedang bertanding basket dengan anak sekolah lain. Tetapi para berandal itu melakukan kecurangan. Kuroko tidak bisa diam saja dan melihat hal itu. Ia pun menghampiri mereka.


"Dilihat darimana pun itu curang." Ucap Kuroko pada salah satu anak berandal.


"Sialan! Siapa kau?! Muncul darimana?!" Ucap salah satu anak berandal yang kaget dengan kemunculan Kuroko.


"Yang seperti itu bukanlah permainan basket. Selain itu, tidak boleh melakukan kekerasan."


"Apa sih yang dia lakukan?!" Omel Kagami.


"Kurokocchi?!" Ucap Kise yang juga khawatir.


"Sebenarnya apa maumu?!" Ucap anak berandal lain dengan badan yang lebih besar menarik kerah baju Kuroko.


"Lepaskan dia!" Teriak Rei. "Apa kalian tidak malu sudah menganggu mereka? Jelas-jelas kalian lebih tua. Sadarlah sama usia kalian!" Ucap Rei dengan kata-kata yang tajam

__ADS_1


"Cewek ini berani juga. Tapi juga imut."


"Bagaimana kalau kau ikut bermain bersama kami nona manis?" Goda salah satu dari mereka.


Kagami dan Kise pun mendekat.


"Jangan berani kalian mengganggunya!" Ucap Kagami.


"Bagaimana kalau kita selesaikan dengan basket?" Usul Kise.


"Oke, kami setuju." Ucap salah satu anak berandal. "Tapi yang menang akan mendapatkan nona manis ini." Ucap salah satu anak berandal sambil menunjuk pada Rei.


"Oke" Ucap Kagami tanpa berpikir panjang.


"Hei! Aku bukan barang untuk diperebutkan!" Ucap Rei kesal lalu melipat tangannya didepan dada dan memasang wajah cemberut.


'Imutnya...' Batin Kuroko, Kagami dan Kise.


"Percayalah pada kami, kami akan memenangkan permainan ini." Ucap Kagami.


"Tapi aku tetap tidak suka pada ide kalian." Ucap Rei.


Para berandalan itu berhasil mereka kalahkan dengan mudah. Sedangkan Rei masih memang wajah cemberut. Mereka pun segera pergi dari lapangan itu.


"Sampai kapan kau akan memasang wajah seperti itu?" Ucap Kagami yang lelah melihat wajah Rei yang masih cemberut.


Rei tidak menjawab dan hanya membuang muka.


"Apa yang kau inginkan Reicchi? Aku akan membelikanmu apa pun." Ucap Kise.


"Apa pun?" Ucap Rei.


Kise lalu mengangguk dengan pasti.


"Aku ingin es krim." Ucap Rei.


Mereka terkejut dengan permintaan Rei yang seperti anak kecil. Tapi mereka tetap menurutinya. Mereka pun singgah di supermarket terdekat dan membeli es krim.


"Arigatou Kise-kun, moodku kembali membaik." Ucap Rei sambil tersenyum.


Kise hanya ikut tersenyum. Mereka bertiga lalu mengantarkan Rei pulang.


"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Maaf sudah merepotkan kalian." Ucap Rei sambil membungkuk 90 derajat.


"Kau tidak perlu seperti itu Reicchi. Lagipula ini sudah malam. Berbahaya untuk gadis sepertimu pulang sendirian." Ucap Kise.


"Kalau begitu, aku masuk dulu. Kalian juga, berhati-hatilah saat pulang." Ucap Rei lalu masuk ke rumahnya.


"Kenapa kau juga ikut mengantarnya, Kise?" Ucap Kagami.


"Itu benar, rumahnya Kise-kun kan jauh dari sini." Ucap Kuroko.


"Hanya ingin. Aku juga harus segera pergi. Jangan sampai kalah dipenyisihan ya!" Ucap Kise lalu pergi.


Sedangkan Kagami dan Kuroko lalu berjalan pulang ke rumah masing-masing. Diam-diam, Rei memperhatikan mereka dari jendela kamarnya.


"Aku tanpa sadar menunjukkan mood swing yang ada pada diriku tanpa sengaja karena kejadian tadi. Lain kali aku tidak boleh seperti itu. Aku harus lebih bisa mengontrol emosiku." Ucap Rei lalu mengganti pakaiannya dan masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Jangan Lupa Like


(Bersambung)


__ADS_2