
HAPPY READING AND ENJOY GUYS!
"Huaam" sudah terhitung 3 kali Niken menguap, mata gadis itu terlihat memerah tanda sudah mengantuk.
"Gue ngantuk banget" lirih Niken setengah tidak terdengar.
Setelah makan di tempat bude Ella, kurang lebih satu setengah jam mereka terjebak macet. Kabarnya terjadi kecelakaan beruntun yang membuat jalanan ibu kita semakin padat.
Niken sudah tidak bisa lagi menahan matanya agar tidak terpejam, ia ingin tidur Niken sangat membutuhkan kasurnya untuk saat ini.
"Lo tidur aja" ucap Nadeo seraya bergerak menurunkan sandaran kursi Niken agar gadis itu dapat tertidur dengan nyaman.
"Lo pengertian juga, thanks ya" balas Niken seraya merebahkan tubuh mungilnya.
Melihat Niken yang mulai memejamkan matanya Nadeo bergerak melepas kemejanya menyisakan kaos putih polos yang membalut tubuhnya, alasan tindakannya tentu saja untuk menutupi kaki jenjang Niken yang terlihat sedikit mengganggu pikirannya, tidak lupa mematikan Ac mobil agar Niken semakin nyaman.
"Pukul setengah 11 wajar anak ini mengantuk" gumam Nadeo memandang wajah tenang Niken.
Kalau tidur seperti ini Niken semakin cantik dan terlihat menggemaskan, tidak ada tingkah menyebalkan, manja dan kekanak-kanakan.
"Lo cantik" ucap Nadeo tanpa sadar tangannya turut merapikan anak-anak rambut Niken yang menghalangi wajahnya.
__ADS_1
Sesaat kemudian Nadeo meringis mengingat kelakuan anehnya terhadap Niken. Sadar atau tidak gadis remaja dengan mata menyipit ketika tersenyum itu berhasil menarik setengah perhatiannya.
***
"Niken, Bangun kita udah sampe" panggil Nadeo menggerakkan sedikit tubuh Niken.
"Mama, Niken masih ngantuk. Jangan ganggu"
Sepertinya tidak ada cara lain selain menggendong Niken ke kamarnya, tidak mungkin Nadeo meninggalkan gadis ini di mobil semalaman.
Ini sudah sangat larut semua orang mungkin sudah tidur, rumah terlihat sepi hanya ada penjaga yang berada di pos.
Nadeo menautkan kedua alisnya, siapa wanita tua dengan rambut yang memutih di hadapannya ini?
"Saya Oni" ucapnya memperkenalkan diri.
"Selamat malam bi, saya Nadeo. Senang bertemu bibi, ngomong-ngomong kenapa bibi belum tidur?" Tanya Nadeo
Wanita yang katanya pengasuh sekaligus kepala pelayan itu tersenyum kecil mendengar penuturan Nadeo yang teramat sopan.
"Saya baru tiba satu jam yang lalu dari Jogja, mendengar Nona muda belum kembali saya memutuskan menunggunya. Kalau saya tertidur ketika nona kembali dia pasti akan kecewa, mengingat Nona adalah salah satu orang yang paling antusias ketika mendengar kepulangan saya" jelas Oni menatap Niken yang setengah terlihat di dalam mobil.
__ADS_1
Nadeo menatap Oni dengan tatapan yang sulit di artikan
"Bibi tidurlah, Niken juga sudah tidur kalian bisa berjumpa besok pagi"
"Panggil saya Oni saja seperti keluarga ini memanggil saya, kalau begitu saya permisi. Selamat malam" Pamit Oni meninggalkan Nadeo tidak lupa membungkukkan setengah tubuhnya.
Setelah kepergian Oni, Nadeo membawa Niken di dalam gendongannya untuk segera ia pindahkan ke kamar gadis itu.
"Astaga, betapa ringannya tubuh gadis ini" ucap Nadeo pada tubuh ringkih Niken.
Membaringkan tubuh Niken di kasur empuknya, tidak lupa menyalakan Ac dengan suhu rendah, melepas sepatu dan kaos kaki gadis itu secara perlahan, menyelimuti tubuh mungilnya dan terakhir menghidupkan lampu tidur yang ada di atas nakas.
"Selamat malam" ucap Nadeo sebelum meninggalkan kamar Niken menuju kamarnya.
Semua kegiatan Nadeo dari menggendong Niken sampai pria itu keluar tidak luput dari pandangan Derry, zohra dan Oni.
"Oh manisnya" ucap Zohra di angguki Oni dan Derry.
"Aku rasa kita akan berbesanan dengan Nolan" balas Derry disertai tawa kecil di akhir kalimatnya.
BERSAMBUNG…
__ADS_1