Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
S2-Telat menjemput


__ADS_3

HAPPY READING AND ENJOY!


"Tuan besar sudah mengabari saya satu minggu lalu terkait kepindahan tuan muda kesini, seperti yang tuan dan nyonya inginkan pihak kampus akan memperlakukan dan memberikan pengajaran seperti mahasiswa dan mahasiswi pada umumnya" jelas Habi selaku pemimpin kampus tempat dimana Nadeo melanjutkan studinya.


"Panggil saya Nadeo saja, jujur saya merasa lebih nyaman jika bapak tidak memberi label tuan muda ketika kita bicara. Disini saya hanya mahasiswa biasa sama seperti yang lainnya"


Habi tersenyum kecil, tadinya ia pikir Nadeo adalah sosok pemuda keras jika di lihat dari penampilannya. Celana jeans robek di lutut, rambut sedikit acak-acakan dengan anting di sebelah kiri yang berwarna hitam.


"Kalau begitu saya permisi" pamit Nadeo sebelum meninggalkan ruangan Habi.


Nadeo akui Ayahnya memang sosok yang hebat, selain berkecimpung didunia bisnis ayahnya juga mendirikan kampus dan beberapa sekolah swasta yang ada di Jakarta. 


"Pantes bunda bucin banget sama ayah" kekeh Nodeo 


Bruk…


"Sorry gue gak sengaja" ucapan dengan nada suara pelan itu mengalihkan perhatian Nadeo.


"Gue lagi buru-buru" sambungnya lagi.


"Gak masalah" jawab Nadeo kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Lo mahasiswa baru?"


"Hm"


"Gue Ajeng"

__ADS_1


Nadeo menatap gadis berambut sebahu dengan kemeja kotak di hadapannya datar, lalu tersenyum kecil seraya membalas uluran tangan Ajeng yang masih menanti uluran tangannya.


"Nadeo!"


"Salam kenal, Gue duluan ya. Sekali lagi sorry buat yang tadi" ucapnya sebelum berlarian meninggalkan Nadeo yang terlihat tidak peduli.


"Pukul 9. 12 menit" gumam Nadeo melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Masih ada banyak waktu luang sebelum menjemput Niken, sebaiknya Nadeo menghabiskan waktunya di galeri saja, selama di Jakarta ia belum sempat mengunjungi salah satu galeri seninya.


***


"Welcome brodi!!!" Suara berat itu menyapa kedatangan Nadeo yang baru saja memasuki galerinya.


"Gimana kabar lo? Makin ganteng aja" ucap pria dengan kemeja putih itu ramah, Namanya Andi teman sekaligus partner Nadeo di dunia seni.


Nadeo tersenyum tulus, lalu memeluk Andi ala pria " Seperti yang lo liat, gue sehat"


"Gue usahain"


Andi mengangguk lalu beranjak memasuki ruangan tempat dimana ia memahat karya seni.


Nadeo diam seraya mengamati ruangan luas dengan pernak pernik karya seni itu dengan mata berbinar-binar, Nadeo begitu bersyukur mengenal Andi, pria itu begitu gigih dan tulus menjaga galerinya.


"Bulan depan ada pameran dan lo wajib ikut, udah lama juga kan gak ke pameran" ucap Andi di angguki Nadeo dengan pasti.


"SAATNYA BERSENI!!" Teriak keduanya lalu tertawa kecil dengan tangan yang saling merangkul.

__ADS_1


Kring…kring..kring


Alarm ponsel Nadeo berbunyi membuat pria itu menghentikan aktivitasnya, wajahnya yang tadi bersih tanpa noda kini terlihat sedikit kotor akibat pahatan kayu yang tengah ia kerjakan.


"Kenapa?" Tanya Andi 


"Gue harus pulang"


Andi melirik jam dinding yang berada di sudut ruangan yang menunjukkan pukul 3 kurang 15 menit, biasanya Nadeo akan menghabiskan waktunya di galeri hingga larut malam.


"Gue harus jemput anak uncle Derry, gue duluan!" Pamit Nadeo meninggalkan Andi dan beberapa rekannya yang lain.


***


Wajah cantik dengan pipi menggembung itu menghempaskan kakinya kesal, sudah setengah jam ia berdiri di depan gerbang sekolah. Kalau saja ponselnya tidak mati sudah sedari tadi ia memesan taksi online.


"Brengsek" umpatnya menggeram marah.


"Ayo, gue anter lo udah setengah jam berdiri disini" tawaran itu sedari tadi  tidak di hiraukan Niken sama sekali.


"Gak makasih! Gue gak butuh"


"Ck! Keras kepala. Nan___"


"Sorry gue telat, tadi kejebak macet" 


Tidak ada jawaban dari Niken, gadis itu langsung masuk kedalam mobil dengan wajah masam tidak lupa memberikan tatapan marah kepada Nadeo.

__ADS_1


"Sabar, orang sabar rezekinya melimpah" gumam Nadeo mengelus dadanya.


BERSAMBUNG…


__ADS_2