Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Demam


__ADS_3

HAPPY READING ALL


Dua jam berlalu sejak pembicaraannya dengan Ethan dan Leona, Cici masih terjaga bahkan mata gadis itu tak ada tanda ingin terpejam.


Pikirannya kusut dirinya merasa terbebani dengan permintaan Ethan, ia ingin membantu majikan sekaligus guru matematikanya itu hanya saja ia tak mungkin menyakiti dirinya sendiri bukan?


Oh ayolah gadis mana yang ingin selalu makan hati?


"Sungguh Cici sangat menyesal mengenal mereka" gumamnya tanpa sadar meneteskan air mata.


Ingin rasanya ia berteriak kencang agar beban pada pikirannya sedikit berkurang. Rasa ini sungguh membuat hatinya tidak tenang seakan selalu di hantui perasaaan dan kekhawatiran.


“Tolong cintai Nolan” kata-kata itu selalu saja terngiang seperti tengah menghantui dirinya.


Tik..tok..tik...tok


Suara dentingan jam dinding menemani isak tangisan kecil Cici, sebentar lagi subuh tapi ia belum sama sekali memejamkan mata.


Ini rekor pertamanya tidak tidur semalaman setelah aktivitas seharian yang cukup melelahkan dari Olimpiade matematika, menemani Leona memasak dan sekarang overthingking.


***


Tok..tok..


"Ara, kau sudah bangun?" Panggil suara berat itu dari luar.


"Hei kau dengar aku!" Ulangnya yang sedari tadi tak mendapat sahutan.

__ADS_1


"Kemana gadis kecil ini" decak Nolan kesal.


Ini sudah pukul 9 pagi bahkan Cici melewatkan sarapan paginya, matahari sudah terang Ethan dan Leona sudah pergi ke kantor mereka.


Cekret


"Bagaimana gadis ini membiarkan pintu kamarnya tak dikunci. Dasar ceroboh" gumamnya melangkahkan kaki mendekat pada sosok yang tengah menyandar pada dinding putih bersih itu.


Rambut panjang itu menutupi wajah manis Cici, penampilannya terlihat kacau. selesai subuh gadis itu kembali menangis dengan kaki yang di tekuk hingga tertidur.


"Ara.." panggil Nolan menggerakkan bahu Cici pelan.


"Hey, bangun ini sudah siang. Kita harus kembali ke Bandung" sambungnya masih tak mendapat respons dari Cici.


Merasa ada yang tidak baik dengan Cici, Nolan dengan gesit membalikkan tubuh mungil itu. Lalu meletakkan sebelah tangannya ke kening Cici.


Dilihatnya mata cantik dan menangkan itu bergaris hitam dan terlihat bengkak. Wajahnya kusut seperti mayat hidup.


"Bibi! Bi. Tolong panggilkan Dokter!" Teriak Nolan seraya memindahkan tubuh lemah Cici ke atas kasur.


Nolan tidak bisa bohong ada secuil rasa khawatir yang menghampiri dirinya, mungkin rasa peduli karena gadis ini sering membantunya di rumah dan karena ia juga muridnya.


"Sebelum dokter datang. Bibi tolong ganti pakaian Cici, Tadi Leona sempat menaruh pakaian di lemari" pinta Nolan di angguki pelayan berumur itu dengan cepat.


15 menit berlalu sosok dokter separuh abat dengan badan yang terlihat kuat itu datang memasuki kamar Cici.


"Selamat pagi Tuan Wang!" Sapanya sekilas sebelum mengeluarkan peralatannya.

__ADS_1


"Hem pagi!"


"Siapa gadis ini?" Tanya Dokter dengan nama tag Sastra itu curiga.


"Bukan urusan anda."


Damn...


Putra keluarga wang ini tak ada bedanya dengan Tuan Everett sama-sama menyebalkan. Pikir dokter sasta sambil memeriksa keadaan Cici.


"Dia hanya demam, diakibatkan kurang tidur dan terlalu banyak pikiran. Di sarankan agar banyak beristirahat dan untuk resepnya silakan ambil di apotik"


"Hem, anda yakin hanya demam?" Tanya Nolan memastikan.


"Iya, jika tuan belum yakin. Nona bisa di cek kembali ke rumah sakit" jawabnya memberikan coretan resep obat yang ia tulis pada selembar kertas pada pelayan yang sedari tadi setia berdiri di samping kasur Cici.


“Kalau begitu saya permisi” pamitnya


“Bibi Naya akan mengantar anda. Terima kasih” jawab Nolan di angguki dokter Sastra pelan.


Sepeninggal dokter Sastra , Nolan duduk di pinggiran kasur Cici. Mengamati wajah manis yang terlihat pucat itu lekat-lekat, tangannya pun secara spontan bergerak mengelus rambut panjang itu pelan.


“Get well son. Cantik” ucapnya tanpa sadar.


Melihat gadis yang biasanya ceria itu tengah terbaring lemah membuat perasaan tidak nyaman menghampiri perasaan Nolan.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2