
Happy reading all
.
.
.
.
"Gimana? Bisakan?" Tanya Fitri gadis berkaca mata tebal dengan rambut di kuncir kuda.
"Aku gak bisa janji, soalnya pulang sekolah nanti aku harus bekerja di rumah pak Nolan"
"Ya gimana dong"
Jujur saja Cici sangat-sangat ingin menemani Fitri ke kampung tetangga tapi ia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja bukan?
Sedangkan hari ini Nolan kedatangan tamu, apa kata majikannya jika ja menghilang di hari kedua bekerja?
"Maaf ya fit. Lain kali aku temenin deh" ucap Cici diangguki Fitri.
Hari ini sekolah cukup melelahkan, otak cici benar-benar terkuras habis. Sudah mata pelajarannya susah ditambah latihan soal matematika untuk persiapan ia lomba bulan depan.
Ada harapan besar agar nanti ia bisa kuliah ke kota dengan beasiswa, sebenarnya Ayahnya pun memberikan dukungan penuh untuknya berkulia hanya saja perekonomian keluarganya tidak mendukung.
Kalau nanti ia kulia keluarganya yang tinggal di kampung harus makan apa? Tidak mungkin jika ayahnya harus menjual sawah mereka.
__ADS_1
"Sampai jumpa ya! Bekerja yang rapi biar pak Nolan terkesan sama kamu" bisik Fitri lalu berlarian meninggalkan Cici yang masih termenung di depan pagar sekolah.
"Hati-hati"
Baru saja kaki jenjang dengan kaos kaki putih panjang itu hendak melangkah "Ci, ayo aa antar ke rumah pak Nolan" tawar ujang ramah
"Hari ini naik sepedah dulu, besok-besok insya Allah naik motor" sambung Uja g terkekeh pelan.
"Gak usah aa, makasih. Aku jalan kaki aja, soalnya mau mampir ke pasar sebentar"
"Ayo aa antar sekalian"
"Gak usah aa makasih"
"Yakin gak mau ikut?" Tawar Ujang sekali lagi, namun di balas gelengan pelan oleh Cici.
Setelah Ujang jauh Cici tertawa renyah yang membuat lesung pipinya terlihat begitu dalam, sedari tadi ia berusaha menahan tawa, Bagaimana tidak Ujang menawarkan tumpangan dengan ban sepedah kempes? Haha lucu sekali pemuda itu.
Tadi di pasar Cici membeli buah-buahan untuk penutup hidangan para tamu Nolan.
***
Tingnong..tingnong..
Mendengar suara bel yang di tekan-tekan secara tidak sabaran membuat Cici bergegas berlarian kecil dari arah dapur.
"Kami datan...."
__ADS_1
Teriakan heboh yang diciptakan dua pria tampan dengan dua wanita yang begitu menarik itu terdengar menggantung.
"Selamat datang tuan dan nyonya" sapa Cici seramah mungkin, meyakini jika orang-orang yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah tamu yang sejak kemarin di nanti nanti oleh Nolan.
Wajah mereka begitu memancarkan aura yang tajam, rasanya untuk memandang mereka saja Cici tidak punya nyali.
"Lo siapa?" Tanya Kai, memandang Cici penuh tanda tanya.
Jangankan Kai, Ethan, Leona dan Nara saja menatap Cici penuh kebingungan. Gadis di hadapan mereka ini tidak terlalu cantik hanya saja wajahnya di dominan rasa manis sehingga membuatnya benar-benar nyaman untuk dipandang.
Lihatlah tampilannya dengan baju kaos hitam longgar dipadukan dengan rok dasar di bawah lutut, tidak waw namun rapi dan sopan.
Tidak mungkin kan jika dia salah satu gadis Nolan? Ah bukan ingin merendahkan Cici hanya saja sulit dipercaya jika Nolan memiliki wanita lain mengingat rasa yang pria tampan itu miliki untuk Sasa begitu besar.
"Aku?" Tunjuk Cici pada dirinya sendiri.
"Tidak penting dia siapa, sepertinya aku menyukainya" sela Leona menghampiri Cici lalu memeluk gadis muda itu erat-erat.
Kaget, tentu saja.
"Perkenalkan aku Leona, ini Ethan suamiku, di sampingnya itu Kai dan Istrinya Nara" sambung Leona memperkenalkan diri mereka.
"Salam kenal nyonya dan tuan. Silakan masuk, tuan saat ini masih berada di sekolah"
"Tidak usah pakai embel-embel tuan dan nyonya, santai saja okay" ucap Nara menimpali.
Sama seperti Leona, Nara nampaknya terlihat menyukai Cici.
__ADS_1
Mata kedua wanita dewasa itu seakan tengah saling memberi kode rahasia sedangkan Kai dan Ethan hanya dapat menggelengkan kepala pelan.
BERSAMBUNG